“Instructions for living a life.
Pay attention.
Be astonished.
Tell about it.”
Sudah menjadi semacam tradisi bagi saya bahwa tiap saya berulang tahun—biasanya sehari sebelumnya—saya akan menghabiskan waktu sendirian dan merenung tentang apa-apa yang sudah saya lalui di tahun sebelumnya. Kalau saya lupa sudah ngapain aja, biasanya bakal disambi dengan membaca jurnal yang saya tulis di tahun itu. Saya tidak tahu persisnya kapan tradisi ini dimulai. Mungkin, tradisi ini dimulai ketika saya yang baru berusia 10 tahun suka membuat semacam “altar” tiap saya berulang tahun. Altar ini berisi barang-barang yang saya peroleh di tahun sebelumnya dan kesemuanya hampir dipastikan berwarna pink (nantinya, altar ini berubah warna menjadi serba ungu ketika saya masuk SMP). Di atas meja lipat gambar Dora, saya menaruh beberapa perintilan—boneka dari kakak perempuan saya, bunga mawar plastik dan cokelat dari Ibu, buku diari yang ada kuncinya, buku filateli warisan dari Ibu dan kakak yang bersampul pink, sebagai contohnya. Altar ini bakal ada sekitar dua harian saja dan sengaja dipamerkan seakan-akan ingin menghitung berapa banyak barang yang dimiliki dari tahun sebelumnya. Ah, kalau mengingat itu kembali, lucu juga rasanya bahwa saya punya inisiatif khas bocah dengan cara uniknya untuk merayakan ulang tahunnya. Betul-betul cara merayakan yang murni belum dilekati dan diasosiasikan dengan berbagai ekspektasi atas hidup mendewasa.
Pos ini adalah sebuah refleksi dari tahun 2021 dan juga refleksi ulang tahun saya untuk beberapa tahun belakangan ini, dengan konteks selama pandemi ini. Saya akan memilah refleksi ini jadi dua tema utama: professional dan personal growth.
Saya mengawali tahun 2021 lalu dengan penuh kecemasan, karena saya memasuki semester tua. Pertanyaan-pertanyaan semacam “nanti habis lulus mau ngapain” kerap merayapi benak saya. Saya cemas karena semakin saya tinggi semesternya, semakin saya terasing dengan kuliah saya sendiri yang 2020 lalu semuanya dilaksanakan daring. Hilang sudah keoptimisan dan juga kenaifan saya waktu maba yang dengan percaya diri ingin langsung S2 dan jadi dosen. Ha! Andai semudah itu untuk merealisasikannya tanpa menimbang-nimbang faktor lain yang belum tentu mendukung. Menapaki semester tua membuat saya mengeset prioritas kembali sembari berpikir kiranya pekerjaan apa yang cocok buat saya.
Di akhir Desember tahun 2020, saya mendaftar sebuah program magang menjadi penerjemah dan proofreader di lembaga riset milik pemerintah. Saya iseng-iseng saja, eh tahu-tahu diterima. Saya magang sekitar 3 bulan. Pekerjaan saya sehari-hari kebanyakan mengedit dan mem-proofread naskah-naskah yang akan dipublikasikan ke jurnal berbahasa Inggris. Magang ini tak berbayar, jadi saya tidak berharap banyak-banyak darinya. Toh, beban kerja saya juga tidak banyak. Karena hal-hal inilah magang di lembaga pemerintah ini malah tidak begitu berkesan buat saya. Hal ini juga disebabkan banyaknya pemagang seperti saya, jadi hal-hal yang saya pelajari tidak begitu banyak dan intensif.
