Color Me Curious
Not today Justin

bliss lane
★

tannertan36
almost home

❣ Chile in a Photography ❣
sheepfilms
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost
Show & Tell

Jar Jar Binks Fan Club
Game of Thrones Daily
NASA

#extradirty
Cookie Run:Kingdom Official!

Product Placement
Phantogram Three
occasionally subtle
KIROKAZE

seen from Germany
seen from Ecuador
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Canada
seen from United States
seen from Germany

seen from Canada
seen from Malaysia
seen from United States
@lenyindah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Selalu ingat kalimat yang dikeluarkan seorang teman sebagai alasan dia masih betah ada di kampus dan belum ingin mengakhiri kehidupan mahasiswanya.
'Mumpung masih bisa idealis, kalo udah lulus, cari kerja, bakal susah banget mempertahankan idealisme dalam berkarya.'
Satu tahun yang lalu, akhirnya aku lulus bareng orang yang bilang ini. Ya, dia bekerja di tempat yang memang sudah semestinya. Rasanya memang pantas dirinya menjadi seorang arsitek. Menyenangkan melihatnya bermain dengan idenya.
Aku pun. Aku bekerja di sebuah konsultan arsitek. Aku semakin merasa mimpiku akan semakin dekat. Tapi, kalau harus dibandingkan, aku berjalan lebih lambat bahkan sangat lambat.
Apakah ini karena idealisme yang masih aku pertahankan?
Rasanya seperti sedikit tidak ikhlas untuk menjalani. Padahal ini adalah cita-citaku. Tapi memang, orang tua tidak akan mau mengerti tentang cita-citaku. Cita-citaku adalah hal baru. Kami dari keluarga miskin yang tidak tahu tentang kehidupan nyata di seluruh permukaan bumi, yang mereka tahu hanya disekelilingnya.
Berat.
Aku terus menunggu, sampai sekarang. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bersabar.
Sambil menunggu, ada hal yang selalu membuatku senang. Teman-temanku yang gembira melihatku berkarya dengan cara lain. Sanjungan, pujian, harapan bahkan kesempatan aku dapatkan. Aku tahu ini peluang besar. Tapi aku masih ingin memiliki kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa menjadi apa yang aku cita-citakan.
'Daripada menunggu lama, lebih baik kamu cari kesempatan lain. Mungkin memang benar kamu harus melepasnya. Dan mulai melihat jalan lain yang membuatmu terlihat hidup.'
Begitu kata temanku.
Aku percaya aku masih bisa bertahan. Aku bisa mempertahankan cita-citaku. Tuhan hanya memerlukan diriku untuk bersabar dan berusaha dengan ikhlas. Iya. Hubunganku dengan Tuhan akhir-akhir ini memang kurang baik. Mungkin, aku memang harus bersujud lebih lama dan berusaha lebih keras.
Popular Books that I’ve Read in 2018
Mumpung baru seminggu, rasa tahun baru masih anget ya. Toh saya masih sabar menunggu kalo emang harus 2019 ganti presiden walaupun udah telat 7 hari. Saya memaklumi kebiasaan kita yang suka ngaret kok :) ck, hal biasa kayak gituaaan.
Banyak orang membat kaleidoskop hidup dan membuat rencana untuk kehidupan mereka selanjutnya di tahun yang baru ini. Saya pun begitu. Tapi kali ini saya mau cerita ke kalian tentang buku-buku saya beli dan saya baca karena menurut saya ini menarik dan bagus. Bahkan rasanya karena membaca buku, saya merasa memiliki teman baik.
Sejak tahun 2017, saya mencoba untuk membaca 1 buku dalam 1 bulan. Selama itu, saya hanya menyelesaikan 4 buku dalam satu tahun. Mulai 2018, saya mencoba selalu menyisihkan uang untuk membeli buku dengan budget maksimal 100.000. Dan mulai saat itu, saya mencoba untuk menciptakan konsistensi dalam membaca buku.
Saya bakal cerita proses dapet buku-buku saya sampe menilai pake alesan ya.
1. Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya (Rusdi Mathari)
Buku pertama yang saya baca adalah karya Rusdi Mathari terbitan Mojok. Buku ini saya beli tahun 2017 karena ada promo harga dari terbitan Mojok waktu itu. Milih buku ini karena sarkas aja gitu judulnya. Saya anggurin ini buku karna lagi ngurusin Tugas Akhir yang tak kunjung henti. Akhirnya 2018 mulai saya baca lagi (udah sempet dibaca cuma di halaman awal-awal aja.
