Hari senin sebelumnya, aku memutuskan untuk mendaftar tes elpt (english language proficiency test) pusat bahasa unair yang dijadwalkan pada hari ini. Sebenarnya, aku sudah memenuhi batas syarat kelulusan (450), tapi itu sudah lima (5) tahun yang lalu pada tahun 2019. Sejak tahun lalu aku ingin mengikuti tes lagi untuk mengetahui skill bahasa inggrisku saat ini, tetapi selalu kutunda dengan alasan “aku belum siap”.
Kapan siapnya? Saat itu aku berpikir kalau udah lulus [sidang], barulah kuurus urusan duniawi dsb yang berhubungan dengan yudisium termasuk elpt ini.
Eh, nyatanya belum lulus juga sampai sekarang. Selain itu, ada seorang teman yang gagal yudisium karena elpt-nya belum memenuhi batas kelulusan. Niatku untuk tes elpt lagi pun semakin kuat. Sekali lagi, sebenarnya aku sudah ‘lulus’ elpt dan ternyata jarak lima (5) tahun masa tes diperbolehkan untuk keperluan yudisium (in normal word, sertifikatnya hanya berlaku dua (2) tahun).
Akhirnya, kesempatan itu datang. Ais, temanku yang belum lulus elpt, memberitahuku bahwa dia akan mengikuti tes elpt pada tanggal ini. Aku, yang jarang belajar bahasa inggris dalam beberapa bulan terakhir, memutuskan untuk sekalian mendaftar supaya bisa satu ruang bersama-sama. Setelah mengurus administrasi (pembayaran), tercantumlah aku sebagai salah satu pesertanya.
Jumat, 06 Desember 2024. Ruang D. 08.30 – 11.30
Namun, persiapanku menghadapi itu benar-benar kurang. Hari senin dan selasa, aku memprioritaskan suatu urusan lain sehingga aku tidak menyentuh perkara ini sama sekali. Hari rabu datang dan aku menyadari bahwa tes ini akan berlangsung kurang dari empat puluh delapan (48) jam lagi. Oke, saatnya fokus ke sini.
Aku menyadari bahwa kelemahanku di tes bahasa inggris adalah grammar atau structure. Maka, aku memusatkan fokus belajar untuk memperbaiki area tersebut. Masalahnya, grammar tuh banyak banget yang harus dipelajari. Ketika aku melihat mind map mengenai grammar saja, ada sepuluh (10) poin penting yang tertera di sana. Aku harus mulai dari mana?
Aku memutuskan untuk melakukan pencarian toefl practice di youtube untuk sekadar mengetahui cara belajar yang ‘tepat’. Eh, aku menemukan [dan menonton] video mengenai ielts dan pembahasan mengenai penulisan essay yang tepat untuk mendapatkan band (score) tujuh (7) ke atas. Hadeh. Namun, ada satu (1) hal yang benar-benar kusimpan dari video tersebut.
Do what the test want you to do.
Lakukan apa yang tes tersebut ingin kamu lakukan.
Nggak perlu aneh-aneh. Nggak perlu ribet-ribet. Aku tahu, elpt terdiri dari tiga (3) section. Listening, structure, dan reading. Aku hanya perlu memasang telinga dan memahami makna pembicaraan saat listening. Aku hanya perlu membaca dan memahami bacaan saat reading. Lalu, aku hanya perlu memerhatikan struktur kalimat dan penggunaan kata saat structure.
Sederhana, kan? Kalau kata pengajar dari video youtube yang kutonton, dia akan bilang “simple, but not easy.” Sederhana, tetapi tidak mudah.
Maka, aku mencari beberapa soal mengenai structure dan mulai mengerjakan sendiri. Ternyata susah, banget. Bahkan perkara tenses saja aku masih sering tertukar. Aku sampai membuat tabel sendiri mengenai dua belas (12) tenses ini. Dalam prosesnya, sering muncul perasaan minder di dalam hati. Gini aja kok gak bisa, batinku. Ini baru elpt, belum toefl itp apalagi ielts. Katanya mau pergi ke luar negeri? Katanya bisa bahasa inggris?
Aku mempunyai target khusus mengenai skor yang ingin kudapatkan dalam elpt ini. Sekadar informasi, tesku pada tahun 2019 mendapatkan skor 547, dengan rincian listening 60, structure 49, dan reading 54. Kata orang sih itu sudah bagus. Aku tidak membantahnya, tetapi aku merasa bahwa aku bisa… lebih. Kebetulan, ada seorang teman yang skor toefl itp-nya mencapai 620. Aku jadi termotivasi untuk bisa mengejar dia, terutama karena sekarang dia sudah bekerja di perusahan bumn ternama sementara aku belum jadi apa-apa (hiks).
Targetku adalah mendapat skor minimal 600.
Agak nggak masuk akal, ya? Temanku bisa, kok. Aku pasti bisa, semoga.
