Tahun ini kita kembali bertemu dengan bulan ramadhan. Bulan dimana kita diuji untuk menahan segala macam hal yang dapat membatalkan puasa.Bulan yang tepat bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bulan yang apabila kita dapat menjalankannya dengan baik, maka kita akan merasakan kemenangan di bulan syawal. Begitulah kira-kira ceramah pak ustadz, hehehe. Bulan ramadhan tahun inipun aku habiskan di perantauan. Jauh dari keluarga dan sanak saudara. Kadang aku merasa sedih, tak ada yang membangunkan dikala waktu sahur. Hanya alarm jam yang membangunkanku dari tidur. Sahur sendiri, semuanya serba sendiri. Untunglah mamakku membuatkan rendang ketika beliau datang kesini sebelum puasa kemarin, jadi tak perlu susah payah untuk mencari makanan untuk sahur. Hal yang cukup berat untukku itu ya bangun sahur. Aku baru bangun disaat mendekati waktu imsak, ya sekitar 20 menitan lah sebelum imsak. Jadilah sahurku itu seadanya. Tetapi hal itu tidak menjadi halangan dalam menjalankan puasa. Karena kalau sudah niat di dalam hati, pastilah kita akan mampu menjalankannya dengan baik. Sebenarnya aku ingin untuk pulang ke kampung halaman. Aku ingin berkumpul bersama keluarga. Momen dimana kita sahur bersama dan buka puasa bersama keluarga adalah momen yang tidak akan terlupakan. Tetapi demi menuntut ilmu dan memenuhi kewajiban di perantauan maka keinginanku itu harus kutunda. Mungkin aku akan pulang ketika mendekati akhir bulan ramadhan saja. Ketika semua urusanku ini sudah selesai. Ketika buka puasa di perantauanpun sama halnya dengan sahir. Semua harus kupersiapkan sendiri. Buka puasa pun sendiri. Paling kalau ada teman yang datang barulah kita bisa buka puasa bareng-bareng. Itupun kalau datang, kalau nggak ya buka puasa sendiri. Hal yang dirindukan orang ketika berpuasa itu adalah ketika bedug azan maghrib mulai berkumandang. Semua orang mulai tertegun ketika melihat kolak yang segar dan manis yang kalau bisa ngomong dia bakal bilang ‘hai, kau mau nunggu apa, makanlah aku’. Aku akan membalas bujukannya 'ah..kolak ini minta kumakan rupanya’. Ketika azan maghrib tiba, mulailah aku melahap kolak itu habis sampai piring-piringnya. Hahahaha. Hidup sendiri di perantauan itu memang akan membuatku jadi lebih mandiri. Karena aku hidup sendiri. Kalau hidup berpasangan berarti aku sudah menikah. Hmmm, baper. Puasa boleh baper ga ya? Puasa di perantauan itu menyenangkan kok, apabila kita dapat menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat (sok bijak). Kan, tidurnya orang yang berpuasa juga ibadah, daripada melakukan hal2 yang dapat membatalkan puasa, lebih baik tidur. Tapi kebanyakan tidur juga gak enak, bikin kepala jadi pusing loh. Kalau bisa tuh ngaji, sholatnya dibanyakin yang sunnah-sunnahnya dikerjain gitu. Begitulah puasaku di perantauan. Semoga seluruh umat muslim yang berpuasa mendapat rahmat dan karunia dari Allah SWT, amiin.