Akhirnya Tergerak Curhat,
Beberapa kali sudah kupikir. Aku ingin mencoba mengubah sedikit arah perahu kecil ini. Seperti orang-orang, aku berpikir cuma ingin membagikan hal-hal yang menyenangkan, dan lucu, kalau ada. Tentu agar bagus dan positive vibes. Selain itu, kata quotes yang banyak berseliweran di lini sosmed kita, bahwa orang lain tidak butuh cerita sedihmu. Belum lagi kalo kata temenku yg saleh dan berbudi pekerti luhur, "Orang yg sering mengumbar sambat itu imannya lumayan lemah."
Tapi, pada akhirnya, aku "tidak kuat" juga. Banyak hal positif yg ingin kubagikan, dengan berandai-andai cuma modal hape bisa ngetik naskah panjang, ternyata tidak terlaksana. Ternyata aku memang lebih nyaman ngetik di laptop, dimana hal itu sudah tidak bisa kujangkau karena aku tidak lagi punya alasan untuk bawa laptop kemana-mana. Laptopku yg masih bisa hidup dgn bantuan keyboard eksternal sudah kutaruh di rumah, dan karena gak ada alasan lagi untuk megang laptop, jadi aku juga tidak bisa memprioritaskan untuk nabung agar bisa beli laptop seken (lagi).
Ya, aku sudah nyerah dengan rencana sistematis soal berkarya di bidang tulis-menulis itu. Aku sudah tidak berharap bisa membiasakan untuk menulis lagi. Entah puisi, opini, ataupun prosa. Sudahlah, memang keadaannya sedang tidak memungkinkan.
Dan, pada akhirnya, lagi, aku sampai pada ujung kebingungan atas banyak hal yang tidak kusukai (dan kupendam saja), terus bertambah dan bertambah sampai sedemikian menumpuk.
Kadang-kadang, aku hanya ingin teriak bebas, lalu menangis lepas, lalu tertawa dengan tangisan yang tersisa. Apalagi kalau bukan menertawakan alur perjalanan perahu kecil ini. Semua terasa di liar kendali. Tanpa tahu ujung. Seperti sedang termenung menatap lorong gelap tanpa ujung. Dan itu yg menurutku lebih menakutkan dari apapun.
Bagaimana ini semua bisa berubah?
Bagaimana aku bisa mengambil kemungkinan yg isinya sama seperti sebelum aku mengambil rute perjalanan ini?
Aku ingin menumpahkannya dengan bercerita pada orang. Tapi ternyata aku sudah tidak punya teman.
Teman yang maknanya teman. Kalo teman secara permukaan, tentu aku masih punya, walopun tetep saja tidak banyak. Tapi, entah kenapa, sebagai seorang introvert akut, sering sekali aku merasa tiba-tiba seolah bisa tahu isi hati mereka. Maksudku, kayak adegan saat Conan (ya, anime detektif conan edogawa itu) menyadari sesuatu. Seperti ada garis mak cling, dimana aku tahu bahwa ia hanya ingin mengenalku, tetapi tidak butuh cerita-ceritaku. Sudah, itu saja. Makanya aku seketika urung untuk membicarakannya.
Dan karena itulah aku menginstall aplikasi ini lagi. Rumah kecil. Sebuah pulau mungil untuk bersandar sejenak dari perahu kecil yg lelah dihempaskan ombak lepas lautan.
Disini aku tidak ingin nulis. Tidak ingin memikirkan bagaimana pembukaannya, isinya, penutupnya. Masabodo dengan itu semua. Aku cuma ingin menumpahkan cerita.
Pemicu atas bom waktu itu datang dari telepon Ibuk. Ibuk menyuruhku untuk segera pulang, dan ikut sanak sodara ke Jakarta.
"Buk, aku ingin ttp di Semarang, di gunungpati bareng temen-temen." Aku ingin bilang gitu sambil nyesek, tapi nyatanya itu cuma tertahan di batin, dan cuma iya-iya aja saat di video call.
