Some Jumbled Thoughts on Higher Education, Being a Super Student, My Own Insecurities, and Some Other Things that canāt be Mentioned Individually
Sebelum memulai: gimana sih meng-emphasis maha di mahasiswa? Mahasiswa bahasa Inggrisnya tetep student aja kan ya? š
OK. So. I suddenly want to talk about this⦠but my thoughts, as usual, is a nonlinear occurrence that even an expert in linearization will not find a surefire way to linearize it. Itās not them, itās me. My brainās just that bad. If you want to read this, be warned! This is going to be long. So far Iāve only written less than 100 words, but I know this is going to be probably even longer that my longest scientific paper yet. All hail hypebole! Oh well.
Waktu awal-awal S2, saya beberapa kali bikin postingan tentang memilih pendidikan tinggi. In hindsight, itu mungkin cara saya meyakinkan diri bahwa saya mengambil pilihan yang benar. Jadi sejak lulus S1 saya tu udah kebayang-bayang pengen lanjut sekolah, tapi engga pede. Dan ini di-back up dengan bukti nyata bahwa IP saya mepet-mepet batas minimum PNS š which kalo dibandingin ama temen-temen, termasuk kasta bawah (bukannya mau bilang PNS itu kasta bawah⦠tapi ya⦠memang batas minimum untuk daftar PNS ngga setinggi perusahaan laen kan⦠which I think is very generous and accommodating). Jadi kek saya tu bisa dapet kerja dengan kondisi mengenaskan begitu tu udah bersyukur banget.
Tapi yaaaaa due to some circumstances, akhirnya saya berani untuk mengambil pilihan itu. Yang menarik adalah, kalo orang bilang masa pencarian jati diri itu pas SMA. Lha saya baru menemukan hal yang disukai pas S1, dan ternyata semakin banyak memahami diri pas S2. I went into grad school expecting some hardcore school stuff (well, there were hardcore school stuff), and I got out with a much better understanding of myself, of what Iām actually capable of doing, and a whole lot of experience yang saya yakin ga semua grad student mendapatkannya:
Merencanakan penelitian, like, real research, with funding and everything, bukan sekadar tesis
Ngepanitiain plus presentasi di international conference
Belanja ke luar negeri trus bayar pajak masuk 4,6 juta (berkat ketidaktahuan š)
Dan dari semua pengalaman itu (dan hardcore school stuff), saya jadi paham kalo saya tu⦠capable kok. Ngga bodo kok. Walopun, lagi-lagi, saya lulus dengan IP mepet-mepet. Tapi kali ini untungnya mepet syarat minimum daftar LPDP š
.
Dulu saya ga percaya kalo ānilai ngga menentukanā. Maksudnya, mungkin ngga 100% menentukan kadar kecakapan seseorang, tapi at least indikatif akan level kecakapan tertentu. Jadi saya tetep merasa nilai itu penting. Tapi, setelah melalui hampir 3 tahun sebagai grad student, I realize that I suck at school š. And this brings me to the next point: sekolah tu bukan buat semua orang. Semua orang perlu mendapat pendidikan, tapi ngga semua harus sekolah. ćØęćć¾ć.
Beberapa waktu belakangan ini saya banyak baca tentang cognitive functions. Crash course bagi yang belum tau apa itu cognitive function, jadi katanya tiap orang, or at least tiap tipe kepribadian MBTI, prefer satu set susunan/stack cognitive function tertentu. Nah susunan ini Ā menjelaskan bagaimana seseorang mengumpulkan informasi dan membuat keputusan. In short, how a person functions. Misalnya tipe MBTI saya INTP, function stack saya introverted thinking (Ti), extraverted intuition (Ne), introverted sensing (Si), dan extraverted feeling (Fe).
Iām no expert in this, Iām just saying what I think I have understood about this.
Nah, Ti itu saya ngeliatnya kayak komputer. It keeps on computing, calculating, crunching equations like thereās no tomorrow. Ne itu generating ideas, nyari hubungan antara berbagai hal, branching out ideas, dst. Ti digabung sama Ne jadinya terus-terusan memproses kemungkinan-kemungkinan yang semakin lama semakin meluas. Apa dampak sosialnya? Seorang INTP banyak menyendiri dan banyak procras karena sibuk sama isi kepalanya sendiri. This is literally me.
For the longest time, I felt like an alien. I didnāt understand people (inferior Fe), people didnāt understand me. I have to self-deprecate to look harmless and approachable (inferior Fe). I felt like an impostor, how I interact with people felt fake. And I couldnāt keep up with hardcore school stuff to save my life (tertiary Si)āwhich I blame as the main reason why IP saya jongkok banget. At some point, saya berpikir kalo saya aneh dan payah.
BUT! Setelah belajar cognitive function, saya tau kalo saya tu ngga bodo. Saya ngga payah. Iām just wired differently. Not trying to say that āimma not like other girlā, but⦠coba deh kalian cek temen-temen kalian, ada ngga yang kerjaannya menelurkan dad jokes pada saat yang paling random, menghubung-hubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang⦠sebenernya tidak berhubungan, dan kalo lagi ada di tengah-tengah forum, tiba-tiba dia kek menerawang, trus pas ditanya dia kaget dan minta pertanyaannya diulangādan setelah pertanyaannya diulang, dia akan mempertanyakan pertanyaan tersebut sebelum ngasih jawaban. Sepanjang pengalaman saya sih jarang banget ketemu orang kayak gini. Lebih tepatnya, di lingkaran sosial saya, yang cukup sulit dibilang āsosialā, cuma saya yang begini. Or maaaaaybe Iām just living inside a very tiny, limited, shell. Who knows.
Anyway. Jadi, kalo saya ngga bodo, kenapa nilai saya jelek?