Setelah magang ini berakhir, saya mendaftar lagi kesempatan magang menjadi penerjemah korporat untuk perusahaan layanan bahasa multinasional. Saya awalnya juga nggak berharap banyak dengan yang ini, toh yang diterima magang dari kampus saya cuma 3 orang saja. Tentu saya merasa bak disambar petir di siang bolong ketika saya tahu saya lolos magang ini karena saya betul-betul tak menyangka. Banyak teman saya yang lebih kompeten dari saya dan berpengalaman dalam menerjemahkan yang seharusnya lolos dibandingkan saya. Namun, karena sudah dapat dan lolos, jadi ya saya senang-senang saja mencoba hal baru ini.
Bekerja menjadi penerjemah korporat ini betul-betul memberi saya banyak pengalaman baru. Pertama, saya tidak tahu pace menjadi penerjemah untuk klien brand-brand internasional ternyata secepat ini. Ada proyek yang harus diselesaikan dalam satu hari, ada juga proyek terjemahan sebanyak 15 ribu kata yang harus selesai dalam 3-4 hari. Bisa dibilang saya kena culture shock, apalagi ditambah keahlian terjemahan saya yang belum cukup mumpuni. Kedua, saya merasa sungguh beruntung bahwa manajer dan senior-senior saya semuanya suportif dan baik hati. Mereka memberikan saya feedback, arahan, dan kiat-kiat menerjemahkan dan bekerja tanpa kesan menggurui atau otoritatif. Tahun 2021 lalu saya banyak membaca buku-buku yang mengkritisi kultur kerja seperti Work Won’t Love You Back (Sarah Jaffe, 2019) dan The Happiness Industry (William Davies, 2014), jadi saya seperti punya semacam mental note sebagai antisipasi bahwa ada kemungkinan atasan dan lingkungan kerja saya hostile dan tidak selalu suportif. Punya atasan yang ramah dan baik ini rasanya seperti berada dalam hubungan yang sehat. Ini bukan berarti saya menyamakan atasan dan kolega kerja sebagai sebuah keluarga, namun sehat dalam artian bahwa ketika saya dikritik, saya tahu dan sadar itu bukanlah serangan personal atas kepribadian saya seutuhnya. Saya tahu bahwa eksistensi saya lebih dari seberapa baik kinerja yang saya berikan, dan berada di sekeliling orang yang bisa menghargai sisi saya yang itu membuat saya memperlakukan diri saya sendiri dengan lebih baik dan penuh kasih.
Selama magang menjadi penerjemah korporat ini, saya memegang dan menangani beberapa klien dan konten yang saya terjemahkan beragam, mulai dari marketing hingga perjanjian kontrak. Yang terakhir ini yang cukup menantang karena saya dipercaya untuk menerjemahkan konten legal yang tentunya kalau saya salah menerjemahkan, ada risiko hukum yang harus ditanggung klien. Ditambah juga dengan fakta bahwa saya juga tidak punya latar belakang hukum. Jadi, saya belajar dan riset banyak-banyak, sering konsultasi ke linguis senior, membaca kamus hukum, dan memfamiliarkan diri dengan terma-terma hukum. Kerja keras saya terbayar ketika seorang linguis yang bertanggung jawab atas terjemahan saya mengirim saya pesan di WhatsApp berbunyi “So far, terjemahan kamu oke banget, proviciat yes!”. Agak tidak percaya rasanya bahwa saya bisa berproses jadi lebih baik dalam bidang yang saya tak kuasai sebelumnya.
Masih ada momen-momen dan milestone kecil dalam pekerjaan ini yang membuat saya lebih menghargai kemampuan saya dalam belajar hal baru. Namun, itu untuk cerita lain waktu saja. Yang jelas, setelah mencicipi kerja korporat (yang juga berbayar lumayan) ini, saya jadi memikirkan kembali keinginan saya untuk ambil S2. Selain karena saya belum lulus, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan untuk mengurungkan intensi ini. Pertama, ternyata saya cukup menikmati pekerjaan saya dan gajinya lumayan sekali untuk mahasiswa tua ingusan seperti saya ini. Saya bisa membeli buku dan barang-barang lain dari gaji ini, salah satunya laptop saya. Kedua, pengalaman kerja saya masih minim, masih kinyis-kinyis lah istilahnya. Dan, ketiga, memangnya saya ada duit cukup untuk kuliah lagi? Jadi, bukannya mencoba melanjutkan dan membangun karir di industri terjemahan dan lokalisasi ini sembari menabung untuk kuliah S2 adalah ide yang bagus untuk menjembatani dua ambisi ini?
