Patah hati terbesarku saat ini adalah mengetahui bahwa anakku memiliki ibu seperti diriku.
Aku tau tidak ada manusia yg sempurna, tapi aku merasa aku ini hancur. I’m broken. Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri, mengurus perasaan, pikiran, kebutuhanku sendiri, sementara ada malaikat kecil yang dititipkan padaku untuk aku didik. Aku merasa tidak bisa. Aku merasa payah. Aku merasa tidak sanggup mengurus tanggungjawab ini.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin menelantarkannya, aku ingin tahu bahwa aku sayang padanya tapi dia berada didekatku bukan opsi terbaik rasanya. Aku tidak tahu kenapa dalam kondisi bagaimanapun seorang anak harus bersama ibunya. Aku merasa aku tidak akan mampu. Aku takut dia akan terluka.
Saat ini ia masih kecil dan sudah merasakan energi burukku. Aku tidak mau itu memengaruhinya. Aku ingin ia tumbuh dengan baik dari jauh. Jujur aku ingin bersamanya, tapi menakutkan kalau tau ia akan terluka kalau bersamaku.
Aku serperti piring pecah yang terbelah-terbelah dan harus menampung bubur basah. Aku tidak sanggup memikul semuanya. Aku tidak bisa meminta maaf pada anakku karena aku tidak tau apa yg salah dariku. Aku takut dia menjadi lemah dan rusak sepertiku.








