Seminimal-minimal Ikhtiar
āMasih keder?ā ada intonasi prihatin yang tak ditutup-tutupi dari suaramu. Aku tak menjawab, hanya menatap nanar ke arah lain sampai kau kembali mengingatkan, āWir, gagal itu manusiawi lohā
Beberapa hari lalu kudapati email pemberitahuan pengumuman beasiswa luar negeri, tanpa jeda aku langsung menuju link yang tertera dalam email, memasukkan user ID dan password hanya untuk menerima pernyataan penolakan dengan diksi yang dilembut-lembutkan di bawah namaku. Aku bahkan menduga ini prank, maka aku me-refresh halaman. tentu saja hasilnya tak berubah.
āYang ga manusiawi tuh kalo lo nya kelamaan drop beginiā, kau menyodorkan sebuah form āayo bangkitā
āWir, lo inget kisah Bunda Maryam pas melahirkan Nabi Isa? di deket sungai, di bawah pohon korma, sendirian, lelah abis melahirkan,ā kisahmu menarik minatku, ādan Siti Maryam laperā
Kau tak pernah habis cerita, Nada. Kali ini apa?
āNah, Allah nyuruh Maryam goyangin pohon korma, padahal karakter pohon korma tuh gak kayak pohon mangga. Batangnya besar dan keras, tanpa ranting. Prof Iman bilang, kalo mau jatohin buah korma pake cara diguncang pohonnya, butuh tenaga 4 laki-laki postur tubuh Arab.ā
Melihatku mulai menaruh minat, kau melanjutkan penuh semangat āSebenernya mudah bagi Allah menolong Siti Maryam, bisa aja tuh didatengin makanan seperti yang terjadi di mihrab Aqsa, atau ada musafir lewat bawa korma sekeranjang hahaha. Tapi ga gitu kan? Allah nyuruh langsung untuk menggoyangkan pangkal pohon korma. Allah mengisyaratkan ikhtiar, bahkan dengan seminimal-minimal ikhtiar yang keliatan gak logis, tetep harus dicoba.ā
Aku menyahut āBentar Nad, kalo Maryam yang ikhtiar pake tenaga penghabisan aja bisa dapetin korma, kenapa gue yang udah mati-matian berjuang masih dikasih gagal? Lo liat sendiri lah gimana gue nyiapin beasiswa ini.ā
āJustru itu!ā tanggapmu bersemangat sambil menghentakkan tangan, āKalo seminimal-minimal ikhtiar saja Allah hitung, maka gue jamin ga ada usahalo yang terlewatkan oleh Allah, Wir.
Eh bentar, jangan sotoy lu Wir, sebagai outsider kita liatnya usaha Maryam minimal: tenaga perempuan seberapa sih, lagi capek abis melahirkan pula kan.. tapi Maryam pasti mengerahkan tenaga sekeras yang ia bisa, maksimal versi dirinya sendiriā
āHaha bener jugaā aku sering luput soal ini, kadang masih hobi menilai seenaknya menggunakan standar diri sendiri. Kita sungguh ga akan tahu bagaimana seseorang menjalani hidupnya sebelum berjalan memakai sepatunya, melihat dengan kacamatanya.
āAda yang lebih penting Wir dan banyak manusia lupa soal iniā, raut wajahmu berubah serius
āRanah kerja kita cuma usaha. Cukup ingat bahwa Allah ga luput menilai proses.
Kebanyakan manusia besar kepala, merasa berhasil karena usahanya sendiri, padahal ada andil Allah di sana.
Kebanyakan manusia merasa disayang Allah saat diberikan hasil sesuai yang diinginkan, padahal belum tentu ada keberkahan di sana.ā
Aku tertawa sedih. Tiba-tiba ada rasa bersalah menyergap, kemarin aku terlalu percaya dengan segala usaha yang telah kukerjakan, sampai sombong merasa diri akan berhasil. Tuhan memang bersama prasangka hambaNya, tapi optimis dan sombong itu beda soal.
āUdah yok, isi nihā kau menyodorkan form tadi, kali ini aku menerimanya tanpa dipaksa. Esok adalah batas akhir pengumpulan aplikasi sedangkan banyak sekali yang belum ku kerjakan. Ah tenang, ranah kerjaku hanya berusaha sebaik mungkin, bukan begitu Nada?