Tentunya, tidak semua pengalaman menjadi penerjemah ini selalu enak buat saya. Ada porsi dukanya dan bingungnya sendiri karena toh pada akhirnya saya bekerja pada sebuah korporasi. Aspek-aspek yang tidak picture-perfect dari industri ini juga ada, dan pembacaan saya dari buku-buku yang mengkritisi tentang kultur kerja jadi berguna bagi saya untuk memahami semua ini. Saya jadi paham hirarki-hirarki pekerja yang ada, perihal subkontraktor, dan kesejahteraan pekerja (jaminan cuti/kesehatan, layanan kesehatan mental), sebagai beberapa contohnya. Meskipun begitu, saya merasa beruntung bahwa pekerjaan korporat (atau lebih tepat disebut digital nomad, ya, karena saya WFH) pertama saya ini tidak menindas saya dan mengaburkan self-worth saya sendiri. Atau mungkin, saya saja yang belum amblas ke aspek-aspek gelap tersebut. Semoga saja saya tidak mengalami hal itu di masa depan.
Dua tahun belakangan ini, saya banyak memikirkan makna dari relasi hubungan romantis serta platonis dan pengaruhnya ke saya. Baru di 2021 ini, pemikiran saya tentang hubungan romantis dan platonis ini merambah ke bagaimana saya memaknai kerja yang saya dan teman-teman saya lakukan.
Tahun ini adalah tahun keempat saya dan R menjalin hubungan. Saya tak bisa memungkiri bahwa ini suatu milestone atau pencapaian personal bagi saya yang dulu saat maba sudah nrimo ing pandum dan santai-santai saja kalau bakal hidup sendirian. Berada dalam hubungan romantis untuk kali pertama membuat saya jadi menilik ulang apa yang sudah saya percayai dalam hidup dan pandangan saya atas dunia. Mungkin terdengar muluk-muluk, tapi memang begitulah adanya. Kalau bukan berkat collision saya dengan R, saya mungkin tidak akan pernah bisa belajar untuk hidup lebih pelan dan penuh intensi.
Sebagai konteks, sebelum saya menjalin hubungan, saya biasa melakukan apa-apa sendiri. Makan sendiri, pergi ke acara diskusi sendiri, ke mall sendiri, jalan-jalan ke toko buku atau pameran sendiri, bahkan ikut demo sendiri, dan saya nyaman-nyaman saja melakukan hal tersebut. Hanya, aspek independen ini menjadi masalah ketika pada akhirnya saya menjadi hyper-independent. Saya baru sadar tahun 2021 kemarin bahwa hyper-independence ini adalah respon saya atas pengalaman traumatik yang saya alami. Hubungan saya dan orang tua yang pernah cukup buruk membuat saya secara alamiah tidak mau bergantung pada siapa pun. Apalagi, keyakinan saya kalau jadi independen itu hal yang baik juga berkelindan dengan semangat feminisme mainstream “jadi cewek harus independen, you do you”. Saya pada masa-masa proto-feminis saya menelan keyakinan itu mentah-mentah tanpa refleksi lebih lanjut. Saya tidak bertanya mengapa menjadi independen adalah sebuah opsi yang terasa sangat alamiah dan nyaman bagi saya.
Oleh karena hal di atas, saat masuk kuliah saya sudah mantap hampir bulat kalau saya tak perlu yang namanya pacar, partner, pasangan untuk membantu atau melengkapi saya karena saya merasa sudah utuh. Saya punya hobi, punya lingkaran teman, punya hal-hal dan cause yang saya percayai, jadi mengapa repot menjalin hubungan romantis—yang bagi saya waktu itu—adalah hal yang melelahkan?
