Syukur yang Menggenapi
"Syukur itu menggenapi segalanya, termasuk perasaan-perasaan ganjil di hatimu."
Tulisan ini saya buat terinspirasi dari percakapan antara salah satu penumpang dengan pengemudi bus pengumpan kemarin, sebab bus tersebut cukup lengang, hanya ada empat orang di dalamnya termasuk pengemudi tersebut sehingga semua percakapan terdengar jelas. Sepertinya, penumpang tersebut sudah cukup mengenal pengemudi bus itu hingga terjadi percakapan berikut ini:
Pengemudi: Mbak, akhirnya saya udah mulai nabung.
Penumpang: Oh iya, Pak? Alhamdulillah, setiap hari lima ribu?
Pengemudi: Enggak, Mbak, saya coba setiap hari lima belas ribu.
Penumpang: Wah lebih dari target dong, bagus Pak, mudah-mudahan dilancarkan semuanya, niat baik pasti dimudahkan ya, Pak, Insya Allah.
Kemudian mereka melanjutkan kembali pembicaraan mereka yang akhirnya dapat saya simpulkan bahwa si pengemudi tersebut menabung untuk membeli hewan qurban kambing untuk Idul Adha tahun depan. Iya, betul, untuk tahun depan, di saat Idul Adha baru lewat belum ada sebulan lalu pada tulisan ini dibuat. Mendengar percakapan tersebut, kemudian kepala saya mulai membuat kalkulasi, jika Rp15.000,- sehari maka dalam 30 hari beliau dapat mengumpulkan Rp450.000,- dengan asumsi saya bahwa pengemudi bekerja setiap hari, atau anggaplah 22 hari kerja maka setiap bulan terkumpul Rp330.000,-, dan mengingat kalender Hijriah selalu maju 10-11 hari setiap tahunnya maka kemungkinan beliau dapat menabung 11x setiap bulan. Jadi dalam 11 bulan tersebut tabungan beliau berkisar 3,6juta - 4,9juta.
Mungkin bagi sebagain orang itu hanyalah percakapan sambil lalu yang tidak perlu dipikirkan, tapi bagi saya ada beberapa hal yang dapat dijadikan pembelajaran.
Pertama, bahwa beliau di tengah segala keterbatasan yang ada tetap berusaha membangun konsistensi untuk mencapai tujuannya. Tujuan beliau tidak muluk - hanya ingin berqurban kambing -, tentu bahkan bagi sebagian orang ini pun sepertinya sulit mengingat kondisi ekonomi saat ini, namun beliau memilih untuk tidak menyerah menabung setiap harinya agar tujuannya tercapai. Tentu saya yakin pada saat pelaksanaannya, ada momen di mana mungkin pada hari tertentu beliau tidak dapat menabung sesuai target atau bahkan tidak menabung, tapi itu bukan soal, kembali lagi kita bicara soal konsistensi di sini.
Saya selalu berkata bahwa mimpi itu juga butuh nyali, sebab mimpi tidak akan terwujud tanpa aksi, dan aksi butuh nyali untuk tetap berjalan.
Kedua, bagi sebagian orang 300 ribu sebulan mungkin bukan uang yang besar, namun bagi sebagian lainnya bahkan untuk mengumpulkan jumlah tersebut butuh konsistensi setiap hari menabung. Hidup memang hadir dengan berbagai ketimpangan sosial, tapi memang demikianlah hidup, tidak pernah adil. Sebab setiap orang tidak memulai dari titik yang sama. Bagi saya, yang hidup dengan segala keberuntungan yang ada mendengar percakapan tersebut selalu mengajak kaki saya kembali berpijak ke bumi.
Sebab beberapa dari kita sibuk untuk melihat segala sesuatu yang tidak ada. Kita sudah mencapai banyak hal namun karena kacamata yang kita pakai hanya melihat apa yang belum tercapai, kegagalan dan apa yang kurang dari hidup kita, tanpa sekali pun menyadari bahwa sebenarnya banyak orang yang bahkan ini bertukar nasib untuk berada di posisi kita saat ini. Sesekali barangkali, kita perlu menukar kacamata kita, mengganti sudut pandang kita dari sisi lain, sebab hidup ini terlalu melelahkan ternyata jika mengejar apa yang belum tercapai dan perasaan yang selalu merasa kurang tersebut. Kadang kita perlu sesekali mengatur napas kembali, melihat sekeliling kita dan belajar grounding lagi bahwa hidup ini tidak begitu menyedihkan, seringnya justru kita yang terlalu keras terhadap diri sendiri. Mungkin, kita perlu belajar adil setiap harinya, bahwa setiap 1 hal kegagalan atau hal kurang dalam hidup kita, kita harus menyebut sekurang-kurangnya 3 keberhasilan atau hal yang lebih dari hidup kita. Sebab, seringnya kita sudah memiliki banyak hal, kecuali rasa syukur itu.
Dari situlah, rasa syukur akan hadir, untuk mengganti persepsi kita tentang hidup, bahwa di balik hal-hal yang belum tercapai tersebut, ada hal baik lainnya yang melengkapi. Tidak, saya tidak mengatakan bahwa perasaan gagal atau kurang itu akan hilang, perasaan itu mungkin akan tetap ada, hanya saja kali ini, ada rasa syukur yang menemani sehingga rasanya tidak sepahit sebelumnya. Dan memang, rasa syukur itu membuat segalanya cukup.
J.
.22062026.









