Saya memiliki teman yang sangat inspiratif. Seringkali dia yang secara tidak langsung menjadi motivasi saya untuk selalu mengupgrade diri, untuk semangat menuntut ilmu, semangat belajar bahasa asing, semangat untuk banyak berlatih, semangat untuk berpikir maju, semangat menjadi kreatif dan inovatif.Â
Dulu, saya bertemu dia dengan tidak sengaja. Pada salah satu event ramadhan, kebetulan kami satu divisi yang sama. Berawal dari pertemuan kami pertama kali, saya sudah yakin dia anak yang sangat cerdas. Mungkin bisa dikatakan tidak perlu belajar udah bisa jawab soal, ya mungkin begitu. Dia pun aktif dalam beberapa organisasi dan sudah mulai merintis bisnis makanan dari hasil jeripayahnya mengikuti PKM. Tak hanya itu, di tahun terakhir kuliahnya, dia juga aktif keluar kampus mengikuti event-event besar, seperti perlombaan ataupun berpartisipasi aktif di dalam suatu lembaga di luar kampus.
Dia pernah bercerita ke saya, kalau dia mengikuti kegiatan besar yang isinya kebanyakan anak-anak cina yang tidak perlu lagi diragukan masalah kecerdasannya. Dia bilang, “Aku cuma mau buktiin kalau seorang muslimah berjilbab juga bisa bersaing dengan otak-otak mereka.” Gimana? masih meragukan kecerdasan otak dan semangat luar biasanya? Dan tidak usah ditanya lagi kalau dia sudah pasti dapat beberapa beasiswa selama kuliah.
Kami seringkali berbicara tentang masalah agama, walaupun kami sama-sama tau kalau ilmu agama kami masih belum banyak dan mendalam. Hal ini justru menjadi “peringatan” bagi kami masing-masing. Namun karena ini pula saya menyebut dia sahabat sampai surga. Karena dengan banyak pertanyaannya, saya menjadi sadar untuk terus belajar ilmu agama, dan sama-sama memperbaiki diri.
Oiya, di tahun terkahir kuliahnya, dia sudah siap untuk menikah. Saya yang kala itu saja belum sempat berpikiran untuk menikah, eh dia sudah mulai ikhtiar. Masyaa Allah. Tiba-tiba pembicaraan kami menjadi pembicaraan yang cukup serius ke arah memantaskan diri, ya mau tidak mau harus.Â
Selepas kelulusannya, bukan hal yang sulit baginya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Dia mulai sibuk bekerja dan saya masih bingung mikirin judul skripsi saya. Tiba-tiba kabar gembira itu datang, saya dikasih kabar kalau dia akan segera menikah. Saya benar-benar terharu! Penantiannya terbayar sudah.
Sekarang dia sudah menjadi seorang ibu. Anak solihah cantiknya baru lahir di tengah pandemi ini. Terakhir saat usia kehamilannya 8 bulan, kami sempat bertemu melepas rindu parah karena tak pernah berjumpa lagi, bertemu saat statusku bukan lagi mahasiswi, dan statusnya kala itu sudah menjadi calon ibu.Â
Akhir-akhir ini dia aktif berbagi cerita di akun instagramnya, dan saya merupakan fans setia yang selalu menyimak setiap postingan inspiratifnya. Hingga kini dia tetap menjadi orang yang yang selalu menginspirasi meskipun sudah berstatus emak-emak.Â
Ada satu hal yang bikin saya bahagia: Dia tidak menggunakan pampres sekali pakai ke anaknya. Ini sih menandakan dia emak-emak yang super rajin nyuci, sayang anak, dan sayang LINGKUNGAN. Coba aja semua emak-emak berpikir begini, pasti kalo lagi jalan-jalan rekreasi ke sungai atau laut tidak akan melihat pemandangan pampres bayi berenang-renang riang. Susah sih ya emang membiasakan hidup minim sampah, tapi ya harus mulai dicoba dan dibiasakan. Kalo nggak? Ya selamat dihantui dengan pertanyaan bijak anak-anak anda nanti:
“Mamiiii, apa pampres yang aku pakai ini bakal berujung di laut juga?”
“Umiiiii, kira-kira pampres yang hanyut di sungai itu punyaku atau bukan ya, Mi?”Â
“Maaaaa, itu ikan di laut sama di sungai apa bakal makan pampresku nantinya?”
hehe nggak ding bercanda, eh serius juga sih. yaudahlah. Yaampun kenapa tulisan saya awal sama akhir jadi kurang mecing gini. Yaudahlah ya. Jadi, apa pelajaran yang bisa diambil dari tulisan ini? “Jangan merem kalo ngeliat pampres ngambang di sungai atau di laut” WKWKWKÂ