Sebuah Flashback tentang Perjalanan Pertama Ke Negeri Asing, Sendiri.
2-7 MARET, 2015.
MEDAN-BANGKOK-VIETNAM.
Bagaimana rasanya seorang perempuan sendirian ke luar negeri? Tanpa sanak saudara, tanpa teman seperjalanan. Vietnam, negara yang sebelumnya tak terfikir sama sekali akan berada disini. Tapi Alhamdulillah, berkat ASEAN Youth Friendship Network, semuanya menjadi mungkin. Ah tidak, bukan mungkin tapi real.
Mulai dari ketagihan kopi pinggir jalan hingga sensai UNIK menyentuh tempat nangkringnya lebah, seminggu di Vietnam punya banyak cerita yang ingin saya bagi.
Mari, semoga kalianpun dapat menikmati cerita ini :)
Sebuah email masuk menarik perhatian saya. Bukan apa-apa, sudah jarang sekali rasanya menerima email yang “berbahasa Inggris” kecuali dari tugas yang dikirim ke dosen, pun biasanya hanya ucapan “your email has been accepted” dan kata-kata singkat lainnya. Lain halnya kali ini, emailnya berbahasa Inggris, dan diawali dengan “CONGRATULATIONS!”. Apa gerangan? Ternyata saya lupa bahwa memang sudah tanggalnya pengumuman selected delegates ( peserta terpilih ) untuk program IVYFP ( Indonesian-Vietnamese Youth Friendship Program) 2015.
IVYFP merupakan short term exchange program dari AYFN ( http://ayfnhq.org/ ). Dari nama kegiatannya , sudah bisa memberi gambaran kalau ini program yang bertujuan untuk menjalin “friendship” atau hubungan pertemanan yang baik antara pemuda Indonesia dan Vietnam.
Persiapan
Menurut saya tantangan terbesar waktu itu adalah Dana dan Izin orang tua.
Soal izin ke orang tua
Saya sejak dulu setiap mengikuti kegiatan sebisa mungkin tidak membebani orang tua. Terutama soal dana. Biasanya, saya baru akan memberitahu keberangkatan H-3 ( malah yang ke Vietnam ini H-1 :’D) , ketika semua sudah pasti. Dan karena ini perjalanan ke luar negeri, ditambah lagi sendiri, saya lumayan memutar otak bagaimana cara menyampaikannya ke orang tua. Tentang kegiatannya, siapa penyelenggara, keamanan disana, bagaimana di bandara, dan banyak lagi. Wajar saja orang tua khawatir, karena saya berangkat sendiri alias delegasi tunggal. Dari Sumatera ada 2 orang perwakilan, Edwin dari Palembang, dan saya sendiri dari Medan.
Soal Dana Kegiatan
Walaupun sifat kegiatan ini self-funded, teman-teman jangan berkecil hati dulu. Karena ada 1000 jalan menuju Vietnam :D Kuncinya adalah berani dulu mencoba ;)
Setelah diberitahu lulus, yang pertama harus dipersiapkan adalah PASSPOR. Saya cukup kelabakan karena sebelumnya belum pernah membuat passpor. Jadi terimakasih pada IVYFP akhirnya saya buat passpor :D
Dalam pembuatan passpor, terjadi hal yang sangat tidak saya perkirakan. Karena sebelum pengurusan, saya sempat kecopetan dan semua kartu identitas saya hilang. Yah,, ini Medan Bung! T.T
Untungnya pihak AYFN memberikan saya keringanan sehingga saya akhirnya dapat mengirimkan scan passpor menyusul. Nah! Ini dia yang kamu juga jangan sampai lupa. Konfirmasikanlah apapun yang kamu belum 100% yakin dengan pihak penyelenggara kegiatan. Jangan ragu-ragu untuk menanyakan A-Z kegiatan. Kalau ada kendala terkait persiapan keberangkatan, informasikanlah dengan pihak penyelenggara. Ingat! Kamu di luar negeri! Diluar dari excitement kamu untuk wara-wiri di spot-spot menariknya, kamu harus aware juga untuk segala kemungkinan. Persiapkan semua dengan sangat sangat matang.
