One Man Standing â 10:24
Ini merupakan cuitan tentang seorang mahasiswa tingkat akhir yang akhirnya masuk ke semester 9. Ya, betul. Semester 9. Langkah awal menjadi seorang "donatur kampus" karena skripsi yang bahkan belum selesai di mana kawan-kawan saya lainnya telah menamatkan arc "nyusun skripshit" dan sekarang mereka melakukan selebrasi kecil-kecilan. Separuh hati kecil saya senang melihat kawan-kawan saya menyelesaikan tugas akhirnya di kampus. Tapi saya sendiri tidak bisa menyangkal bahwa ada perasaan perih ketika melihat story Instagram dari kawan-kawan saya.
"ya lantas lu ke mana aja kemarin? lu nyesel?"
Disebut nyesel juga sebenarnya gak begitu juga. Saya pun memiliki tanggung jawab lain yang harus saya selesaikan sehingga saya mengesampingkan skripsi saya. Beberapa masalah (terutama di dalam rumah) pun harus saya pikirkan dan karena hal itu lah saya tidak bisa fokus untuk menamatkan skripsi saya pada saat itu.
Saya memiliki ADHD, bukan sebuah self-proclaim semata melainkan dari sejak saya kecil. Saya menyadari bahwa hal sekecil apapun itu dapat mendistraksi diri saya sendiri terutama ketika sedang mengerjakan sesuatu (baik itu di kerjaan maupun di kuliah). Saya mencoba berbagai cara untuk setidaknya meminimalisir dari distraksi pada saat mengerjakan skripsi. Namun ibaratnya, tiba-tiba ada Axe (re: karakter Dota 2) loncat ke karakter saya lalu menggunakan skill 1 (Berserk call) ke arah saya. Saya jelas terdiam.
Ada suatu insiden yang menyangkut dengan saudara saya sendiri sehingga saya harus menanggung sebagian dari dampak yang telah diperbuatnya. Saya tidak perlu diceritakan secara detail karena ini bukan cerita konsumsi publik. Tapi yang jelas, dikarenakan hal itu saya memutuskan untuk benar-benar meninggalkan sejenak skripsi saya dan membereskan beberapa hal yang setidaknya membuat saya sedikit tenang untuk melanjutkan kembali skripsi saya.
Kembali lagi ke keresahan saya sebelumnya, jujur saya sendiri tidak menyangka bahwa seorang Kometdafa akan masuk ke semester 9. Berusaha untuk denial pun itu yang terjadi. Pada kesempatan kali ini, izinkan saya untuk merasa gagal menjadi seorang mahasiswa.
Saya pun bingung untuk mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat ini. Ketika suatu fenomena menimpa ke diri sendiri yang biasanya disebabkan oleh diri sendiri, ini datang dari luar. Disebut kecewa juga saya sendiri sebenarnya paham dengan situasi saya saat ini, namun apakah wajar kalau saya merasa gagal menjadi mahasiswa?. Saya sendiri tidak ingin meminta validasi dari siapapun, saya hanya ingin merayakan perasaan saya sendiri.
Meskipun begitu, memang beberapa dosen saya selalu mengingatkan kepada kawan-kawan saya terutama ke saya sendiri bahwa "skripsi yang baik yaitu skripsi yang selesai" dan "Selesaikan skripsi tepat waktu atau di waktu yang tepat". Saya mencoba untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan menjadi sebuah pelajaran penting bagi saya. Saya masih menjadi seorang mahasiswa, hingga saat ini sampai skripsi saya selesai. Pada akhirnya, semua akan berjalan sesuai jalannya masing-masing dan mungkin saja jalan ini yang harus saya tempuh untuk menguatkan saya lebih dari yang sebelumnya.
Saya sekarang memahami beberapa mahasiswa yang sebetulnya ingin lulus tepat waktu namun karena banyak faktor yang kita bahkan tidak bisa menghakimi secara terlanjang mengapa mereka belum lulus atau bahkan DO sekalipun. (kecuali kalo emang pada dasarnya lu orangnya males beresin ya gua juga kesel sendiri sama sikap lu).
Tapi yang jelas, saya sendiri menulis ini bukan mencari validasi orang-orang yang membaca ini atau menarik simpatik untuk mengasihani saya. Melainkan hanya untuk "buang sampah" dari pikiran saya yang dirasa mulai mengganggu. Tak luput saya ingin mengutip dari seseorang yang saya kagumi.
"Belum saatnya terbakar, jangan mati sebelum besar!"
Karena pada akhirnya, kamu sendiri yang menjalani kehidupan dan dirimu yang menanggung konsekuensi dari pilihanmu sendiri.