Saya kasih nilai 8/10 untuk buku ini. Kenapa? Buku ini punya cerita-cerita yang ringan banget buat dibaca. Sebetulnya setiap chapter halamannya nggak banyak, tapi setiap chapter itu selalu punya value yang ditimbulkan dan kita bisa belajar tentang hidup. Latar belakang yang mengambil setting budaya jawa dan islam kejawen membuat saya merasakan kesederhanaan dalam hidup. Satu yang saya bisa pelajari dari cerita ini adalah keikhlasan.
Kalau kalian sudah tau siapa itu Rusdi Mathari, mungkin kalian tidak akan heran dengan penyampaian-penyampaian cerita ini.
2. Setengah Jalan (Ernest Prakasa)
Pas memutuskan untuk membeli buku ini rasanya sayang banget. Niatnya ke Gramedia mau beli komik sama beli buku rekomendasi teman, ternyata yang terjadi adalah membeli buku rekomendasi teman dan buku ini. Sebel karena buku ini nyempil diantara banyak komik yang ingin saya beli. Tapi sungguh saya suka banget sama Cek Toko Sebelah (the only indoensian movie that made me cry). Awalnya, yaudah masih disegel aja ini buku. Cuma karena saya suka aja sama filmnya Koh Ernest, terus saya beli. Udah gitu doang.
Saking penasarannya saya karena sinopsisnya lebih menarik daripada buku rekomendasi teman, akhirnya saya baca buku ini dulu dan ternyata dalam waktu 4 hari selesai, ngga kerasa.
Saya kasih nilai 8/10 untuk buku ini. Pada akhirnya saya ngga terlalu nyesel baca buku ini. Setidaknya walaupun saya ngga bisa nonton tour nya, saya bisa baca konsep beliau untuk tour Setengah Jalan beliau. Buku ini punya banyak ilustrasi yang bikin kita ngga bosen buat baca (ini juga alesan kenapa bacanya bisa 4 hari selesai -yha karna tipis juga sih-). Koh ernest nyeritain tentang kegigihannya selama berproses menuju umur 30an hingga menjadi seorang bapak-bapak yang sukses versinya beliau. Keren!
3. Time Of Your Life (Rando Kim)
Buku ini saya beli bareng sama Bukunya Koh Ernest. Yup, buku ini adalah buku rekomendasi teman. Setelah selesai membaca buku Setengah Jalan, saya cukup senang untuk membaca buku ini. Rasanya kayak nemuin banyak solusi disaat saya merupakan apa yang dikatakan cover buku tersebut. Waktu itu, saya semakin dekat dengan sidang akhir Tugas Akhir dan buku ini mengantarkan saya untuk menciptakan banyak rencana untuk mempertahankan kebahagiaan diri.
Nilai untuk buku ini 9/10 karena buku ini bener-bener membuat saya bisa menciptakan karya yang banyak orang sukaaaaaa. Sekali lagi saya membaca buku tentang kisah hidup seseorang di masa muda yang menjalaninya dengan ketulusan, sabar, dan dengan bahagia. Banyak sekali value yang bisa saya ambil dan saya bagikan kepada teman-teman melalui karya saya.
4. Oliver Twist (Charles Dickens)
Saya beli buku ini karena saya inget banget Oliver Twist adalah buku novel terjemahan pertama yang saya baca dan selalu saya baca di perpustakaan sekolah karena tidak boleh dibawa pulang. Teringat saya sama hal ini, saya beli versi english words nya. Siapa tau yha saya bisa kuat baca buku sebegitu tebelnya, tulisan dengan font 11 Times New Roman di kertas burem, ya holloooh. Cuma beberapa chapter aja becoz its words is so british, jadi saya putuskan untuk skip ke buku lain. Yaudah pada akhirnya beli buku ini cuma mau bernostalgia aja sama masa lalu.
5. Amor Fati (Rando Kim)
Ini adalah buku pasangan Time of Your Life nya Rando Kim. Buku ini saya beli karena saya suka sama buku pertamanya dan penasaran dengan buku kedua ini. Saat saya membaca buku ini adalah saat dimana saya mulai menjalankan kehidupan sebagai seorang karyawan. Buku ini sangat menampar.
Nilai untuk buku ini adalah 9/10. Buku ini sungguh cukup menampar tentang kehidupan kami semua sebagai seseorang yang selalu berusaha menciptakan kedewasaaan seiring dalam diri membutuhkan rasa cinta atas semua takdir yang telah dimiliki.