Sambil urus passpor, saya sambil mengurus proposal dana. Ya, karena ini self-funded, memang usahanya harus double jika dibandingkan yang fully-funded. Tapi kesempatan baik jangan dilewatkan begitu saja ya :)
Untuk memperoleh dana kegiatan ada beberapa yang dapat teman-teman lakukan :
Audiensi ke universitas/rektorat untuk membantu pendanaan kegiatan. Saya sangat bersyukur karena sejauh ini hampir semua kegiatan yang saya ikuti disubsidi universitas untuk transportasi PP, dan ada juga event yang fully funded. Jadi untuk biaya selama saya kegiatan dan transportasi Alhamdulillah tidak memberatkan Orang Tua.
Sponsorship. Kalau boleh jujur ini lumayan memakan waktu dan tenaga. Saya coba hampir ke semua sponsor yang memungkinkan. Pihak maskapai penerbangan saya hubungi untuk sponsor tiket, pihak swasta dan pemerintah juga saya kontak. Semuanya karena kebaikan hati pihak kampus dan dosen juga yang banyak memberi rekomendasi sponsor. Kalau teman-teman butuh contoh proposal, silahkan download di: https://www.academia.edu/20204845/S…
Soft Loan. Ini cara terakhir yang bisa teman-teman lakukan. Soft loan disini dana sukarela/pinjaman dari orang yang teman-teman kenal. Alhamdulillah saya mendapatkan softloan dari dosen dan beberapa teman lainnya. Sangat membantu untuk beberapa hal. Tapi saya tidak menyarankan teman-teman untuk langsung mengandalkan soft loan. Ingat ya, ini terakhir sekali. Kalau sudah buntu, diskusikanlah dengan orang yang kamu percaya, bisa dosen atau teman yang sudah berpengalaman sponsorship sebelumnya. Tanyakan alternatif lain untuk memperoleh dana. Tapi ingat ya, Jangan mengandalkan soft loan. Selain terasa kurang etis, ada baiknya usahalah dulu mencari ya teman-teman. Semangat!
Selama pencarian sponsor, saya tidak menunggu konfirmasi dulu dari 1 pihak lalu saya coba yang lain. Karena gambling dan wasting time. Jadi, sembari menunggu kabar dari kampus, saya juga keliling dari calon sponsor 1 ke yang lain. Sekitar 2 bulan setengah saya proses sponsorship. Alhamdulillah dengan flight ticket PP disubsidi kampus, dan participant fee tercover oleh sponsor, soft loan, dan hasil beasiswa PPA.
Sebelum ke Vietnam, saya sempatkan mengcopy kartu identitas penting dan saya sebar di beberapa tempat penyimpanan ( dompet, ransel, koper, dll). Tujuannya sih agar jika ada kejadian yang tidak diinginkan, setidaknya saya ada kartu identitas yang bsa membantu menjamin bahwa saya WNI yang melakukan perjalanan resmi (jelas tujuannya) dan dapat mengkontak KBRI.
3. Selama Kegiatan
Wah ini sangat panjang penjelasannya :D
Sekitar 7 hari di Vietnam, kegiatan yang dilakukan adalah berkunjung ke Vietnam National University & salah satu sekolah di sana. Selain kegiatan sosial, juga promosi kebudayaan Indonesia. 2015 lalu, yang saya dan teman-teman IVYFP kunjungi adalah Cu Chi Tunnel, Delta Mekong, Saigon Notre-Dame Basilica, Konjen RI, dan beberapa spot lain di Ho Chi Minh.
Salah satu hal yang berkesan selama disana adalah budaya makan mereka. Selama di Ho Chi Minh, makanannya didominasi sayuran-sayuran. Uniknya, bahkan dalam makan buah, orang Vietnam memiliki urutan buah mana yang harus dimakan terlebih dulu. Biasanya buah yang manis dimakan terakhir.