Singkat cerita, setelah bersama R, ternyata saya tidak se-independen dan seutuh yang saya kira. Kemampuan saya dalam mengelola konflik interpersonal dan menegosiasi batasan hampir bisa dibilang nol besar. Saya banyak membawa beban dari hubungan buruk saya dengan orang tua dan punya beberapa questionable views. Ditambah lagi, saya tidak pernah sebelumnya menjadi begitu dekat dengan orang lain. Saya selalu memiliki semacam dinding yang tidak bisa orang lain tembus, bahkan dengan teman terdekat saya. Kedekatan dalam hubungan ini membuat saya merasa aneh sekaligus aman. Aneh karena saya yang katanya sudah independen itu sekarang harus bergantung dengan orang lain, dan aman karena saya bisa merasakan perasaan R yang tulus dan tanpa tendensi muluk-muluk ke saya.
Satu hal yang tidak saya sukai dari diri saya sendiri adalah menjadi helpless atau tak berdaya. Dan berada di sebuah hubungan berarti saya memberikan full premium access kepada orang lain untuk melihat saya ketika tak berdaya dan butuh bantuan. Saya gengsi berat. Saya begitu keras kepada diri sendiri dan memaksa bahwa sudah seharusnya saya tahu segala hal tentang hidup (sungguh, pemikiran anak 18 tahun yang luar biasa pede atau edgy, sih, ini). Lama kelamaan, R bisa melihat kalo saya hobi memendam perasaan. Sekarang, R ini sudah jadi semacam pawang saya. Ia bisa membedakan beberapa versi “gapapa” saya dan orang pertama yang paling sensitif kalau suasana hati saya berubah, semuanya otomatis ia lakukan tanpa saya minta. “Kamu gampang banget dibaca” adalah komentar favoritnya.
Mungkin, kunci awet hubungan kami adalah kami sering berargumen dan berdiskusi. Bukan argumen yang sambil teriak-teriak, tapi lebih ke argumen yang mengetes batas-batas dari nilai yang masing-masing dari kami percayai. Argumen ini jadi tempat kami untuk limit testing, sejauh apa kami bisa memahami dan melihat kesamaan dan resolusi dari perbedaan ini. Hubungan yang mulus tanpa konflik, bagi kami, itu omong kosong belaka. Bagaimana bisa kamu menyatukan dua kepala yang beda preferensi, latar belakang, dan kepribadian agar jadi sama plek ketiplek? Apalagi kalau dua-duanya sama-sama keras kepala, nekat, dan pintar kalau disuruh roasting atau jadi sarkastik.
Refleksi ini tentu tidak akan lengkap kalau saya tidak ngobrolin buku. Tahun kemarin, karena saya lebih sibuk dari tahun sebelumnya, saya hanya baca 61 buku. Kesibukan saya nggak bisa bikin saya bisa baca 124 buku seperti di tahun 2020. Meskipun begitu, saya tetap senang karena dua tahun belakangan bacaan saya seakan punya tema tersendiri. Selama pandemi ini, saya mencari suaka dan pertolongan dari penulis-penulis perempuan. Saya jadi banyak baca memoar dan kumcer dari penulis perempuan yang kebanyakan dari luar Indonesia. Banyak sekali karya yang berkesan tapi karena saya ingin menghubungkan topik ini dengan topik sebelumnya, saya akan membicarakan memoar dari Jeanette Winterson yang berjudul Why Be Happy When You Could Be Normal?
