Mendengarkan dan didengarkan
Beberapa bulan lalu, mungkin setengah tahun yang lalu tepatnya. Tak sengaja saya dan beberapa teman saya semasa remaja reuni di acara teman seangkatan kami yang lebih dulu menikah. Seperti biasa kami lanjut dengan ngopi sebentar sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Kurang lebih enam orang. Dan salah satu di antara mereka baru pertama kali ini kulihat. Dia menyapa terlebih dahulu “Intan ya?” katanya.
Karena jujur saja aku baru melihatnya kali itu kuulurkan tanganku, “Hai, apakabar?” balasku dengan sesopan mungkin. Segan bertanya nama.
“Pasti ga tau aku kan? Mr. X.” katanya.
“Ooohh” jawabku polos. Karena saat remaja dulu aku sering mendengar namanya tapi sama sekali belum pernah tahu yang mana orangnya. Dan dia membalas dengan tertawa.
Yah begitulah awal permulaan kamu bertemu. Orangnya bucin abis.
Sampai pada waktu menunjukkan pukul 22.00, sepertinya memang semakin malam akan semakin bermutu saja pembahasannya. Dan aku bukan orang yang anti dikritik, sehingga kuhabiskan waktuku hampir satu jam mendengarkan kritik darinya tentang diriku yang merupakan awardee dari beasiswa LPDP. Inti dari kritikan yang dia berikan intinya begini:
1. Anak beasiswa itu hanya menjadi beban negara, dan belum pasti memberikan keuntungan bagi negara di masa yang akan datang.
2. Uang yang diterima anak beasiswa akan lebih baik jika dialokasikan kepada rakyak miskin saja.
Seperti biasa sebelum aku menyanggah pertanyaan orang tersebut, aku haruslah lebih dahulu melihat seberapa jauh lingkar pertemanan orang tersebut, apakah dia punya cukup banyak teman sehingga bisa cukup tahu kehidupan anak-anak yang mendapat beasiswa, jika tidak maka saya tidak bisa memberikan sanggahan, karena akan berujung pada debat kusir semata. Kedua, saya harus melihat karakternya, orang yang keras hati tentu saja akan sulit menerima pendapat orang lain. Dan yah, malam itu saya hanya diam saja. Bukan maksud diri tidak bisa membela diri ketika dikritik demikian. Hanya saja aku bukan orang yang mau membuang waktu dan tenaga untuk menjelaskan sesuatu kepada orang yang bukan kapasitasnya, dan hanya sedang mengujiku, bukan berniat mendengarkan jawaban dariku.
Namun di sini coba akan aku tuangkan. Sebab jika orang lain bertanya dan mengkritikku sekali lagi, tak perlu capek-capek menjelaskan. Cukup ku kirim saja tulisan ini kepada yang bertanya dan yang mengkritik.
1. Reviewer, penyeleksi, pewawancara bukan orang bodoh. Jika tak salah aku mendengar, mereka yang menyeleksi beasiswa LPDP minimal lulus S2 dengan kemampuan linguistik yang di atas rata-rata, memiliki jam kerja yang cukup tinggi. Bahkan gaji per sesinya mereka mencapai Rp 5 jt per sesinya. Termasuk salah satu yang mewawancaraiku saat itu adalah seorang profesor di salah satu kampus ternama di Indonesia. Dan pasti anak-anak yang lolos hingga tahap akhir bukan orang yang hanya suka ngopi menghabiskan waktunya untuk membicarakan hal-hal tak berfaedah. Mereka mempunyai mimpi, harapan, kerja keras, hingga reviewer yakin bahwa mereka adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan negeri ini. Apabila ingin mencoba, dengan senang hati aku persilahkan mencoba semua tahapannya. Agar tahu dengan pasti bagaimana prossedur seleksi ditetapkan dan seperti apa anak-anak yang terlahir dari beasiswa tersebut? Silahkan laporkan ke pihak yang berwajib apabila benar ditemukan anak-anak yang tidak memenuhi kualifikasi.
2. Jika masih penasaran apa saja syarat mendaftar silahkan unduh booket yang ada dan bercermin, apakah layak merendahkan seseorang yang mungkin tidak pernah membanggakan sederet penghargaan dan pencapaiannya di depanmu? Mereka menyimpan hal tersebut rapat-rapat. Maka kamu tertipu oleh matamu sendiri sehingga akal dan hatimu buta karenanya. Selamat, mungkin temanmu bisa menemanimu di masa mudamu, tapi tak banyak dari mereka akan menghadiahkanmu jalan mudah menuju kesuksesan. Bila bisa aku sarankan, basuh dulu bagaimana caramu melihat manusia lain sehingga pandanganmu yang kotor dan suka merendahkan orang bisa luntur dan bisa menghargai manusia sebagaimana kamu ingin dihargai. Dan semoga kamu beruntung melihat banyak pencapaian mereka suatu hari nanti yang membuatmu menjadi seolah-olah manusia yang telah merugi karena tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk tholabul ilmi, padahal di bumi Allah yang luas ini, terhampar milyaran bahkan triliunan ilmu yang takkan sanggup kau khatamkan seumur hidupmu.
3. Berhenti berfikir bahwa pandanganmu adalah pandangan terbenar di seluruh semesta. Jika kamu hendak memahami seseorang maka kamu perlu bergaul dengannya, memahami tujuan hidupnya, dan memaknai semua perjuangannya. Mana bisa kamu menilai seseorang hanya dari cara ia berbicara saja. Bahkan kamu tak mengenalnya lebih dari sehari. Bacalah buku lebih banyak, edarkan pandanganmu ke seluruh penjuru bumi, dan lihatlah betapa kecilnya manusia yang berusaha menyingkap tabir dunia ini.
4. Tak semua manusia lahir dengan sendok perak dimulutnya. Banyak dari mereka hidup dengan semangkuk bubur ditangannya setiap pagi, bukan karena ia gemar makan bubur tapi karena menghemat persediaan nasi di tungku rumahnya. Untuk mengisi perutnya saja ia setengah mati harus berjuang. Apalagi untuk mengisi kepalanya. Maka pemerintah mencoba memberikan kesempatan kepada anak-anak yang mungkin tidak cukup beruntung di dunia ini dengan memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan seperti halnya kamu, yang sejak kecil tak pernah was-was menunggak biaya sekolah. Bersyukurlah saat orangtuamu memiliki rizki yang melimpah, maka kamupun bisa menikmatinya dengan hanya duduk-duduk sepanjang hari. Jangan menghina, jangan dengki, barangkali Allah membalikkan semuanya, dan kita sebagai manusia bisa apa? selain berusaha dan memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberikan cintanya di dunia dan akhirat?
Maka jangan sekali-kali mencela, mengatakan hal-hal yang menyakitkan kepada orang lain. Cobalah bertanya dengan nada yang indah diterima telinga. Kamu manusia dan orang yang kamu ajak bicarapun manusia. Sama-sama punya hati. Semoga Allah swt membukakan hatimu dan melembutkannya. Semoga panjang umur dan diberkahi rizki yang melimpah. Darimu aku belajar untuk berkata lebih baik, terimakasih.