Foto-foto selama kegiatan dapat teman-teman lihat disini : https://www.facebook.com/SaragihBerdialog/media_set?set=a.887699791251920.100000357228397&type=3
Day 1 : Monday, March 1 2015
Berangkat dari Medan dengan penerbangan siang, dan kemudian tiba di Don Mueang International Airport ( Bangkok) sekitar jam 4 sore WIB. Setiba disana, lumayan kaget. Karena mayoritas masyarakatnya tidak lancar berbahasa Inggris, bahkan untuk pegawai Bandara :(
Karena perut mulai lapar, saya pun nekat makan bekal yang dibawa dari Medan ( baca : penghematan :D ). Rasanya? Hmm, waktu itu berjilbab sendirian, dan sekeliling saya tidak ada tanda2 muslim lain (misal pakai sorban dll.), jadi cukup kikuk juga karena menjadi sosok yang mudah menyita perhatian disana. Tapi Alhamdulillah, selang 1 jam menunggu, saya disapa dengan bahasa Indonesia oleh penumpang lain. Senang bukan kepalang sekaligus penasaran. Ternyata ada WNI yang bekerja di Yangoon sedang menunggu penerbangan juga. Sayangnya catatan saya yang isinya nama, email, dan nomor HP pada hilang T.T jadi saya lupa namanya. Tapi untung sempat ambil foto walaupun muka saya absurd ;D
#gallery-0-49 { margin: auto; } #gallery-0-49 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 33%; } #gallery-0-49 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-49 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Penerbangan dari Don Mueang menuju Ho Chi Minh sempat delay sekitar hampir 2 jam. Setelah melanjutkan penerbangan akhirnya saya tiba di Ho Chi Minh. Pukul 9.30 WIB saya tiba di Tan Son Nhat International Airport. Terimakasih Henri ( Ho Hieu ) dari Vietnam National University/ USSH dan Mas Setyawan dari AYFN sudah dijemput :) Pertama kali sambut di bandara dengan board bertuliskan “DESI LIA – INDONESIA”. Ahay! :D
#gallery-0-50 { margin: auto; } #gallery-0-50 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 100%; } #gallery-0-50 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-50 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Day 2 in Vietnam
Sunday, March 02 2015
Bangun pagi karena tempat menginap mulai banyak suara :D Ternyata anak-anak yang lain sudah tiba di vietnam. Alhasil setelah mandi langsung sapa dan bareng-bareng cari sarapan. Karena mereka baru tiba dinihari, jadi setelah sarapan banyak yang langsung istirahat. Saya dan Ipul yang tiba terlebih dulu lantas memutuskan untuk membolang :D Makasih Ipul buaya air dari UNPAD :’D
Disini ada 2 tempat yang kami kunjungi. Karena tidak jauh dan memang ingin melihat-lihat, kami putuskan untuk berjalan kaki. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Bưu điện Việt Nam atau Saigoon Post Office. Bangunan orange ini salah satu destinasi wisata wajib jika berkunjung ke Ho Chi Minh. Kantor pos ini selain untuk mengirimkan barang, ada juga yang menjual kartu post, oleh-oleh khas, dan miniatur kota dari kertas (lihat gambar dibawah). Untuk kisaran harga, terutama bagi yang tidak ahli tawar-menawar, harga di kantor pos paling standar. Karena di Ben Tanh harganya bisa 2-3x lipat dan harus ditawar lagi. Kantor pos tutup jam 10 malam dan mulai buka pagi sekitar jam 8.
#gallery-0-51 { margin: auto; } #gallery-0-51 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-51 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-51 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Tak jauh dari kantor pos, kami mengunjungi Notre–Dame Cathedral Basilica of Saigon .
Basilika Notre-Dame Saigon, yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata adalah sebuah katedral yang terletak di pusat kota Ho Chi Minh City, Vietnam. Dibangun oleh kolonialis Perancis, katedral tersebut dibangun antara 1863 dan 1880.
Sekeliling bangunan tampak seperti suasana Eropa dengan ciri khas bangunannya. Sayangnya, waktu itu sedang ada renovasi jadi tidak semua bagian bangunan dapat dimasuki.
Day 3 in Vietnam , Tuesday March 3 2015
Sesuai rundown, kegiatan hari ini tentang perkenalan budaya, khususnya bahasa antara Indonesia dan Vietnam dan dilanjutkan dengan Seminar on ASEAN Youth and ASEAN Economic Community Discussion. Untuk perkenalan bahasa ada Kang Iwang dan Kang Bondan, dan Saya dan Nurul kebagian presentasi soal heritage lain. Ada games seru juga untuk membuat bahasa Indonesia dari beragam kata buah dan sayuran :’D seru dan menyenangkan!
