Sambil memandangi timeline media sosial-nya yang lampau, perempuan 25th itu kian merenung. Kehidupan yang sangat bebas akan pergaulan anak muda dipamerkannya dengan sangat bangga. Berpakaian minim untuk dipamerkan di Instagram, membuat cuitan amoral di Twitter, berjoget mengumbar aurat di Tiktok, dan masih banyak lagi. Merasa keren, gaul dan open minded, ia kini menyesal atas segala perbuatannya.
Sangat jauh dari perilaku seorang Muslimah. Tergesit pikiran dalam dirinya, "Apa gunanya ber-ibadah 5 kali sehari jika tidak menjaga adab?". Dilanjut dengan beberapa penemuan -yang tidak disengaja- pada beberapa halaman media sosial, melalui kutipan QS. Al An'am : 91, Allah berfirman:
Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.
Seketika kalimat Allah itu menampar-nya. Ia mulai menyadari terdapat sesuatu yang salah pada dirinya. "Apa yang selama ini aku lakukan? Kenapa dengan bangganya aku terang-terangan melakukan kemaksiatan disaat Allah menutupi aib-ku rapat-rapat?".
Kemudian ia memulai untuk membaca beberapa kalimat Allah yang lain, QS. Al Ankabut : 64
Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.
Kalimat indah tersebut membuat merinding, membenarkan adanya bahwa dunia ini fana dan bersifat sementara. Sebenarnya apa yang dikejar dalam dunia yang penuh kepalsuan ini? Rasanya baru kemarin bermain petak umpet kemudian mengompol di celana, sekarang sudah harus bekerja dan berfikir bagaimana caranya agar hemat dan tetap bisa menabung bersamaan dengan kebutuhan skincare, paket data, makeup, hobby dan keperluan lainnya. Waktu berjalan sangat cepat sekali. Taubat di hari tua menjadi tantangan apakah umurnya sampai? Bagaimana jika tidak?
Pikiran-pikiran random bermunculan, membawa ketakutan sekaligus peringatan. Mau taubat tua takut umur tak sampai, mau seketika taubat full loss menjadi ukhti ber-niqab, cemas tidak bertahan lama. Akhirnya mengambil jalan tengah dengan taubat pelan-pelan, percaya progress sambil berjalan, semoga Istiqomah. Berusaha menjadi better version of yourself, menjauhi larangan dan mengikuti perintah-Nya. Meskipun belum sempurna, tapi yakin hasil proses itu nyata.
Untuk diriku, aku minta maaf karena telah membuat versi dirimu yang buruk. Sekarang aku sedang berusaha untuk memperbaiki jiwa, hati dan raga yang kemarin kotor agar menjadi bersih. Semoga tetap menjadi penyayang, sabar dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang dirasakan selama ini. Jangan lagi putus asa ya, aku. Biarlah masa kelam itu disimpan sendiri dan Allah saja, jangan biarkan lagi orang lain menikmatinya.
Dan untuk para pembaca, diambil saja hikmah dari cerita ini, ya. Semoga tulisanku bisa mengajak kalian untuk menjadikan versi terbaik dalam diri kita masing-masing.
Terima kasih sudah membaca,