6. Le Petit Prince (Antoine De Saint-Exupery)
Buku ini adalah buku yang paling saya buru di tahun 2018 dan akhirnya bisa menemukan buku ini ngga sengaja di saat udah pegang buku yang mau di bayar. Buku ini jadi buku yang paling saya buru karena saya duluan nonton film animasinya. Konsep cerita ini sungguh sangat brilian. Begita saya tau kalau film yang saya tonton dengan Judul Little Prince ini adalah adaptasi dari sebuah buku, saya langsung menjadikan buku ini sebagai buku yang akan saya beli ketika melihatnya.
Ya karena saking niatnya saya cari buku ini, hasil dari bagaimana saya membacanya mendapat 10/10. Walaupun saya ngga terlalu penasaran karena udah nonton filmnya, tapi tetep suka bacanya. Buku ini dikemas dengan cerita yang sederhana dan mudah dicerna oleh siapapun. Tapi kalo udah baca, sesungguhnya cerita ini penuh makna banget. Buku ini memiliki makna yang cukup dalam tentang cinta, ketulusan, tanggung jawab, kekuasaan. Saling bertemu, saling menjaga, hingga akhirnya berpisah.Kalau ditanya mending nonton filmnya atau bukunya, saya memilih dua-duanya. Antara keduanya memiliki perbedaan yang paling signifikan pada tokoh dan alurnya. Tapi keduanya adalah sebuah rekomendasi menurut saya.
7. Semua Ikan di Langit (Ziggy Zezsyazeoviennazabakrie)
Buku ini saya beli pas tahun 2017 tapi waktu itu baru setengah jalan, kemudian saya berhenti karena perihal ngerjain Tugas Akhir. Baru saya mulai lagi dari awal setelah saya membaca Le Petit Prince yang mengingatkan saya pada buku ini. Buku ini ngga beda jauh sama Le Petit Prince. Dibumbui ilustrasi dari penulis yang super keren dan cerita fantasy yang punya makna tersembunya yang dalam.
Tentunya saya kasih nilai 10/10 untuk buku ini, bukan karena buku ini mirip dengan Le Petit Prince. Tapi makna yang disampaikan oleh pengarang adalah tentang Tuhan, Malaikat, dan Manusia. Semua dapat tersampaikan, tidak hanya cinta, ketulusan, dan segala alasan manusia hidup. Malaikat yang selalu menjadi pendamping terbaik, dan Tuhan yang Maha Satu yang selalu dikagumi setiap makhluk menjadikan buku ini alasan memiliki cerita yang brilian.
8. Arsitektur yang Lain (Avianti Armand)
Arsitektur Yang Lain merupakan buku yang sering terngiang di saat sedang berdiskusi berat dengan teman satu Studio Tugas Akhir. ‘Eh lu udah baca Arsitektur yang Lain karyanya Avianti Armand belum, Len? itu tuh nyeritain juga lho tentang bla bla bla bla...... coba deh baca.’ Buku ini ngga sengaja saya beli karena niatnya mau beli yang Firmitas Aboday waktu itu. Tapiiiiii ternyata harganya mahal (karena saya masih miskin dan belum mampu beli) dan akhirnya saya memutuskan buat beli buku yang ternyata tinggal satu ini yang tersisa. Daripada ngga bisa dapet kesempatan beli ini lagi, akhirnya saya ambil.
Buku yang saya beli ini saya kasih nilai 8/10 karena isinya kritik. Yha namanaya juga Sebuah Kritik Arsitektur ya. Suka aja liat ada orang mengkritik sesuatu, tapi saya sendiri kadang ngga suka ada orang mengkritik saya. Ya begitulah manusia. Banyak fakta-fakta arsitektur yang saya highlight di buku ini. Tidak hanya mengkritik sebuah konsep arsitektur, teknik yang diterapkan oleh arsitek dunia maupun lokal serta esensi arsitektur itu sendiri menjadi bahan kritik yang cukup menarik untuk diresapi.
9. Am I There Yet? (Mari Andrew)
Buku ini saya beli di saat saya lagi jenuh banget dengan dunia. Apapun itu, jenuh di rumah terus, jenuh kerja terus, lagi capek liat manusia. Sampe akhirnya kayak orang lagi mabok, karna saya suka sama cover buku ini, ya akhirnya saya beli.
Saya suka banget dengan ilustrasi yang ditampilkan di cover maupun yang ada di dalamnya, buku ini sungguh sangat relatable dengan apa yang sedang saya alami. Saya cukup suka dengan alur mindset Mari Andrew. Tapi jenis font dan ukuran tulisan serta spasi tulisan sangat mempengaruhi saya cepat jenuh untuk membacanya tapi untung banyak ilustasinya, terselamatkan lah dari kebosanan. Buku ini saya kasih nilai 7/10, ya karena font dan spasi yang seringnya saya skip.