Because I suck at school. Thatās the only explanation. Kenapa saya susah banget ngikutin ritme kuliah yang di saat bersamaan ada kelas, ada tugas, ada tugas besar, ada ālingkaran sosialā, ada penelitian, ada⦠AAARGH!!! Yang membuat lebih frustrasinya lagi adalah⦠I actually didnāt hate those things. The classes were interesing, and I was curious about them. But I couldnāt, for the life of me, nyicil kerjaan yang banyak itu satu persatu.
Dari situ saya sadar, kalau sekolah itu didesain buat orang-orang yang Si-nya lebih dominan. Seperti ISFJ (SiFeTiNe) dan ISTJ (SiTeFiNe). Si itu cenderung merapikan informasi. Jadi kek bayangin di dalem kepala itu ada rak tempat menyimpan informasi dengan rapi sesuai kategori. Orang-orang dengan Si yang dominan biasanya rapi, tertata, dan sepanjang pengamatan saya sih, ketika harus detour (misal lagi ngerjain tugas matkul A, terus berhenti dulu buat masuk kelas B), mereka bisa balik lagi ke titik asal dengan mudah. They are masters of routine and organization! They stick to the tried and true like scraps of paper to a ruler with static electricity. Dan itu adalah trait yang sangat bermanfaat untuk melalui sistem pendidikan seperti yang kita kenal sekarang.
Dan bukan cuma saya yang merasa begini. Kemarin-kemarin lihat di sebuah video yutub yang ngebahas kenapa kalo INTP itu tipe yang pinter (katanya Einstein INTP), di sekolahnya payah? Ya ini penyebabnya, karena cara berpikirnya ngga cocok dengan sistem pendidikan yang ada.
Yang membuat saya berpikir, kalau semua orang harus masuk ke sistem yang sama, dievaluasi dengan cara yang sama, lalu dibandingkan satu sama lain⦠itu adalah sebuah ketidakadilan. Agar bisa menjadi adil, antara:
1. Sistem sekolahnya diganti, somehow.
2. Ngga perlu semua orang sekolah.
Soalnya saya sedih juga sih liat ponakan saya yang anaknya aktif banget, ngga bisa diem, susah fokus, gitu-gitu. Katanya anak seperti itu bagus macem di Sekolah Alam, yang kegiatannya banyak aktivitas, ngga sekadar duduk di kelas. Tapi kan mahal yak⦠jadi yang sesuai kemampuan orang tuanya ya SD biasa aja, yang semua anak diperlakukan sama dan diberi standar yang sama. Teman yang guru bilang soal murid yang ngga bisa ngikutin pace temen-temennya di kelas, āTetep naik kelas, tapi naik kelas gusur.ā Alias yaa⦠terseret-seret aja gitu.
Which I think is a problem. Which I donāt have a solution yet⦠kalau mau pake opsi 1 di atas.
Tapi opsi 2 juga problematik kan⦠karena ngga semua orang kalau ngga sekolah tu bakal belajar. Ngga semua orang tua bisa/mau ngajarin anaknya. Padahal ada bagian dari kurikulum sekolah yang penting banget, seperti calistung. Belum lagi, di masyarakat saat ini kek ada stigma tertentu tentang orang yang ga sekolah. Masa depannya surem lah, bodo lah, apa lah.
Tapi kalo ngeliat sistemnya, at least saat ini, menurutku ngga perlu menganggap sekolah itu kek sesuatu yang kalo nggak dilakukan jadi aib banget. More importantly, ngga perlu meng-kasta-kan pendidikan tinggi. Karena menurutku sayang banget kalo orang masuk S2, apalagi sampe S3, āhanyaā karena gengsi atau kenaikan jabatan atau semacamnya. Atau karena ādisuruh orang tuaā. I mean, kalo masuk S2 kan kemungkinan udah di atas 20 tahun ngga sih⦠menurutku aga sedikit terlalu tua untuk menggunakan alasan ādisuruh orang tuaā. Walaupun nurut sama orang tua juga ngga salah. Tapi⦠di usia segitu biasanya sih orang udah terekspos berbagai gagasan dan paradigma yang aneh-aneh, jadi yaa mungkin udah bisa beropini sendiri. Probably? š¤·ā
Pas wawancara seleksi LPDP, saya ditanya kenapa harus S3, dan kenapa LPDP harus membiayai saya. Which I think is a legit question, dan menurut saya seseorang tu harus punya alasan lebih kenapa mau S3. Lebih dari sekadar āsejak kecil udah cita-cita jadi doktorā, atau āpekerjaan menuntut saya S3ā, atau ākarena ada kesempatanā.
Tapi apapun itu, perkara dia menyebutkannya kepada pewawancara itu sesuatu yang beda lagi ya⦠𤣠And Iām especially mentioning this because I do have my own reasons for pursuing higher education, and that it is not as noble as wanting to contribute to the country, or even the humanity. Because, my dreams are my own, I want to achieve them because I want to.
Sure, mau dong berkontribusi untuk negeri. Tapi tetep apa yang saya kontribusikan itu ya sesuatu yang saya ingin kontribusikan, bukan karena it is what should be done or some practicality. Jadi kek saya tu harus mencari apa yang bisa diekstrak dari apa yang saya pengenin yang bisa well-received sama orang kebanyakan, and thatās my sort of ābig dreamā. Honestly though⦠Iām doing it because I want to. And I think that it is something I can do.
Ok⦠at this point, in total I have written 2.3k words, and from this point specifically there are 700+ words below. Which I think Iām not going to include in the post because they are more meandering than what I have written up there. Iāll probably come back to it though⦠I donāt know.
This is where Iām gonna stop for now.