Salah satu keyakinan yang gue anut selain mi goreng buatan orang lebih enak dari buatan sendiri adalah; semua orang itu jahat.
Nggak, gue lagi gamau ngajarin lo semua untuk berotak negatif cem gue.
Sebenernya bukan otak negatif juga sih. Gimana kalo gue bilang ini…..mekanisme pertahanan diri?
Semua orang itu pada dasarnya jahat. Kalopun ada orang yang ga jahat, itu karena dia lagi ada di mode males jahat, ga pengen jahat, atau capek jahat. Tapi basicly, mereka jahat.
Akan selalu ada satu momen, dimana seorang manusia bumi akan jadi antagonis, jadi jahat, ke orang lain. Pun ke gue. Sekali waktu mereka baik, ya beruntung aja gue ketemunya pas mereka lagi di mode males jahat. Sewaktuwaktu kelak, mereka akan jadi jahat. Nyakitin gue.
Agak sedikit kegeeran ya yaudala.
Gaperlu nasihatin gue tentang pentingnya berpikir bahwa gelas kosong itu setengah penuh, bukan setengah kosong. Bahwa gelap itu kekurangan cahaya, bukan cahaya itu kekurangan gelap. Gue sedang tidak membahas konteks itu.
When it comes to defense mechanism, gue dan segenap dramadrama sejarah hidup, memutuskan untuk meletakkan ekspektasi pada titik yang paling masuk akal. Gaperlu tinggi2, gaperlu rendah2. Biasa aja. Maka jikalau ternyata hasilnya tinggi, gue mengapresiasi dengan bahagia. Kalau hasilnya rendah, gue ga sebegitu kecewa dan terluka.
Termasuk dengan menganggap semua manusia itu jahat.
Siapapun sih. Termasuk orangtua kandung gue sendiri.
Surprise, uh?
Tidak lantas dengan berpikiran demikian, hidup gue dihantui ketakutan dijahati orang sepanjang waktu. Gue justru jadi bisa jalan lebih selow, napas lebih lega, gerak lebih lapang. Kalaupun akhirnya terkejut, itu karena hal2 yang menyenangkan, akibat ekspektasi gue kepada manusia yang ga tinggi. Kalopun akhirnya dikecewakan, disakiti, gue sudah bisa menebak.
Seperti yang baru banget terjadi.
Beberapa hari yang lalu, ada manusia bumi secara random tibatiba berbuat baik ke gue. Sepele, tapi menyenangkan. Heartwarming. Gue begitu mensyukuri kebaikan kecil itu, bahkan tanpa sadar mendoakan kebahagiaan buat dia, saking gue terharunya.
Tapi udah. Sampe situ aja. Gue ga langsung meletakkan ekspektasi tinggi ke dia, atau sampe melabeli dia sebagai orang baik. Nggak. Dia lagi mager jahat aja sekali itu. Umurnya hampir 25 tahun dan gue baru dibaikin 1 jam dari ratusan ribu jam hidupnya. Yakali segampang itu gue mengubah keyakinan gue dan menganggap dia pencilan diantara orangorang lain -.-
Ternyata gue bener.
Hari ini, manusia bumi itu kembali ke asalnya. Menjadi jahat. Dan ya, menjahati gue. Menyakiti gue.
Mungkin subjektif, mungkin perasaan gue doang, mungkin gue yang lebay. Tapi yaudah, gaakan mengubah hal jahat yang dia lakukan itu jadi bermakna baik. Kalo gue ceritain dengan detil pun, lo semua sebagian besar setuju kalo yang dia lakukan ke gue itu jahat. *pake muka Cinta* *tapi sambil ngasah pedang*
Meskipun gue tetep berusaha keras mencari tau alasan dibalik setiap kelakuan jahat manusia bumi, gue percaya kalo pada akhirnya semua manusia jahat ini juga akan merasakan rasanya dijahati manusia lain. Jadi yaudah, adil.
Gue juga manusia jahat, anyway. Jahat sekali. Gue bahkan lupa kapan terakhir kali gue mager jahat, gapengen jahat, atau capek jahat.
Jadi kalo lo masih punya kepercayaan dan keyakinan bahwa manusia baik itu ada, atau lo bahkan sedang bersama salah satunya (yang berani lo jamin bahwa dia bukan manuisa jahat yang lagi mager jahat), selamat! Jaga baikbaik. Berbahagialah.
Tapi juga bertanggungjawablah sendiri, kalo kelak keyakinan lo terkhianati.
Selamat sore!












