Perihal Belajar Mencintai
"It is such an honour to be able to love someone through their several seasons of their live."
Saya menemukan kalimat itu hari ini ketika saya sedang membuka media sosial dan kalimat itu membuat saya diam sesaat dan berpikir. Sebab, kadang kita lupa makna dari cinta karena ya barangkali kita hidup dengan rutinitas dan segala perjalanan hidup lainnya. Bukan karena kita tidak menjalani apa yang disebut dalam kalimat itu, kita menjalani, hanya saja kita tidak menyadari bahwa ternyata mencintai seseorang bisa bermakna sedalam itu.
Bagi saya pribadi, mencintai berarti to give and to accept, tapi sebentar, pemahaman saya jauh dari cinta sebagai transaksional. Pemahaman saya perihal cinta yang memberi adalah bahwa ketika kita mencintai, kita tidak segan-segan untuk memberi, dari memberikan segala effort yang kita bisa, memberikan waktu kita dan percayalah, waktu adalah hal termahal yang bisa kita berikan kepada orang yang kita cintai. Kita hadir, tidak selalu hadir secara fisik, namun kita benar-benar hadir membersamai setiap proses yang dijalani oleh pasangan kita. Meluangkan waktu, di tengah kesibukan kita untuk sekadar mengabari atau menjawab pesan dari pasangan kita.
Sementara tentang to accept, maksudnya adalah bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, termasuk diri kita maupun pasangan kita. There is no perfect love and no perfect partner. Saya pernah mengatakan bahwa kita adalah apa yang membentuk kita sejak kecil entah itu pembiasaan, lingkungan keluarga maupun luka dan trauma yang ada. Ketika kita memahami hal tersebut, kita semakin sadar bahwa tidaklah adil jika meminta pasangan kita untuk mencintai kita sebagaimana kita mencintainya, sebab cara mencintai setiap orang berbeda dan tentu kita tidak dapat memaksakan hal tersebut. Menerima kekurangan pula menjadi cara kita belajar bahwa ketidaksempurnan itu hadir bukan sebagai penghalang namun pemahaman bahwa hidup ini indah apa adanya. Dengan adanya pemahaman itu juga kita belajar caranya memaafkan, sebab pasangan kita tidak sempurna, begitu juga kita. Belajar mencintai adalah belajar memaafkan.
Cinta hadir dalam banyak wajah yang mungkin tidak kita sadari. Kadang dia sembunyi dalam pesan-pesan singkat menanyakan kabar atau balasan pesan yang hadir di tengah segala kesibukan, kadang pula ia hadir dalam setiap senyum dan telinga yang teliti mendengar setiap keluh kesahmu tak peduli semalam dan selelah apapun dia hari itu, ia pun hadir dalam bentuk orang yang selalu hadir dalam setiap fase hidupmu dan selalu menjadi pendukung utamamu yang merayakan setiap pencapaianmu dan mengobati setiap sedihmu.
Cinta juga bisa hadir dalam diam. Ketika kalian sedang bertengkar namun kamu tetap memperhatikan keadaannya, memastikan bahwa dia sudah makan, atau bahkan sekadar berusaha untuk tidak menggunakan kata-kata kasar ketika bertengkar dan berusaha mendengarkan dari sudut pandang pasangan.
Kadang, kita memang tidak menyadarinya, atau mungkin telat menyadarinya, tapi coba sesekali perhatikan, banyak cinta yang hadir dalam hidup kita dan seringnya tidak kita sadari karena tidak ada kata-kata yang menyertainya, hanya tindakan.
Untuk mencintai juga menerima bahwa cinta selalu sepasang dengan luka. Memahami bahwa ketidaksempurnaan orang lain dan ekspektasi kita akan sesuatu yang akhirnya bergesekan dan membuat kita kecewa. Kahlil Gibran, dalam bukunya Sang Nabi (The Prophet) mengatakan:
""Ketika cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal dan berliku-liku. Dan ketika sayapnya merengkuhmu, pasrahlah serta menyerahlah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu."
Ada kalimat yang juga saya suka dari serial Netflix Sex Education: "You have to let the people you love know that you love them even if it causes you a great deal of pain. Because, you are alive."
Icarus mungkin jatuh ke laut dan tenggelam karena dia terbang terlalu dekat dengan matahari, tapi setidaknya dia berhasil terbang sejauh yang dia bisa. Jadi, jatuh cinta saja, sedalam yang kamu bisa, berjuang sampai kamu tidak mampu berjuang lagi. Setidak-tidaknya kamu bisa mengatakan bahwa kamu sudah berjuang semampumu dan jatuh cinta sedalam-dalamnya dirimu. Tak ada penyesalan setelahnya.
Jatuh cintalah, dengan tidak kehilangan dirimu sendiri. Jatuh cintalah dengan tetap memahami bahwa ketidaksempurnaan kita dan pasangan kita yang membuat segalanya indah. Kemampuan berkompromi dan menyelesaikan konflik sebab ada yang lebih penting dari sekadar ego pribadi. Keinginan untuk tidak menyerah setiap ada masalah.
Dan jika kita terluka, gagal dan kecewa, jangan berhenti untuk percaya bahwa akan ada orang lain di luar sana yang akan hadir untuk kita yang akan mencintai kita, tidak pernah menyerah untuk kita. Dan orang yang tepat tersebut, tentu akan hadir di waktu yang tepat, bukan waktu yang tepat menurut kita, tapi menurut semesta.
Pada akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan mengatakan kembali to love someone is a privilege, because apparently not everyone has an ability to love. Also, love is a beautiful thing that makes us feel alive, jadi jangan takut untuk jatuh cinta.
J.
.2805206.