Tentu aku tidak berani sebebas dulu. Terakhir kuingat saat aku merasa bebas berekspresi, hal yg terjadi adalah banyak teman2ku me"ramal" bahwa sumber ketidakjelasanku adalah karena aku tidak nurut sama orang tua, terutama Ibuk. Dan lagi, yang trjadi adalah aku bertengkar dengan Ibuk dan beliau sempat me"nyumpahi"ku dengan sesuatu yg pasti tidak bisa kuungkapkan disini. Sebenrnya tidak menyumpahi, tapi bayangkan saja saat orang yg kamu hormati marah denganmu, kecewa denganmu, dan meledak pada sebuah pertengkaran.
Sejak saat itu, aku dan Ibuk sempat perang dingin. Dan perlahan mencair dengan canggung. Kecanggungan itu yg membuatku mencoba iya-iya aja dan kembali ke Semarang. Nyari kerja, yg penting kerja. Bisa survive sambil menenangkan diri, siapa tau langkah selanjutnya bisa terbersit di kepala.
Aku kerja di sebuah rumah makan (resto kecil) yg dulu aku pernah kerja sebentar di sana. Ini sedikt banyak berkaitan dgn postingan terdahulu soal menulis dan memasak. Karena pekerjaan menulis belum jelas, aku pilih yg sementara ini jelas saja.
Aku ulangi, aku kerja di tempat yg aku pernah kerja sebelumnya. Ya, dulu aku keluar tentu bukan tanpa alasan. Aku keluar karena secara logis dan teoretis pedagogis *awokwokwok :"), di sana tidak baik untuk perkembanganku dan mentalku. Mungkin sebab aku pernah kuliah (ini bukan bermaksud ngece), tp bekas kuliahan memang biasanya minimal terbiasa untuk logis (ini jg tdk saklek ya, apalahi urusan cinta). Aku disana sering disengeni bahkan tanpa sebab. Biasanya kan orang disengeni tanpa sebab yg jelas, lah ini bener-bener tanpa sebab. Malah mirip hobi. Aku nyampe mikir mungkin mereka diam2 psikopat, tapi itu sedikit ditenangkan dan diperhalus saat aku cerita ke Yoga, bahwa itu bukan psikopat, itu namanya mood swing. :v
Yap. Aku akhirnya kembali ke sana. Sengaja. Sebab prioritasnya adalah yang penting kerja dan survive.
Ada jeda setahun ketika aku keluar dari sana. Saat aku masuk lagi, sebab orang-orangnya masih sama, yg terjadi pun masih sama. Bener-bener pingin nangis sambil garuk2 tembok bahwa hidup kok gini amat. Lalu samar2 terdengar suara ghoib bahwa gpp, penting sabar.
Dengan amunisi rompi berupa pertengakaran dari rumah itu, aku bisa sedikit bertahan. Minimal, saat aku sangat tidak betah, yg penting aku berangkat dulu saja. Sebelum dapat pengganti kerjanya, aku harus bisa menjalaninya apapun yg terjadi. Yg penting survive. Yg penting survive. Inget, self, kamu sudah bertengkar di rumah. Jgn ada perang dingin lagi. Kalobisa cukup sekali itu saja.
Lalu aku menjelma mayat hidup. Sangat kacau.
Aku mengabaikan (atau mungkin memendam?) semua kekacauan ini. Mulai dari aku stress. Lalu aku insomnia tiap malem, bener2 gabisa tidur. Pdhl dulu aku sempet jarang tidur malem hari itu karena aku eman dengan suasananya, nuansanya. Malem yg tenang, malam yg kontemplatif. Tp skrg disaat shift pagi, aku paksa untuk tidur, tidak juga bisa. Pdhl badan sgt capek, mata sgt berat. Tetapi saat dipejamkan, otak begitu keras berputar, begitu hidup, dan aku kembali terjaga.
