Ditulis sebagai pengingat untuk tahun-tahun mendatang.
Lalu perjalananku berubah.
Aku yang dulunya kupikir hanya akan melewati kerikil tajam saja, nyatanya menemukan kanal sungai yang deras arusnya. Terlampau deras hingga aku kehilangan kemampuan untuk melaluinya seorang diri.
Tapi siapa pula yang hendak kuajak untuk menyeberanginya? Tentu tidak akan ada yang siap meski harus menggunakan kapal pesiar dengan serba-serbi paling modern yang ia punya.
Jika orang-orang tak berperasaan menyebutnya kutukan, maka aku tetap akan berbaik sangka bahwa kanal ini adalah ujian yang harus kulalui walau seorang diri.
Jika orang-orang merutuki sebab-sebab dari datangnya arus sungai yang terlalu deras, aku tetap akan menyebutnya sebagai jalan-jalan menuju tangga teratas.
Sungguh, kisah mengharu-biru hadir silih berganti membuyarkan lamunanku. Lamunan tentang indahnya negeri dari balik pelangi. Lamunan tentang taman-taman yang dipenuhi mekarnya bunga matahari. Lamunan tentang penghujung sore dengan aroma khas tubuhmu sebagai tempatku menyandarkan diri.
Kepercayaan itu runtuh. Bahkan mimpi buruk tentangmu kini tiba pada ujung ranjangku.
Apa kabar dia? Sosok yang kau temani berbincang hingga pukul tiga pagi atau lebih. Yang dengan sigap dan entengnya kau menekan tuts-tuts telepon seraya mencari namanya. Nama yang kau samarkan namun tetap mampu kukenali.
Apa kabar dia? Seseorang yang di hadapanku kau sebut kawan, namun kau beri perhatian.
Sungguh, tiap deret huruf yang menghiasi layar, hingga kini tak juga memudar.
Dan saat kanal sungai itu hadir menghalau jalanku, tetiba aku tersadar.
Bahwa barangkali benar. Aku tidak cukup untuk memenuhi ruang ekspektasimu. Aku tidak pernah cukup untuk memenuhi pencarianmu tentang sosok terbaik yang akan menemani langkahmu menyusuri indahnya mentari masa depan.
Kanal sungai membuatku tersadar jika kesempurnaan hulu hanya milikinya. Sedang aku tenggelam bersama riak air yang semakin deras kala aku hendak melewatinya.
Serupa kebetulan yang menyamar. Kepercayaan yang kau luluh lantakkan itu rupanya seiring sejalan dengan kanal sungai yang hadir memberi kejutan.
Tapi siapalah aku? Hanya seorang perempuan yang di penghujung tahun diminta bersabar dalam berkawan dengan si kanal sungai. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka akan menghampiri perjalanan hidupnya.
Dan kamu adalah apa-apa yang layak memperoleh kesempurnaan perjalanan. Dataran tinggi dengan kereta listrik yang membawamu melintasi ladang jagung adalah sesuatu yang layak kau nikmati bersamanya - sosok yang paling memiliki segalanya.
Maka biarlah aku berjuang seorang diri dalam menaklukkan si kanal sungai. Biarlah aku mencoba tenggelam bersamanya. Menikmati tiap deras arusnya walau kesulitan bernapas dan nyaris kehilangan pegangan.
Maka biarlah aku menatap matahari masa depan dengan rute perjalanan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Untuk aku yang harus berkawan akrab dengan si kanal sungai, bukankah ia tak layak mendampingimu duduk di dalam kereta masa depan? Seraya menatap senja yang nyatanya juga kerap kali kau perbincangkan pada banyak orang.
Awan-awan berarak, jarum jam tak pernah lelah bergerak. Orang-orang beranjak, kepercayaan yang kuberi dengan begitu banyak, justru kau rusak.
Tidakkah kau ingat? Perihal lebam paling romantis yang kutemui pada bulan-bulan penuh pergulatan.
Lebam paling romantis yang menghiasi kaki, punggung, juga pergelangan tangan.
Lebam paling romantis yang senantiasa mengingatkanku pada penantian, janji yang absurditas, juga pesan-pesan yang tidak pernah sampai ke tujuan.
Lebam paling romantis yang mengajarkan banyak hal.
Bahwa tentangku adalah raga yang kala itu dipaksa untuk berhenti mencari tahu perihal hidup dan keberadaan seseorang.
Tidakkah kau tahu? Lebam paling romantis kala itu menjadi tahun-tahun yang tak luput dari perdebatan sengit.
Tentang aku yang entah. Apakah harus tetap teguh pada semua rasa yang mengharu-biru?
Ataukah beranjak pergi? Layaknya ucap penolakan paling halus kala itu.
Pada lebam paling romantis yang hadir hingga kini, aku pernah melalui bulan-bulan yang kelam dengan perjanjian akan melepasmu.
Dan tentang perjanjian itu, ia adalah pergulatan hebat yang buatku bertumbuh.
Bulan-bulan penuh kelam dengan lebam paling romantis kala itu adalah perjalanan paling jauh dalam mengeja rasa, memangkas habis harap yang tak semestinya, juga menjadi tahu perihal sesuatu.
Bahwa beranjak bukanlah tentang mampu. Namun beranjak adalah tentang waktu.
10:48 p.m || 31 Desember 2021