Memasuki bulan Februari ditahun ini, waktu serasa ikut berlari. Tidak terasa melewatkan bulan bulan dibeberapa tahun, dan seringkali hanya bisa menyesali apa-apa yang kurang berarti. Januari membawa kesadaranku, bahwa aku tak lebih baik dari kala itu.
Aku tidak tahu ini adalah sadarku yang sungguh, atau hanya sesaat.
3 tahun terakhir banyak hal yang terjadi padaku dan tentunya membawa cukup perubahan, baik emosional, spiritual, dan habit. "Baik buruk, naik turun." Mungkin itu yang bisa menjadi sedikit gambaran.
2 bulan terakhir ini, aku sering terjebak dengan rasa amarah, dimana ialah akumulasi rasa yang belum sempat ku sampaikan dengan baik, atau pelampiasan dari rasa kesal yang tak berujung hingga hari ini.
2 hari ini aku menyadari, bahwa meluapkan segala rasa kepada manusia, membuat diriku bergantung sepenuhnya.
Rasanya jika tak mengeluarkan apa yang ada, aku tidak merasa lega. Semakin sering aku bercerita kepada manusia, ikatan itu semakin kuat dan sulit lepas.Â
Bukankah untuk saat itu aku keliru menilai diriku?
Untuk itu, aku coba menahan agar tidak tergoda alih-alih agar melepas diriku dari ikatannya.
Hari ini ku sadari sepenuhnya, bahwa aku telah melewatkan kesempatan untuk menumpahkan air mata dalam sujud kepadaNya. Itu berarti, aku telah salah berharap beberapa waktu itu dan inginku terlepas dari perasaan bergantung kepada selain-Nya. Sungguh ini tidaklah mudah.
Tulisanku yang lainnya mengingatkanku, agar aku berhenti. Mungkin untuk itulah aku menulis ini, karena seringkali sebagai manusia aku melupa. Iya lupa, tentang apa-apa yang sudah ku pelajari dalam bab-bab kehidupan.Â
Mengulang kesalahan memang lebih mudah, tapi mempertahankan apa yang sudah dijaga itu lebih sulit.Â
Bukan berarti dengan menulis ini aku menjamin diriku sepenuhnya untuk memahami, tapi aku berharap dengan menulis ini aku bisa membacanya kembali dan intropeksi, barangkali terjebak dikeadaan yang sama untuk kesekian kali.