Saya acungi jempol untuk teman-teman USSH yang fasih berbahasa Indonesia dan beberapa bahasa ASEAN. Ekspektasi sebelum berangkat, saya akan menggunakan bahasa Inggris sebagai baha keseharian. Ternyata malah sering menggunakan bahasa Indonesia yang baku karena teman-teman USSH yang kebanyakan sudah bisa berbahasa Indonesia. Dari sejak pertama saya mengikuti kegiatan di hari ketiga ini, sudah terlihat sekali keseriusan mereka untuk menghadapai ASEAN Economic Community. Banyak dari mereka yang memang mempelajari bahasa ASEAN seperti bahasa Indonesia, Bahasa Thailand, bahkan ada juga yang mampu berbahasa Arab. Luar biasa! Nah loh, ternyata bisa bahasa Inggris saja belum cukup. Mari belajar lagi :)
#gallery-0-52 { margin: auto; } #gallery-0-52 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-52 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-52 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Sepulang dari seminar dan makan siang di DMA Canteen, kami langsung terbang menjelajah malam Ho Chi Minh. Kedua kalinya mengunjungi kembali Saigon Post Office dan Notre-Damme, lalu dilanjutkan beli buah tangan di Benh Tanh Market, dan makan malam di Pho 2000. ( Bukan promosi ini serius harga ter-standar dengan porsi ter-lumayan :D ). Selama di Ho Chi Minh, sarapan-makan siang-makan malam hampir selalu makan Pho ( sejenis mie berkuah kalau di Indonesia). Makanannya memang didominasi sayuran, malah teman saya yang orang Vietnam bilang, kalau tidak ada sayuran namanya bukan makanan Vietnam. Mantab! Berarti mereka sehat-bugar ;)
Ada 2 hal yang saya ingat dari Pho. Pertama, awal mencicipi terasa hambar. Kalau Kata Mas Bondan (salah satu peserta) orang Indonesia terbiasa makan micin mie instan yang bumbunya seabrek, kontras sekali dengan Pho yang cuma dikasih garam, merica, dan kaldu. Namun setelah saya terbiasa, ternyata rasanya enak broh! enak-enak sehat :D Malah ketika balik ke Indonesia dan makan mie, gantian mie instannya yang rasanya aneh. Kedua, awal-awal makan Pho, saya tidak pernah berhasil menghabiskan 1 mangkok! Mas Ahmad menjadi penyelamatku dari kemubaziran. Serius! Malah katanya dia bisa kenyang dengan semangkuk Pho yang dibagi dua dengan saya, sangkin banyaknya Pho yang tidak bisa saya makan :( . Oke, goal pertama sebelum balik ke Indonesia adalah makan Pho dan habis 1 mangkok! :D Guess what? Setelah mengurangi porsi makan siang, ditambah wara-wiri di Benh Tanh, akhirnya malam itu saya habiskan 1 mangkok Pho :D Senang ya?? Bahagia sederhana untuk beberapa orang :P
#gallery-0-53 { margin: auto; } #gallery-0-53 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 100%; } #gallery-0-53 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-53 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Suasana di dalam Saigon Post Office
Foto bersama dengan kantor pos versi gemerlap
Kiri-Kanan : Kang Iwang dan Bayu
Edwin, dari Palembang dan peserta termuda ( SMA )
Pho perdana yang akhirnya habis dimakan !
Day 4 in Vietnam : Wednesday , March 4 2015
Hari ini jadwalnya war tour ke Cu Chi Tunnel dan mengunjungi KJRI.
Yang unik dari Cu Chi Tunnel adalah kita mungkin saja sedang berjalan diatas terowongan bawah tanah tanpa mengetahuinya. Terowongan yang dibangun selama 70 tahun oleh pejuang kemerdekaan Vietnam ketika masa perang Amerika-Vietnam memang luar biasa panjangnya. Sangkin panjangnya, menurut Bu Titin 3 jam perjalanan kami melihat-lihat masih sebagian kecilnya saja. Sudah terbayang belum panjangnya? >,<
Begitu memasuki Cu Chi Tunnel, kita langsung diberikan stiker & guide book. Usut punya usut, bahkan wanita pun ikut berperan dalam membangun terowongan loh! Jadi selama peperangan, para wanita ada yang ikut membantu membuat terowongan dan ada juga yang dengan sembunyi-sembunyi mengantarkan logistik ke jalur-jalur rahasia.