Selain itu, selama aku kerja lagi di sini, aku juga kehilangan banyak teman berharga. Mulai dari temenku sejak madrasah. Karena komunikasi cm lewat WA, saat aku bar disengeni di kerjaan dan masih ditengah kerjaan, aku membalas dgn cukup "aneh" panjang lebar saat temenku itu memintaku pulang (sebab sahabat lain menikah) dan tentu aku tidak bisa karena liburnya sudah paten (tdk bisa diubah). Saat itulah kesalahpahaman terjadi dan lost kontak.
Lalu teman berharga sejak kuliah. Karena aku begitu mumet dgn kerjaan dan disengeni tanpa sebab, aku sering motoran gajelas dan ngemper gajelas dimana saja, dan karena itu mungkin benih kesalahpahaman tumbuh subur, dan lost kontak.
Lalu teman-teman berharga lain yg cukup banyak menemaniku sehari-hari. Karena mentalku tiap hari seperti roller coaster, dan pulang selesai kerja adalah titik terendah mentalku berada. Aku jarang menemui mereka sebab memang rasanya sangat mbuh dan, aaargggh. Lalu perlahan aku mulai menghilang, setidaknya tersisih, dari circle mereka.
Akhirnya aku benar-benar sendirian. Cuma berteman yutup dan nonton anime sesekali dan nonton story tmn2 yg masih ngesave nomerku di wasap dan story2 bagus di instegram. :v
Oh, aku jg hrs mengakui bahwa teman satu2nya skrg sprtinya adlh rokok. Meski jika kakak sulungku baca ini (mungkin di suatu hari nanti yg tdk disengaja) dan Ibuk tahunya aku tdk merokok.
Entah sdh brp batang yg menjadi jelaga.
Aku bener2 seperti totalitas mempertahankan pekerjaan ini dgn menghiraukan segala kekacauannya. Kamar kacau, pikiran kacau, mental kacau, jam tidur kacau, relasi kacau, dan sholat... jg kacau.
Aku ingin nangis. Aku ingin nangis. Aku ingin nangis.
Tapi sistem masyarakat saat ini menyebutkan bahwa laki-laki tdk diijinkan nangis selain waktu mahalul qiyam. Itupun aku jg sudah saaaangat jarangggg.
Aku jarang mauludan. Aku jarang ziarah lagi. Aku jarang baca quran.
Dan msh berangan2 bisa ketemu kamu. Sebuah angan2 yg sangat tdk tahu diri dan tidak layak sekali. Tentu kamu risih melihat ada manusia seperti ini disini. Kamu yg baik, manis, penyayang anak2 yg dipandang sebelah mata, tentu sepantasnya bertemu orang yg sekualitas dgnmu. Tp aku begitu mencintaimu, meski tdk terjangkau. Yodah mau gmn lagi.
Mengingatmu sdh cukup sedikit menghiburku saat ini. Terima kasih. Dan karena itu pula, aku tidak tahu harus melanjutkan curhatan sambat ini kemana.
Sdh jam segini. Besok aku shift pagi. Lagi2 insomnia. Aku takut besok. Aku takut hari esok. Aku inget pas aku cukup tidur dan kinerjaku cukup fit aja aku disengeni. Apalagi saat kurang tidur dan sempoyongan.
Apakah besok aku akan masak sambil nyenggol wajan? Atau malah nyenggol orang yg nyengeni?
Aku takut. Aaaaaaa wtfffffffffffff.
Oh iya, aku inget. Sbnrnya pokok masalahnya adlh aku disuruh ke jakarta ikut sanak sodara. Tp aku takut.
Aku gak kerasanan kerja, apalagi dgn orang yg dikenal keluarga? Bagaimana jika aku tdk kerasan dan membuat malu keluarga?
Plis, ya Alloh, aku minta petunjuk. :((((((((((((((((
*maap aku minta tp jarang sholat.