#timbangngopomendingngopi Taman Wana Winulang pada suatu sore yang berangin An nampak menggegas langkah menuju salah satu ‘rumah’, orang yang dicarinya ada di sana, tepat disisi tebu-tebu kabur kanginan. Gelisah dengan jemari memutar-mutar pulpen. Persis seperti gelagat anak itu akhir-akhir ini ketika dikejar deadine tulisan. Mirip orang frustasi. “ cokelatnya dingin, tuh!” “ Hmm.. kopi.” An tertawa. Salam nggak denger, giliran kopi dibilang cokelat protes. “ Na, kenapa?” “ Aku berbahaya.” Jawab pemutar pulpen, Na. “ Hah?” “ Iya, berbahaya. Buktinya beberapa orang yang telah akrab jadi menjauh. Dan aku tak merasa telah melakukan apa-apa yang melegalkan hal itu.” “ Jangna-jangan kayak kasus temenku, dia dihindari oleh seorang ‘mas’, temennya sendiri karena dikira baper.” Na mlengos. “ Please, deh! Mereka kali yang baper. Aku temenan sama banyak orang, biasa interaksi, termasuk sama lawan jenis, apalagi aktivitas yang aku lakoni seperti desain, fotografi, videografi, media, kebanyakan disini yang aktif juga anak laki. it’s oke, biasa aja, nggak ada perasaan apa-apa.” “ Hmmm..iya deh, kali aja emang mereka yang takut baper sendirian, jadi menghindari kamu.” Na mikir. “ Eh, tapi kamu sendiri, kan, yang sering nulis dan bikin meme tentang ‘mengabaikan untuk menjaga’, batasan interaksi dan lain semacamnya. Aku tahu itu caramu mengingatkan dirimu sendiri.” “ Iya, An. Itu memang caraku, cara untuk menasehati diri sendiri, atau bahkan salah satu cara ‘menampar’ diri jika keliru. Sekalian share kalau-kalau ada orang lain yang sama denganku.” “ Nah, kan.” “ “ “ Lagian, Na, nyeremin emang deket penulis.” “ Kamu bukan satu-satunya orang yang bilang itu soal aku.” “ Ya gimana, tahu-tahu kisahku jadi cerpen.” ‘ Astaghfirullah, aku kalau bikin cerita juga aku ganti nama dan lokasinya. Tapi, cerita kamu? Emang pernah?” “ Pernah, dong, itu loh cerita yang tokoh utama pergi ke Turki.’ “ In your dream. Itu cerita imajinasi.” “ Yah, nggak apa-apalah, sekali kali berkhayal ke luar negeri. Trus sekarang gimana?” “ Udahlah. Kali aja mereka memang benar-benar menjaga diri. Aku pun harus belajar menjaga interaksi.’ “ Good. Timbang ngopo mending ngopi.