Terowongan pada masa itu dibangun dengan peralatan sederhana berupa arit, palu dan serokan tanah sederhana. Selama menyusuri Cu Chi Tunnel, ada beberapa lubang kecil sebagai jalur masuk terowongan rahasia. Dulu lubang bertutupkan kayu itu akan dilapisi lagi dengan daunan kering agar makin tersamarkan dan tidak diketahui oleh prajurit Amerika. Saya sempat mencoba masuk ke lubang dan benar saja didalamnya ada terowongan luas yang gelap dan pengap berdinding tanah. Pada beberapa titik, akan ditemukan gundukan-gundukan seolah gundukan tanah biasa. Padahal sebenarnya gundukan itu adalah cara untuk meredam asap dari aktifitas di dalam tanah, misalnya dalam pembuatan senjata, dapur umum, dll. Ada juga gundukan yang berlubang-lubang kecil seperti lubang semut, dimana fungsi lubang itu adalah sebagai jalur masuknya udara.
Untuk mengecoh tentara Amerika, beberapa jalur masuk terowongan palsu dibuat seperti yang tampak pada gambar di bawah. Sengaja dibuat demikian agar tentara Amerika tertipu dan kemudian tersesat di dalam terowongan yang terkadang buntu dan kadang tidak diketahui dimana ujungnya.
#gallery-0-54 { margin: auto; } #gallery-0-54 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-54 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-54 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
pintu masuk
video tentang Cu Chi Tunnel dengan mini peta
Salah satu turis asal Jepang mencoba masuk ke terowongan
cara bersembunyi : menutupi penutup terowongan dengan daun kering
terowongan palsu
Gundukan untuk meredam asap dari dalam terowongan
Suasana di dalam terowongan
Patung tentara Vietnam
Yang namanya perang tidak luput dari senjata bukan? Selain terowongan, di Cu Chi Tunnel juga ada arena tembak ( 100.000 Dong untuk 2-3 peluru ) , miniatur senjata, dan lainnya.
Di sepanjang jalur, ada berbagai jebakan ngeri yang tersebar dan tersembunyi. Namun untuk keperluan wisata, beberapa sengaja dibuat display nya dengan pagar pelindung di sekeliling. Jebakannya pada masa itu dibuat dari besi dan bambu runcing. Ada yang dipasang dibalik pintu rumah warga ( bisa dibayangkan ketika tentara menyerbu rumah warga, bukan disambut sama warga malah disambut bambu runcing. Hiiiy seram sekali!) , ada yang tersembunyi di dalam tanah ( bisa dilihat di gambar, ada ilustrasi tentara yang menginjakkan kakinya akan terkena jebakan), dan lainnya. Disini juga ada satu tempat yang menggambarkan proses pembuatan senjata.
Setelah berkeliling, kami disuguhi makanan khas pada zaman peperangan waktu itu, Ubi rebus dan sejenis kacang yang ditumbuk dan teh sebagai pelengkap. Rasanya? Nikmat dan lengkap dengan suasana Cu Chi Tunnel , serasa nostalgia ke zaman lalu.
#gallery-0-55 { margin: auto; } #gallery-0-55 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-55 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-55 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
jebakan di dalam tanah
Jebakan dibalik pintu
Ilustrasi pembuatan senjata
miniatur senjata
Ubi reus dan sejenis kacang tumbuk yang nyummy
Dari Cu Chi Tunnel, karena keburu waktu akhirnya kami langsung menuju KJRI. Disini kami ramah tamah dengan bapak Jean Annes dan Ibu Desi. Kami juga disuguhkan makanan Indonesia, mengobati kerinduan dengan kuliner tanah air.
#gallery-0-56 { margin: auto; } #gallery-0-56 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-56 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-56 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Day 5 in Vietnam : Thursday, March 5 2015
Performance Day!
