Rumah
Hari ini matahari masih perlahan hadir meskipun enggan untuk tanggal, sama seperti kemarin. Sesekali mata ini kembali basah ketika melihat orang yang bahkan tidak kami kenal, harus pergi dengan cara yang mengenaskan. Membayangkan tubuhnya yang kecil dilindas alat yang begitu berat, rasanya itu sungguh bukan lawannya. Kesakitan itu menjalar ke semua penjuru, ia tidak sempat marah sebelum pergi. Tapi seisi dunia menjadi wakil, bahwa sungguh nyawanya tidak sepadan dengan kekejian yang penguasa buat.
Rasanya hari ini aku bahkan tidak pantas untuk tersenyum, kecuali memberikan senyum kepada saudara saudara kita yang akhirnya sadar dan menjadi tameng untuk dirinya sendiri.
Sekecil itu kita di mata penguasa, suara suara kita ibarat desis yang bahkan tak menggema di telinganya. Lalu aku sadar, aku menangis bukan hanya karena kehilangan saudara. Tapi karena takut, sungguh negara ini tidak berusaha melindungi kita. Seperti berteduh di rumah yang tak beratap, hari hari terik dan badai kita perlahan membunuh. Entah kapan, rasanya kematian semakin dekat. Bahkan lebih menyakitkan karena siksanya yang perlahan memuncak.
Saudara kita Affan mungkin terlalu kecil di mata para penguasa, tapi aku jadi sadar mengapa Tuhan menciptakan surga, neraka, dan hari pembalasan. Betapa jiwa yang kelak mereka lupakan, hari ini dan seterusnya nurani kami yang tidak dibungkam akan terus menghidupkannya. Dalam doa ini, Dia tidak akan pernah kecil di mata Tuhan. Karena semesta dan isinya menjadi saksi betapa manusia bukanlah lawan yang sepadan dengan hari pembalasan, kami yang bersaksi dan melangitkan puji untuknya bahwa dia adalah korban dari penguasa yang cacat pikir dan hatinya dan Tuhan tidak akan pernah lupa meminta pertanggung jawabannya beserta balasan yang tidak pernah bisa manusia kira. Bahkan maaf pun menjadi hal paling mahal, untuk semua penderitaan, kesakitan, kesenjangan hidup yang katanya sebentar. Sebentar sebentar kita harus mengalah dengan ketidak adilan yang memang sengaja dihidupkan, dipelihara, bahkan dipupuk dengan nyawa nyawa yang mereka pikir kelak hilang dalam retorika duka bencana. Kebenaran memang butuh ruang, hati yang sempit, logika yang kerdil tidak akan pernah mampu meneladani. Kalau hatinya rusak, lantas bagian tubuh mana lagi yang kelak menolongnya.














