mungkin aku menyebutnya seperti itu, fase ini seperti titik balik yg ke 3 dalam hidup, terlalu gila rasanya. Kemarin aku pulang bertepatan malam nisfu sya'ban, rasanya cukup asing melihat kumpulan jama'ah dimasjid, banyak anak kecil yg tidak aku kenal, juga para pria yg entah suami siapa, aku cukup terkejut melihat para pemuka agama yg sepenuhnya sudah digantikan dengan yg lebih muda, para sepuh itu sudah kembali pada robnya. Sekarang yg sebaya dengan bapak menjadi kakek-kakek renta. Muka bapak tidak terlalu terlihat cape sekarang, hanya saja terlihat kurang sehat, agak loyo, tidak seperti dulu dengan muka tegasnya. Aku sekarang sudah jadi bapak, anakku pintar, dia banyak bicara, kadang pikirannya cukup menarik untuk anak seusianya. Dia agak pemalu sama seperti aku waktu kecil, persis. dia sangat bergantung dengan ibunya karna mungkin terlalu sering aku tinggalkan, jika aku pulang, aku sering membawanya jalan-jalan keliling kampung, entah apa alasannya, beneran muterin kampung hanya untuk melihat kambing, kebun dan bermain gelembung. Tentu saja itu membuat saya punya semangat untuk terus mencari bagaimana idealnya membangun keluarga kecil, istriku juga baik, dia sangat cekatan, dia rela hidup di dalam keluargaku yg tidak sempurna saat aku pergi. Ibuku sekarng sulit berjalan, entah apa penyakitnya, dia jarang mau diajak ke dokter, mungkin karena sungkan juga karna sulit jika harus naik motor dengan badannya yg besar. Kenyataan bahwa bapak sakit jantung dan ibu yg sulit berjalan, membuatku tenggelam dalam kesadaran dgn banyak pertanyaan, sebenarnya situasi macam apa ini? dalam proses membangun rumah tangga, menata yg belum tertata dan memperbaiki yg baik aku harus di lumat kenyataan bahwa aku khwatir, khawatir atas kematianku, khwatir akan ditinggalkan ibu dan bapak. terlebih mereka memiliki keinginan untuk melunasi biaya haji yg dari 2013 sudah di daftarkan. Tentang kesehatan mereka, tentang biaya, dan mungkin tentang aku yg masih dalam proses yg entah apa ujungnya. Hari ini aku mendapat kabar jika kakaku akan cerai dengan suaminya, kabar ini seperti meruntuhkan setiap usaha yg coba di bangun aku dan kakak-kakak ku yg lain. Kenyataan bahwa biaya kebutuhan yg dibawa kakak perempuanku cukup banyak 2 anak yg masih sekolah, satu anak yg baru lulus dan bayi yg dia adopsi membuat keluarga cukup gusar, bapak sepertinya cukup terguncang, pasti, krn ketidak sopanan dari mantan suami kakakku yg sepertinya mengobarkan api permusuhan. Kegilaan macam apa ini, entahlah. Ketidak berdayaanku dalam situasi ini membuatku cukup frustasi, melelahkan, utamanya aku takut orang tuaku tambah sakit setelah ini, semoga tidak.