Hari bergerak seperti biasa. Semuanya seperti biasanya. Dari bangun pagi sampai bertemu malam, mengerjakan aneka pekerjaan. Tapi ada yang hilang, ialah kebahagiaan. Ada yang kosong di dalam jiwa, meski kata orang ini adalah ketenangan. Bukan! Ini bukan ketenangan, ini sepi.
Entah sejak kapan, aku seperti tak bisa memutuskan jalan hidupku sendiri. Terkungkung pada keputusan yang kubuat sebelumnya. Aku seperti tak mendapati diriku yang kemarin. Yang dulu bisa tertawa dengan lepas, yang jiwanya bebas.
Kini, aku sedang menjalani keputusan yang entah bagaimana caranya aku akhiri. Aku takut setelahnya akan ke mana, aku tak tahu kemana diriku yang dulu punya mimpi. Punya keberanian, meski sedikit, untuk mengambil arah hidupku.
Setiap hari, aku mendengar hal-hal yang membuatku takut untuk membuat keputusan besar. Seolah-olah, tidak ada jalan lain selain menjalani apa yang yang ada sekarang. Aku diminta untuk bersyukur, tapi aku juga ingin sekali kabur.
Aku hidup di dalam sebuah naungan yang berpikir bahwa menjadi aku, berarti harus bisa hidup seperti mereka. Agar hidup selamat, agar hidup bahagia. Sementara kebahagiaan dalam definisiku, bukan itu. Tapi kini aku ragu, apa definisiku yang keliru?
Aku tidak tahu akan ke mana jika aku berhenti. Seolah pandangan itu sengaja ditutup, sengaja dikaburkan agar aku terus menerus dalam kekangan. Aku ingin sekali menjadi aku yang pernah aku impikan. Tapi aku ternyata terlalu takut untuk melawan. Bahkan aku takut untuk menghadapi kenyataan, jika aku nanti dianggap sebagai lawan.
Ya Allah, aku ingin sekali menyudahi. Buatlah aku menjadi berani.
KG