10. Firmitas Aboday (Aboday)
Buku ini menjadi buku terakhir yang saya baca di tahun 2018. Wah, akhirnya saya bisa baca buku ini. Buku ini saya baca di kantor saya, dan tentunya buku ini milik kantor (entahlah mungkin juga milik principal saya) karena saya masih dalam keadaan miskin dan belum berani buat beli buku mahal kayak begini.
Buku ini saya beri nilaaaaai 8/10. Pak Ary Indra dan Pak Rafael David yang eksis di media sosial dan dunia persayembaraan arsitektur mempersembahkan buku atas karya-karya Aboday. Yang saya suka, buku ini memberikan edukasi dasar tentang ruang secara interaktif. Aboday mempersembahkan karya-karya dengan menyisipkan pengetahuan yang bisa kita baca di buku pedoman data arsitek dengan cara yang unik dan interaktif.
Satu tahun dapet sepuluh buku. Buat kalian, mungkin ini masih kurang banget ya. Tapi buat saya, ini sebuah pencapaian sih, karena sebelumnya saya bukan orang yang suka membaca buku. Membaca buku masih menjadi tantangan untuk saya kedepannya. Bukan, bukan karena saya tidak punya teman, hanya saja membaca buku adalah sesuatu yang dapat menyembuhkan saya akan rasa-rasa yang buruk dan seolah sembuh ketika membaca kalimat penyemangat oleh buku.
Terima Kasih 2018 untuk memberikan kesempatan kepada saya membaca banyak cerita-cerita manusia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ngintip Ngintip Jejaring Patreon
Jadi beberapa minggu yang lalu saya suka banget kepoin akun-akun tumblr para ilustrator dan beberapa komikus yang saya follow. Sebagian besar dari akun tersebut ternyata punya akun Patreon. Penasaran dong Patreon itu apa dan kenapa mereka pada pake Patreon.
Yang mau ngintip-ngintip, silahkan ke websitenya. Patreon
Begitu buka dan meluncur ke bawah pelan-pelan sambil baca dan liat-liat video sambutan CEOnya, informasinya cukup jelas ya Patreon itu apa.
Bagi kalian yang males membaca bahasa inggris dan nggak ngerti Pak CEOnya ngomong, saya kasih tau.
Patreon ini ternyata sebuah platform jejaring buat para kreator. Jadi Mas Jack Conte si CEO nya ini nih, ceritanya dia melihat kegundahan ketika banyak kreator yang yaudah bikin-bikin tapi cuma buat di pamerin, di tonton, tanpa dapet feedback dari penikmat karyanya. Nah terus akhirnya beliau punya ide bikin Patreon supaya para kreator ini karyanya terbayar gitu.
Sebetulnya Patreon ini juga mirip-mirip sama Youtube. Kalo di youtube, dapetin uang dari adsense, kalo di Patreon dapetin uang dari Patron. Apa itu Patron? Patron ini kayak subscriber. Bedanya, Patron ini juga seorang apresiator karya. Bagaimana cara mengapresikannya? Nah itu yang akhirnya bikin saya nyoba ngetuk pintunya Patreon ini.
Saya coba bikin akun di Patreon. Dan inilah yang terjadi
Jadi saya disugestikan untuk mencari kreator yang kira-kira saya suka. Pas saya klik find creators you love bakal muncul 3 media sosial. Twitter, Facebook sama Youtube. Sepertinya tiga media sosial itu adalah media yang paling banyak dihinggapi kreator. Padahal saya tau Patreon dari Tumblr. Alhasil. ga ada satu pun following maupun friends saya dari 3 media sosial yang disugestikan itu (gue mainnya kurang deep kali yak?)
Oke deh, karena ga ada, saya coba cari kreator yang saya suka lewat kategori.
Dan akhirnya nemu yang saya suka. Nah terus saya klik buat jadi patron nya. Ternyataaaa tidak semudah subscribe channel atau follow podcast orang. Kemudian saya dikasih penawaran buat nge pledge (janjiin ngasih sesuatu) dan yang di janjiin itu, waaaaaang. Yaps, jadi nanti kalo dia posting sesuatu, kamu kalo mau dapet notifikasi dan bisa melihatnya, kmu harus ngasih donasi minimal $1.00 per bulan. Nah, opsi lainnya, 'nggak kok, cuma pengen support aja' tetep donasi minimal $1.00 per bulan.
