Dear, my future person
Dear, my future person.. My half of soul, and also another me.
Salaam. Thankyou for being really nice to me.
Hari demi hari, serasa lebih sulit tanpa kehadiran sapamu tertangkap indraku. Berat rasanya merindu seperti ini, aku tak kuasa untuk menemuimu leluasa.
Rasanya, ini adalah salah satu ujian untukku. Yang datangnya dari diriku sendiri. Yang datangnya kadang tibatiba menyeruak begitu saja. Sungguh, aku tidak paham dengan hati dan perasaan ini.
Kamu adalah satu-satunya manusia yang begitu tulus jiwa ini mengorbankan sebagian perasaannya. Mengalah, memberi ruang, mengikuti arah maumu. Menjadikan sabar sebagai teman jiwaku.
Sulit pikirku mendapati diriku yang seperti ini. Kadang aku juga masih tak kusangka. Mengikuti orang lain terasa sulit, karena diriku terbiasa berjalan sendiri, berlari sendiri, aku suka sendiri karena aku bisa keras dengan diriku sendiri, juga aku bisa melambat dengan diriku sendiri, melelehkan keringat dan air mata sendiri.
Namun, setelah aku mengenalmu. Aku terhenyak sebentar. Kesabaran dan kelembutan yang melekat dalam dirimu membuatku lebih banyak ingin mengetahuimu. Begitu juga dengan segala wawasan, kecerdasan, dan baiknya tutur katamu. Rasa-rasanya banyak hal yang bisa aku percayakan kepada karakter dirimu.
Aku merasa relieved, didengarkan, dan diperlakukan dengan sebaik baiknya perlakuan, dengan kalimat2 yang baik, dengan value2 yang juga sama sedang aku usahakan.
Ya, memang masih panjang langkah kita ke depan. Dan.. mungkin banyak karakter dan perilaku yang saat ini belum bisa masing-masing kita secara gamblang tersampaikan. Yang saat ini masih terbatas, kelak akan saling meleburkan batasan. Yang saat ini masih tertutup, kelak akan saling menjadi tutupan dalam satu wadah yang sama. Yang saat ini unik dengan karakternya masing2, kelak akan saling influence menumbuhkan keunikan yang beriringan.
Menerimamu, bagiku bukan hal yang begitu sulit, karena sebagian besar nilai yang melekat dirimu, adalah yang paling banyak aku butuhkan. Namun juga bukan hal yang sangat mudah, karena diriku juga perlu penyesuaian.
Yang membuat diriku yakin adalah.. kamu satu satunya orang yang denganmu aku mau mengikuti segala arahan dan keputusanmu. Yang kemudian juga aku bersedia mengalah dengan sukarela, mengorbankan egoku, mencari jalan tengah, serta bersedia terus menjadi manusia terbaik secara beriringan.
Yang aku sadari semua hal ini akan baik dan paling aku butuhkan untuk bisa melangkah bersama menjadi satu. Saling menjadi teman yang sesungguhnya teman, yang proyeksinya hingga masa depan, bahkan setelah ajal menjelang, hingga Surga Tuhan hadiahkan. β€











