Amor Fati
Kepada luka, aku bentangkan tangan bukan untuk mengusirnya, tapi membiarkannya duduk di sisiku. Kan kusesap kepahitan yang membersamainya, seperti teh yang dingin perlahan.
Kepada kehilangan, aku tidak bertanya, mengapa ia datang tanpa pertanda. Aku biarkan ia mengemasi sendiri, apa pun yang dia mau, apapun yang ingin dibawanya dariku. Takkan kucegat ia di ambang pintu.
Kepada waktu, aku tidak merayu, agar lebih lama menemaniku. Aku berjalan bersamanya, tanpa menuntut arah yang pasti untuk kutuju.
Aku mencintai yang datang dan yang pergi, seperti sungai mencintai muara, seperti daun mencintai angin yang menerbangkannya.
Sebab hidup adalah perjamuan, dan aku diundang untuk menikmati segalanya— manis dan getir, terang dan kabut, tanpa mengingkari satu pun.
———
Penderitaan dan kebahagiaan adalah bagian dari siklus kehidupan yang datang sepaket. Kita tidak bisa sepenuhnya menghargai kebahagiaan tanpa mengenal penderitaan, dan sering kali justru penderitaanlah yang membuka jalan menuju kebahagiaan yang lebih dalam. Hidup adalah keseimbangan keduanya. Tugas kita bukan memilih salah satunya, melainkan menerima keduanya sebagai bagian dari perjalanan.
Kita semua bisa mengatakan itu. Tapi kenyataannya, bisakah kita benar-benar menerima dan menjalani hidup seperti itu? Tidak hanya menerima kebahagiaan, tapi juga kepedihan—tidak terjebak dalam perlawanan terhadap kenyataan hidup, tidak menyesali masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan, dan tidak berusaha mengubah hal-hal yang terjadi di luar kendali kita.
Amor Fati. Seni mencintai nasib dan menerima apapun yang terjadi, katanya. Apapun, bahkan jika itu pahit. Mencintai kehilangan, keterpurukan, luka. Mencintai hal-hal yang dalam skenario lain, mungkin selalu ingin kita hindari.
Bagi orang sepertiku, itu tidak mudah. Bukan karena aku tidak cukup memahami konsepnya, tapi karena menerima sesuatu sebagaimana adanya tanpa perlawanan bukanlah sifat dasar manusia. Bukan sifat dasarku. Aku selalu ingin memahami, menganalisis, mencari celah kemungkinan lain.
Bagaimana bisa mencintai sesuatu yang terasa tak adil? Seperti ketika kehilangan datang tanpa aba-aba, merenggut sesuatu yang kusebut rumah. Seperti ketika aku telah berusaha sebaik mungkin, tetapi semesta tetap memilih jalan yang berbeda. Haruskah aku mencintai itu juga?
Bagaimana bisa merangkul nasib itu tanpa hasrat untuk mengubahnya?
Keinginan untuk melawan terus berkelindan di dadaku, sampai akhirnya... aku kelelahan. Aku melihat ke belakang dan menyadari bahwa perlawanan ini tidak membawaku ke mana-mana, selain kembali ke lingkaran kecemasan yang sama. Menyesali, mengkhawatirkan, menganalisis, mencari celah—tetapi dunia tetap berjalan dengan ritmenya sendiri, tak peduli seberapa keras aku mencoba mengubahnya.
Lalu aku mulai bertanya: Jika hasilnya tetap tidak berubah, dan menolak pun hanya akan membuatnya semakin menyakitkan, apa yang tersisa selain menerimanya dengan cinta?
Perlahan, amor fati yang dulu kusanggah menyusup ke dalam kesadaranku. Bahwa untuk merasa lapang, aku harus mengosongkan lebih banyak ruang. Dan pada banyak kesempatan, kelapangan itu tidak datang dari kendali atau kerasnya aku menahan, melainkan dari melepaskan.
Tetapi itu bukan berarti aku harus berhenti berpikir, berhenti merasa, atau berpasrah tanpa usaha. Aku—kita—hanya perlu berhenti berperang melawan hal-hal yang tak bisa diubah.
Meski hidup memberi kita tantangan di luar kendali, kita selalu punya kuasa atas bagaimana kita bereaksi dan meresponsnya.
Sebab hidup adalah perjamuan, dan kita diundang untuk menikmati segalanya— manis dan getir, terang dan kabut, tanpa mengingkari satu pun.

