Tadi sebelumnya saya udah nulis kalo patron itu seorang apresiator kan? Nah kurang lebih gitu kalo jadi patron. Nggak seru dong, masa support aja, bayar. Yhaaaa, bagemana ya? Ya itu bentuk apresiasinya.
Jadi ternyata pola jejarinya ini, yang saling ngasih feedback itu kreator dan patronnya. Patreon ini cuma media mereka saling mengapresiasi karya.
Jadi kalo kamu udah ada Paypal, atau punya kartu kredit setidaknya ada 1 dolar. Boleh lah nyari uang lewat Patreon ini.
Di Indonesia sendiri, Patreon itu belum booming. Bahkan jarang banget saya temui orang-orang Indonesia yang punya akun Patreon.
Oke, ngulik lagi tentang isi-isinya yang ada di Patreon ini. Di Patreon ini saya juga di sugestikan buat edit profil. Kurang lebih penampakannya kayak gini.
Jadi di pengaturan profil ini ada yang beda yaitu bagian Reward, Goals, Thanks sama Payments. Let me explain about those all.
1. Reward
Reward ini kayak semacem hadiah untuk patrons saya. Atau kalo saya sudah mencapai target, saya bisa mentargetkan hadiah yang bakal saya kasih ke patrons saya. Jadi entah target postingan atau target patrons udah goal, platform ini bakal secara otomatis ngasihin hadiah yang udah kamu tulis di pengaturan reward.
Kebanyakan sih yang saya lihat di profil orang-orang itu ya dapet bedge sama uang. Lumayan kan.
2. Goals
Goals ini target-target yang bakal kamu capai pas kamu pakai Patreon. Target postingan, mau berapa kali sebulan. Target Patrons mau target berapa puluh atau berapa ratus. Dua hal ini saling berhubungan. Makin sering posting makin banyak patrons yang apresiasi. Jadi emang bener-bener di Patreon ini rencana kamu betul-betul di indahkan, nggak main-main.
3. Thanks
Sebetulnya ini template ucapan terima kasih yang kita buat untuk para patrons yang udah apresiasi ke karya kita. Gitu aja.
4. Payments
Ternyata bayaran yang akan didapat bisa diatur. Mau dibayar per bulan atau per postingan. Bayarannya pun sesuai jumlah patrons. Kalo patrons nya banyak, berarti kamu bisa dapetin banyak uang juga.
Sekarang udah ngerti kan, Patreon platform yang seperti apa. Sebagai jejaring sosial, menurut saya, Patreon bukan tempat yang cocok sama orang-orang Indonesia, karena kita lebih banyak wacananya, itu sih yang paling utama.
Patreon ini bisa dibilang emang gudangnya para kreator. Kalo di Youtube, kan cuma video. Di Soundcloud atau Spotify juga cuma audio. Di Deviant Art cuma ilustrasi dan gambar. Nah, disini digabungin jadi satu.
Menurut saya kalo kalian mau buat Patreon, harus bener-bener punya konsep yang mateng dalam menciptakan karya di Patreon ini. Konsistensi yang paling penting. Tapi buat kalian para kreator yang ingin belajar untuk tidak mengingkari janji, pakailah Patreon. Janji kalian bisa kalian tepati, dapet uang.
Sekiaan.
Ideas Worth Nothing
Ideas are cheap. So cheap
Dulu saya sering berpikir yang bikin saya maju itu ide. Saya sering percaya diri karena saya pikir saya “orang yang banyak ide”
Ternyata setelah saya pikir lagi, yang bikin saya maju itu bukan ide, tapi eksekusi
Saya orang yang suka overthinking, tapi karya-karya yang saya banggakan selalu muncul dari eksekusi.
Mereka muncul dari aha moment, lalu jadi ide yang tertunda lama karena overthinking, hingga sampai bikin saya kesel sendiri dan memutuskan. “F*ck this shit. Let’s do it”
Setelah nekat dieksekusi, baru ide-ide ini kelihatan harganya.
Ideas worth nothing unless executed.
So learning how to execute is so important. It’s your priority number one. That’s the only way you can turn your ideas from nothing into diamonds.
So what ideas you wanna execute today?
Kenyataannya kami merayakan duka dengan cara kami masing-masing. Tidak dengan saling menguatkan, pun tidak dengan keyakinan bahwa melewatinya bersama-sama adalah keputusan terbaik
Bukankah ini bagian paling pilu dari berduka?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
To feel about the wind of dreams
If it just makes me so fake, should I deserve myself for the sake of human's happiness?
I'm tired of being fake.
The situation always ask me to know what people need. And this situasion deserve me as a people who don't even know who I am.