MEDIA, KAPITALISME, DAN MENTAL “SHOPAHOLIC”
Masyarakat Indonesia saat ini berada pada keadaan transisional. Kita sedang bergerak dari masyarakat agraris yang membawa nilai spiritual menuju keadaan industri modern yang materialistik. Di tengah keadaan seperti ini, muncul fenomena kegalauan budaya dan sosial. Salah satu mengenai kegalauan budaya adalah budaya konsumtif yang saat ini banyak dibicarakan. Menurut Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong, 50 persen masyarakat Indonesia memiliki sifat sangat konsumtif (dikutip dalam viva.co.id pada 26 April 2016).
Banyak analisa tentang penyebab munculnya budaya konsumtifisme ini. Ada yang melihat dari sisi sejarah. Pandangan historis ini mengatakan bahwa penyebab budaya konsumtifisme adalah adanya hubungan penjajahan dalam kapitalisme dunia. Di sini, setelah para penjajah tak lagi menguasai secara fisik dengan mendatangkan pasukan dan senjata, mereka tetap menguasai masyarakat kita dengan menyerang dengan produk-produknya. Masyarakat kita yang budaya poduktifnya lemah, jarang yang bisa menghasilkan barang, justru harus membeli barang-barang dari luar.
Budaya konsumtifisme juga bisa dilihat dari gencarnya tayangan iklan di media, termasuk TV yang meluas sampai ke berbagai pelosok tanah air, baik daerah perkotaan maupun pedesaan. Dalam teori komunikasi massa, media yang menayangkan iklan menayangkan pesan persuasif pada masyarakat dengan berbagai teknik penyampaian isi pesan. Harapan utamanya masyarakat kenal produk dan diharapkan membeli produk yang diiklankan. Tetapi ternyata efeknya lebih jauh lagi, yaitu terciptanya budaya konsumen yang salah satunya adalah penularan gaya hidup kelas atas, bintang iklan, artis, dan orang-orang kaya di kota untuk ditiru oleh masyarakat luas.
Sedangkan pilihan untuk membeli barang juga seringkali sangat disadari oleh produsen-produsen produk. Hal ini ditunjukkan dengan diadakannya diskon untuk produk-produk mereka dengan harapan produk-produk mereka menarik perhatian pembeli dan cepat habis terjual.
Intinya adalah bagaimana agar produk laku dan tertumpuk di gudang. Budaya konsumtif dan penanaman jiwa “shoppaholic” (gila belanja) juga difasilitasi oleh suatu kegiatan yang terorganisir dengan baik. Salah satunya adalah acara Surabaya Shopping Festival (SSF). Kegiatan ini adalah salah satu acara untuk memperingati hari ulang tahun kota surabaya. SSF biasanya diadakan selama satu bulan penuh pada bulan Mei dan diadakan serentak pada pusat-pusat berbelanjaan di Surabaya.
SSF tentunya akan menghadirkan produk-produk dengan harga diskon dan juga berhadiah. Hal ini tentunya akan mendatangkan keuntungan sendiri untuk para produsen produk dan pemerintah Surabaya karena Surabaya akan dipadati masyarakat pecinta produk-produk sekaligus sebagai promosi dari kota Surabaya.
Tapi apakah disadari bahwa sering kali produk yang diberi label diskon adalah produk-produk lama yang tersimpan di gudang lalu ditampilkan kembali? Tak hanya itu, produk-produk berlabel diskon pun sering didapati ada kerusakan atau kecacatan seperti coretan atau lubang. Lalu yang sedang trend saat ini adalah diskon dengan kartu ATM atau kartu kredit tertentu, tentunya ini adalah salah satu cara pebisnis yang bekerjasama dengan bank tertentu.
Dengan adanya fakta-fakta seperti itu, atau mungkin ada fakta-fakta lainnya, terlihat bahwa label diskon hanyalah salah satu cara untuk memanipulasi agar barang-barang di toko tetaplah terjual meskipun barang yang dijual masih layak atau tidak. Namun dengan fakta yang terlihat, masyarakat sering kali tidak terlalu ambil pusing dan tetap membeli produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan fenomena tersendiri. Tetap membeli meskipun tahu produk tersebut adalah produk yang belum tentu layak jual.
Gengsi merupakan salah satu alasan mengapa masyarakat tetap saja membeli produk-produk tersebut. Karena tergoda dengan sebuah merk dan label harga diskon maka mereka akan tetap membelinya. Terdapat sebuah keistimewaan tersendiri bahwa jika memiliki produk dengan merk tertentu maka tingkat kepercayaan diri seseorang akan lebih tinggi. Selain itu adanya pengaruh dari pihak lain, misal dari keluarga atau teman atau media yang memberitakan secara terus menerus bahwa terdapat acara diskon sehingga keingintahuan seseorang muncul untuk mencari tahu produk apa yang di diskon dan berapa diskonnya. Lalu jika sudah mengetahuinya, maka akan timbul keinginan untuk membeli karena melihat antusiasme yang lain.
Menjadi konsumen, baik dengan tingkat konsumtif yang tinggi maupun rendah, tetap harus mencari tahu mana produk yang memang layak untuk dikonsumsi atau tidak. Atau setidaknya kita tahu apakah produk tersebut benar-benar mendapat label diskon atau hanya cara lain agar produk tersebut laku di pasaran. Kita harus sadar apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan kebutuhan berdasarkan “diktum” budaya massa yang tercipta oleh budaya massa.
Untuk masyarakat kita, terutama bagi kita generasi muda, yang penting untuk dikampanyekan sebenarnya adalah budaya berproduksi dan berkreasi. Ini juga harus digalakkan oleh pemerintah. Acara pelatihan menghasilkan barang dan merangsang kreativitas adalah lebih penting. Jika kegiatan ini dilakukan secara massif dan dikawal oleh banyak pihak, negara kita akan menjadi masyarakat maju dan berdaya saing. Sehingga kita bukan hanya jadi pengonsumsi barang, tapi juga menjadi pemroduksi barang.*)
*) Yunita Indinabila, penyuka belajar, mulai belajar menulis di Lembaga Studi Komunikasi Literasi (LSKL).
*) Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan dalam web https://lembagastudikomunikasiliterasi.wordpress.com/2017/05/09/media-kapitalisme-dan-mental-shopaholic/ pada 9 Mei 2017