#gallery-0-57 { margin: auto; } #gallery-0-57 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 100%; } #gallery-0-57 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-57 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Day 6 : Friday, March 6 2015
Hari ini saya dan teman-teman mengunjungi Tien Giang Province untuk Cultural exchange to Cho Gao High School. Selain cultural performance, ada juga pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi oleh AYFN.
#gallery-0-58 { margin: auto; } #gallery-0-58 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 100%; } #gallery-0-58 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-58 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Dari Tien Giang, lanjut ke Delta Mekong. Perjalanan ditempuh dengan bus menuju pelabuhan perahu. Setibanya di perahu, mengisi waktu menunggu tiba di lokasi Ibu Titin menyanyikan lagu Bengawan Solo, nostalgia masa-masa lalu katanya :D
Sungai Mekong adalah salah satu sungai yang terpanjang di Asia dan salah satu sungai utama di dunia, berada di negara kamboja kemudian mengalir melalui China provinsi Yunnan, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam.
Secara panorama, sungai Mekong mirip dengan sungai Kapuas di Kalimantan. Menurut saya yang menjadi pembeda adalah pemerintah Vietnam berhasil mengembangkan kawasan Sungai Mekong menjadi destinasi wisata menarik.
Setibanya di lokasi, makan siang sudah menunggu. Kembali sayuran disajikan berikut pelengkapnya ikan goreng dan makanan mirip bungkus lumpia. Kami meracik sendiri isi dari lumpianya. Cukup dibasahi sedikit dengan air, diberi isian berupa daging dan sayuran sesuai selera, lalu dibungkus dan dimakan. Rasanya wenakkk. Kata Mbak Pratiwi dari Surabaya, ini tidak cukup satu :D :D
Perut kenyang, perjalanan kami lanjutkan. Tak jauh dari lokasi makan siang, kami sudah menemukan destinasi wisata baru. Sebuah lokasi yang juga ramai dengan turis dari mancanegara. Kembali kami duduk dan disajikan teh. Teh unik dari sarang lebah yang ditambahkan madu. Disajikan lengkap dengan buah-buahan dari yang asam-segar hingga manis. Menurut adatnya, buah yang manis di makan terakhir. Tidak hanya teh yang unik, kami juga ditantang untuk mencicipi madu langsung dari sarangnya >_< dan terang saja, sensasi geli dan takut bercampur jadi satu, tapi jujur madunya beneran beda dari yang botolan.
#gallery-0-59 { margin: auto; } #gallery-0-59 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-0-59 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-59 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Mas Bondan dan Mbak Dewi
Lumpia
Ini enak aslinya ;)
Penyair + Penyanyi di Delta Mekong
Dengan Tami :)
Bayu, yang wajahnya berubah ketika LAFARR :D
Sepulang dari Delta Mekong, acara selanjutnya adalah farewell dinner. Makan malam terakhir dengan teman-teman yang luar biasa :’ . Terimakasih banyak untuk seminggu yang memorable :)
Vietnam dan Indonesia ternyata memiliki kekerabatan yang jauh lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan. Teman-teman dari USSH bahkan memiliki nama Indonesia masing-masing. Nguyen Quyn Chi ( Bunga ), Tam Anh ( Tamy ), Minh Phuong ( Venia ), dan banyak lagi. Terimakasih Ibu Titin, Teman-teman USSH, AYFN dan Mas Setyawan, semua teman-teman IVYFP 2015, dan KJRI di Vietnam Bapak Jean Annes dan Ibu Desi, dan semua pihak yang membuat saya dapat merasakan pengalaman luar biasa ini :)
CẢM ƠN Vietnam ^_^
Peserta IVYFP 2015
Edwin dan Mas Ahmad :)
Embrace Diversity :)
Mbak Yuli
Bunga ;)
Mbak Yulan, Ibu Dokter ><
Venia (kanan saya) , Yeni (kiri saya))
Feby, yang ternyata seangkatan ><
Mas Bobby arek Suroboyo dan Kang Iwang a
Mbak Alfi yang imut syekalii ;D
Indonesian-Vietnamese Youth Friendship Program Sebuah Flashback tentang Perjalanan Pertama Ke Negeri Asing, Sendiri. 2-7 MARET, 2015. MEDAN-BANGKOK-VIETNAM.













