Rindu itu kadang terasa seperti ruang kosong di rumah yang tiba-tiba sepi, padahal semua perabot masih di tempatnya. Di luar tampak lengkap, tapi ada satu sudut yang hening sekali, seolah menunggu seseorang duduk dan mengisi cerita yang tertunda.
Kadang rindu juga mirip antrian panjang di loket yang tak kunjung maju, hanya berdiri sambil memegang nomor kecil yang menjanjikan giliran entah kapan. Setiap beberapa menit menoleh ke papan nomor, berharap sebentar lagi dipanggil, meski di dalam hati tahu tidak ada jaminan kapan pertemuan itu betul-betul datang.
Di waktu lain, rindu rasanya seperti hujan gerimis yang awet, tidak deras sampai membuat banjir, tapi cukup tekun menetes sampai baju dan hati pelan-pelan basah. Awalnya dinikmati karena terasa puitis, lama-lama malah membuat kedinginan sendiri karena tidak tahu harus berteduh di mana dari bayangan tentang dia.
Kalau dipikir-pikir, mungkin rinduku ini seperti menanam bunga yang disiram setiap hari, tapi di tanah milik orang lain. Tumbuhnya indah, tapi pada akhirnya bukan aku yang punya taman itu, dan aku cuma bisa berdiri di pagar, melihat dari kejauhan sambil bertanya: untuk apa aku merawat sesuatu yang tidak bisa kupetik.
Di sisi lain, rindu juga bisa jadi pengingat lembut, seperti jam weker yang tidak terlalu berisik, hanya bergetar pelan di meja. Ia mengingatkanku bahwa di luar sana ada seseorang yang pernah membuat hari-hariku lebih hangat, tapi juga memberitahuku bahwa hidupku tidak boleh berhenti hanya karena bayangannya.
Jadi mungkin, yang perlu dievaluasi bukan hanya seberapa dalam rinduku, tapi ke mana sebenarnya rindu ini mengarah: mendewasakan, atau sekadar menahan langkah. Jika rindu membuatku lebih rajin berdoa dan memperbaiki diri, ia seperti kompas yang menunjuk pulang, meski jarak masih jauh. Tapi jika rindu hanya membuatku berputar di tempat, ia tak lebih dari lingkaran kecil di lantai, yang kutapaki sendirian sampai lelah tanpa pernah benar-benar maju.
Pada akhirnya, mungkin yang paling sehat adalah belajar menerima bahwa rindu tidak selalu harus disembuhkan dengan pertemuan. Kadang ia cukup diletakkan pelan-pelan di sudut hati, seperti foto lama yang tidak lagi ditatap setiap hari, tapi tetap disimpan sebagai bukti bahwa aku pernah begitu tulus menunggu seseorang.