surat ini aku tulis sebelum yudisium terlaksana.
sebenarnya, sudah terlalu banyak sesak yang kutahan untuk tetap pada tempatnya, siapa coba yang ingin mempertunjukkan sisi lemahnya di depan orang lain?
diantara sisi lemah itu, kebiasaanku untuk selalu memfikirkan kemungkinan terburuk, sudah ada sejak awal menjadi mahasiswa baru.
yang kufikir, mungkin masa sulitku di kuliah ini karena aku diberi kesempatan masuk FK segampang membalikkan jari, padahal benar benar banyak temanku yang lebih layak. jadi yaa, inilah waktunya aku menerima sakitnya.
hei, aku tidak merendah. tapi ini nyata.
aku tidak cerdas, rajin pun tidak. nilaiku biasa saja, bahkan jeblok. alim? kamu kira aku sealim itu? ada perasaan lega bahwa kalian tidak tahu asliku seperti apa, pasti kalian menjauh karena jijik. lega...sekaligus kesal. kalian semua salah, tau? aku ini hina.
dan dengan takdir Nya, aku bisa mudah masuk FK. impian hampir 2/3 orang gak sih?
dulu, pertama kali nilaiku jeblok, aku tidak menangis. karena toh aku sudah biasa begitu.
yang membuatku sedih, semakin waktu berlalu, ada saat dimana...entah bagaimana, aku tidak merasakan tempatku disini.
ketika satu persatu kalian mulai mengerti, dan bisa menyampaikan apa yang disampaikan...aku iri.
rasanya kabut abu itu berputar putar, mempertanyakan.
teriakan negatif di otakku selalu aku tempis, meski terkadang menyisakan jelaga di kerongkongan, mendesak keluar.
lalu ekspektasi menjadi lebih menakutkan.
apa rasa pesimis ini begitu tinggi, atau memang kemampuanku yang hanya bisa sebatas ini?
seringku diam. hanya tersenyum lirih mendengar kalian mengcomplain tentang nilai yang masih aman namun belum puas.
terlalu banyak suara di kepala. yang satu ingin marah berteriak :
namun yang satunya menahan, memahami posisi kalian yang berjuang. lalu ia malah berteriak pada diriku sendiri :
dan lambat laun suara itu bertambah, dan aku selalu sangat berusaha untuk meredamnya. jika saja ada yang memperhatikan, gelengan kepalaku yang spontan itu, ya, aku sedang mengusir semua suara jahat itu.
toh kita sebagai manusia juga pada akhirnya mengatasi diri masing masing kan?
aku paham. itulah mengapa aku tak cerita.
toh aku cerita atau tidak, takkan ada bedanya kan?
jika aku gagal, aku ingin, sangat ingin,
tidak melihat tatapan kasihan itu. sekali saja.
tolong, tak usah menghibur dengan kata kata manis.
semua itu hanya menimbulkan suara suara gelap itu rakus untuk berkata lebih lantang.
biarkan aku sendiri. sampai tiba saatnya aku bisa tersenyum lagi.
berbahagialah, dan cukup doakan aku