Memoar ini berisi banyak trauma dan luka Winterson sebagai anak adopsi yang tidak disayang Ibunya. Pun, Ibunya Winterson ini seorang fanatik agama dan Winterson ini adalah seorang lesbian. Bisa dibayangkan penolakan bertubi-tubi yang Winterson alami, mulai dari memoarnya yang dikatain sebagai “karya setan” oleh Ibunya, hingga fakta bahwa Ibu Winterson selalu menutupi fakta tentang Ibu kandung Winterson. Arah memoar ini bisa saya tebak: pasti pengalaman-pengalaman ini akan membuat Winterson cukup kesusahan menavigasi hubungan romantis. Dan benar saja, saya dibuat menangis ketika Winterson, yang selama ini yakin kalau ia tak tahu caranya mencintai, akhirnya sadar bahwa ia bisa mencintai orang lain. “I think the problem is not so much about you not knowing how to love,” ujar pasangan Winterson saat itu, “but that you do not know how to receive love.” Ini bagian yang sangat berkesan bagi saya karena ini sesuatu yang bisa saya relate. Seperti Winterson, sudah terpatri dalam benak saya kepercayaan bahwa saya ini orangnya susah untuk mencintai orang lain. Saya tidak tahu bagaimana caranya mencintai dan tidak ada orang terdekat yang mengajari saya bagaimana caranya. Padahal, yang tidak bisa saya lakukan itu kebalikannya. Saya susah untuk menjadi receiving end of that boundless love. Saya terampil memberikan bantuan tapi nihil kemampuan untuk menerima bantuan dari orang lain.
Membaca Winterson jadi semacam turning point saya tahun lalu karena saya jadi membuka diri dan lebih jujur dengan teman-teman ketika saya butuh bantuan. R sudah jadi emotional support saya yang sangat baik, tapi tidak adil kalau support network saya hanya dia karena beban dan hal yang saya butuhkan itu juga lumayan banyak. Saya tidak mau menjadikan dia sebagai ‘terapis’ saya. Saya ingin kami berdua berjalan bersisian dan sama-sama tumbuh menjadi pribadi yang lebih mawas diri dan welas asih. Menjadi mawas diri juga termasuk bahwa kami tahu batas-batas kapasitas dan kemampuan mental kami sendiri.
Alih-alih resolusi, saya memacak manifesto (atau pengingat?) yang akan coba saya hidupi di tahun 2022 ini. Kebanyakan manifesto ini adalah nilai-nilai dan hal-hal yang saya pelajari selama 2021 ini. Begini kira-kira isinya:
Help is always near. Terkadang, kita hanya tidak tahu caranya meminta bantuan dan bantuan macam apa yang kita butuhkan. Padahal, orang lain yang bertindak adil dan baik pasti akan merasa senang ketika mereka bisa membantu kita dalam kapasitas mereka sendiri.
Kelindan antara kapitalisme dan tindakan pemerintah yang sering mengecewakan kita membuat kita percaya kalau tidak ada orang yang bisa diandalkan atau dipercaya selain diri sendiri. Daripada independen melulu, mengapa kita tidak membuat semacam sistem mutual aid yang interdependen? Terkena COVID-19 pasca ulang tahun kemarin membuat saya tersadar kalau sedang kena musibah seperti ini, semua semangat independen tidak banyak gunanya karena saya membutuhkan orang lain untuk membantu saya sembuh. Saya merasa begitu bersyukur memiliki R dan teman-teman lain yang mau saya repoti selama saya sakit ini.
Tidak peduli berapa banyak hal yang telah kita korbankan atau lakukan, orang-orang yang emotionally immature tidak akan bisa membalas apa yang kita lakukan secara resiprokal. Daripada menyimpan dendam karena mereka tak kunjung bisa melihat hal-hal berharga yang kita lakukan, kita perlu menanyakan ke diri sendiri apakah mereka ini bisa memberikan apa yang kita inginkan, misalnya, kasih sayang berupa kalimat afirmasi, pelukan, bantuan emosional, bantuan finansial, dan lainnya. Ketika kita sadar kalau mereka ternyata tidak akan bisa memberikan sesuatu yang kita inginkan, kita akan berusaha menjalin hubungan orang-orang yang sama-sama bisa menghargai apa yang kita lakukan ke mereka.