Lalu, hari kamis malamnya, karena aku percaya kondisi segar (refresh) itu lebih penting dibandingkan belajar semalaman sampai pagi, aku memutuskan untuk tidur lebih awal.
Aku tiba di area aseec tower pukul 07.30. Aku memutuskan menunggu di lobby lantai satu (1) dan membaca sekilas catatan yang telah kubuat. Aku juga menunggu Ais datang, tetapi ternyata dia bilang belum berangkat dan masih sarapan. Pukul 08.00, aku memutuskan untuk naik lift ke lantai tujuh (7), tempat pusat bahasa berada. Aku tidak langsung masuk ke dalam ruangan, tetapi menunggu terlebih dahulu di luar. Beberapa peserta lain mulai berdatangan dan langsung memasuki ruangan.
Pukul 08.15, Ais tidak kunjung datang. Sesuai petunjuk sebelumnya, bahwa peserta diharapkan datang lima belas (15) menit ke dalam ruangan, akhirnya aku pun masuk. Terdapat daftar peserta yang tertempel di pintu dan aku melihat kami berdua adalah paling senior di sana (duh). Aku berada di nomor satu (1), yang artinya kursiku berada di depan meja pengawas. Whatever, I guess. Aku segera duduk di sana dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti pensil, papan dada, penghapus, dan kartu peserta.
Ternyata, pengawas tes telah membagikan lembar jawaban di atas meja beserta buku soal di bawahnya. Aku melihat peserta lainnya telah mengisi bagian identitas sebelum diminta sehingga aku segera mengikuti mereka. Sudah lama sekali aku tidak melingkari butir-butir jawaban menggunakan pensil 2B ini. Lumayan memakan waktu juga, khususnya pada orang yang namanya cukup panjang sepertiku.
Menjelang pukul 08.30, sosok Ais tidak kunjung datang. Tes akan dimulai sesaat lagi. Panitia (pengawas) memberikan arahan menggunakan sound speaker yang berada di atas ruangan. Alias ternyata pengawasnya berada di ruangan lain. Sebagai permulaan, kami (peserta) diberi petunjuk cara pengisian lembar jawaban, khsususnya bagian identitas. Nama, nomor peserta, tanggal lahir, sampai dengan nilai yang diharapkan (targeted score). Ada dilema tersendiri ketika mengisi bagian terakhir ini. Pilihannya ada 400, 450, 500, 550, dan 600. Secara teknis, target lulus fakultasku adalah 450. Sedangkan, target pribadiku adalah 600, tetapi sepertinya tidak mungkin dong kalau aku memilih pilihan tersebut. Malu, terutama kalau hasil akhirnya jauh tidak sesuai dari harapan tersebut. Akhirnya aku memilih 550. Tetap ketinggian, sih, haha.
Panduan lisan pengisian lembar jawaban telah selesai. Saat ini tiba waktunya listening. Saat itu pula tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan. Pasti Ais, batinku. Melalui telepati, aku menyampaikan “langsung buka aja pintunya” ke dia. Benar saja. Setelah ketukan kedua, dia langsung membuka pintu tersebut dan bergegas menuju tempat duduknya yang berada tepat di belakangku. Syukurlah masih tepat waktu, karena setelah itu sesi listening benar-benar dimulai.
Aku mencoba mendengarkan dengan saksama. Hal yang agak bikin kesal adalah kualitas speaker yang… kureng. Tidak jernih, apalagi kondisi untuk satu ruangan yang juga disisipi suara-suara kecil lainnya. But it’s okay, namanya juga elpt doang. Beberapa soal pertama berhasil kulalui dengan lancar. And then…
Pintu terbuka. Ada peserta yang baru datang. Di tengah sesi listening. Hadeh. Peserta itu duduk ke tempat duduknya. Namun, dia tidak langsung mengerjakan. Ternyata dia belum siap. Dia harus meraut pensilnya terlebih dahulu. Oh, surprise, dia tidak membawa rautan. Akhirnya dia ke depan tempat meja pengawas berada (btw tidak ada pengawasnya, beliau di ruangan lain), yaitu di depan tempat dudukku, untuk meraut pensilnya dengan suara yang sangat mengganggu. ksabar, batinku. Tidak hanya itu, dia juga berkali-kali batuk. Entah mungkin lagi sakit atau bagaimana, tetapi jelas itu bukan keadaan yang tepat bagi dirinya dan orang lain untuk ikut tes. Egois banget.
Tingkat fokusku mendengarkan pun berkurang. Pada satu titik, aku mengalami blank alias pembicaran dalam listening itu tidak masuk sama sekali ke kepalaku. Duh, gawat. Ada satu-dua soal yang tidak mungkin aku pastikan jawabannya karena itu. Meskipun sempat muncul kekesalan sebentar, aku berhasil mengembalikan diri untuk fokus ke soal-soal berikutnya. Kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan.
Sesi listening selesai. Fiuuuh, aku bernapas lega. Namun, aku tidak punya waktu istirahat karena tes langsung berlanjut ke sesi structure. Aku merasa bahwa skor di sesi listening akan lebih rendah daripada tes sebelumnya. Jadi, aku harus memaksimalkan dua sesi lainnya untuk mencapai — atau setidaknya mendekati — skor yang kuinginkan. Aku membuka lembar soal structure. Masih sama saja. Mencari kata yang salah. Aku segera menjawab satu-persatu. Diluar dugaan, aku cukup lancar menjawabnya. Entah benar atau salah, yang penting lancar aja dulu, hehe. Ada beberapa soal yang membuatku berpikir lebih lama memang. Selain itu, ada hal yang cukup membuatku ragu, yaitu ketika ada empat (4) soal berturut-turut yang kujawab dengan satu (1) pilihan jawaban yang sama (misalnya A). Masa’ sih, ini jawabannya begini semua?
Tanpa terasa, waktu pengerjaan structure selesai dan saatnya lanjut ke sesi berikutnya. Reading. Bagiku, reading adalah bagian paling, ehm… ‘mudah’ dibandingkan sesi lainnya. Selain karena jawabannya ada di bahan bacaan, kalau tidak bisa menjawab, berarti memang tidak bisa menjawab. Biasanya ada di vocabulary. Maksudnya adalah, misal ada soal yang tidak kamu mengerti, kamu tidak bisa mengobrak-abrik ingatan untuk mencari tahu petunjuk yang bisa menjawab soal tersebut. Contoh, ada pertanyaan makna dari kata tranquility adalah? Sementara kamu tidak pernah membaca/mendengar kata tersebut sama sekali. Gitu deh.
Mungkin hanya butuh waktu sepuluh (10) menit bagiku untuk menyelesaikan lima puluh (50) soal reading. Terlalu cepat, kan? Aku menghabiskan sisa waktu untuk mengoreksi kembali jawabanku. Menurutku, terdapat enam (6) soal yang tidak bisa kukerjakan. Alias aku percaya bahwa jawabanku di empat puluh empat (44) soal lainnya benar. Terdengar begitu optimis, ya?
Aku kira penyelesaian tesnya akan dilakukan bersama-sama. Namun, mungkin sekitar lima belas (15) menit sebelum berakhir, beberapa peserta lain mulai mengumpulkan (menaruh lembar jawaban di buku soal) dan keluar ruangan. Aku berniat menunggu sampai akhir, tetapi dengan keadaan suhu ruangan yang begitu dingin, akhirnya aku memutuskan keluar juga setelah memastikan semuanya beres. Lalu segera mengucur ke toilet, haha.
Aku keluar dari toilet tepat pukul 10.30. Ruangan tes sudah hampir kosong, tetapi aku tidak melihat keberadaan Ais di sana. Mungkin dia keluar dari ruangan setelahku dan ke toilet juga. Aku memutuskan untuk turun dari lantai tujuh (7) menuju lantai satu (1) dan menunggu di lobby sana. Sembari mengecek beberapa jawaban dari soal yang masih kuingat. Namun, setelah tiga (3) soal yang aku cek ternyata jawabanku salah semua, aku memutuskan untuk menghentikan kegiatan tersebut sebelum kepercayaan diriku berkurang.
Tidak lama kemudian, Ais datang. Kami berdiskusi mengenai pengerjaan tes barusan, tentang soal-soal yang masih membekas di ingatan, dan jawaban masing-masing. Kata dia, pengumuman skornya akan bisa dilihat nanti malam di akun masing-masing. Saat itu, aku merasa yaudah lah ya, whatever happen, happened mengenai skor yang akan kudapatkan.
Siang harinya, sekitar pukul 14.15, aku iseng-iseng mengecek akunku di laman pusat bahasa. Ternyata skornya sudah muncul! Coba tebak dapat berapa?
Hah, ini beneran? Aku masih tidak percaya. Aku lihat kembali detail tiap bagiannya. Listening 58. Sudah kuduga akan lebih rendah daripada tes sebelumnya. Lalu ke bagian berikutnya yang membuatku tidak percaya. Structure 63! What!!?? Artinya, aku hanya salah tiga (3) dari empat puluh (40) soal grammar. Sementara reading mendapat 59, alias salah enam (6) dari lima puluh (50) soal, yang kuasumsikan adalah enam (6) soal yang tidak bisa kukerjakan tersebut.
Syukurlah. Tidak menyangka ternyata aku bisa tepat memenuhi target, haha. Walaupun mungkin banyak suara di kepalaku yang bilang itu elpt doang (dan mungkin benar), aku tetap harus mengapresiasinya. You did it, and you should be proud of it!
Lalu, bagaimana dengan Ais? Ehm, mungkin bukan bagianku untuk menceritakan hasil dia. Pastinya aku tetap berterima kasih kepadanya sudah menarikku untuk ikut tes ini dan belajar bahasa inggris kembali. Semoga di tes-tes berikutnya (hopefully toefl or ielts) bisa berlangsung baik dan mendapat hasil yang aku inginkan.