Sedang merefleksi hal-hal yang terjadi begitu cepat; dalam keadaan fikiran tidak fokus, gegabah, cemas, resah, dan berharap akan ada satu titik pemecahan masalah; yang berujung menambah masalah.
Mungkin sebutlah saja itu sebaga teguran dari Allah.
Ya, aku tidak mengikuti tanda dari Allah sejak awal.
Ya, aku tidak mengikuti sisa intuisiku yang masih bekerja.
Ya, aku tidak mengumpulkan banyak informasi sebelum beraksi; tidak seperti biasa-biasanya yang harus super duper teliti.
Ya, aku juga tidak berdiskusi dengan siapapun sebelum beraksi, karena berfikir harus segera cepat selesai, sedangkan orang lain yang ingin kuajak berdiskusi juga tentu punya urusannya sendiri.
Ya, aku selalu begitu, mengulang-ulang kebodohan yang sama; aku dan segala kebodohanku yang berulang.
Ya, tindakan yang ini didasari oleh pikiran yang tidak jernih, rapuh, memikirkan secara berlebihan solusinya bagaimana, berfikir secepat yang kemungkinan bisa ditempuh, tapi ya lihatlah, semua malah kacau.
Mungkin awalnya aku merutuk ββkebodohan apa lagi ini yang sedang kubuat?ββ merugikan diri sendiri, dan mungkin orang lain. Memberikan trauma lagi kepada diri sendiri, menyusahkan diri sendiri, padahal berniat menyelesaikan kekacauan satu persatu. Yang setiap harinya tentu lebih dari satu. Tapi akhirnya aku aku memilih untuk bernafas pelan-pelan dan mencoba berdamai dengan hal yang baru saja terjadi.
Aku memilih untuk menguraikannya dengan cara yang sehat; bersyukur dan membalik ujian itu menjadi sebuah doa ββsemoga jadi ibrah dan anugerahββ.
Kekacauan akan setiap hari datang; meskipun dalam skala kecil. Setiap orang mengalaminya, walaupun dalam konteks yang berbeda. Selain itu, respon setiap orang juga tentu berbeda dengan kekacauan yang dihadapinya dalam satu hari tersebut, atau maksimal, dalam keseharian hidupnya; atau mungkin sepanjang hidupnya. Wallahu aβlam, kita tidak pernah tahu.
Nyatanya, alhamdulillah, aku masih bersyukur; karena aku masih bisa bersyukur; mensyukuri hal-hal baikku dibalik rasa kurang nyamanku; yang termasuk ujian itu.
Aku masih bisa merasakan kebahagiaan sahabatku yang mengirimi kabar beserta foto wisuda pascasarjananya; yang selama ini aku tahu daya dan upayanya menjalani hidup dan bertahan bukan hanya untuk kebahagiaannya sendiri. Melihat euforianya bersama keluarga besar, dari pihaknya dan suaminya; yang beberapa waktu lalu ia juga telah melangsungkan pernikahan. Dan ternyata saat inipun dia sedang mengandung anak pertamanya. Alhamdulillah.
Di hari yang bersamaan, pada waktu yang berbeda; yang justru waktu yang sama dengan aku menerima ujianku, Kakak dari sahabatku ini mengirim pesan, mengabarkan bahwa ββalhamdulillah lafadz talaq sudah terucap di pengadilanββ. Yang beberapa waktu, beliau memang mengabarkan proses perceraiannya; dengan usia pernikahan yang juga masih seumur jagung.
See? they are family. Kakak dan beradik yang dalam waktu berdekatan punya takdir yang berbeda.
Ada yang dalam garis bahagianya; setelah susah payah menjaga kewarasan hidupnya, dan bertahan dari badai-badai yang dilaluinya, ada juga yang dalam garis pahitnya, meskipun garis pahit itu terus saja dilewati dalam berbagai sisi kehidupan yang dijalaninya.
Namun pada akhirnya, begitulah cara hidup bekerja. Mungkin kita harus bahagia; untuk ikut merayakan kebahagiaan orang lain, bahkan disaat kita sendiri dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dan di satu sisi, ada prihatin yang mungkin turut dirasakan pada orang lain; tentunya yang tersayang, walaupun ia sendiri dalam keadaan bahagia.
Perasaan berkebalikan yang boleh datang di waktu bersamaan tanpa permisi, dan tanpa aturan.
Aku juga masih belum lepas dari kehangatan hari kemarin; setelah menemui seniorku di bandara, yang selesai berdinas. Mengharu karena tidak menyangka, setelah 3 tahun tidak bertemu, kami bertemu lagi, dan masih di tempat yang samaβbandaraβ walaupun berbeda bandaranya. Padahal, 3 tahun lalu, kali pertama bertemu dan mungkin saja terakhir; karena hidup berbeda pulau. Tapi ternyata tidak.
Hari kemarin juga menjadi pengobat sesenggukanku lusa malam yang kuceritakan. Dan kenyataannya, Allah selalu mendatangkan sakit bersamaan dengan obatnya. Atau yaa, lumrahnya; setelah sakit, baru dapat obatnya.
Yang ternyata, siangnya aku juga patah hati βdengan orang lamakuβ yang selama ini mungkin sedikit banyak mengisi kepalaku atau mungkin duniaku β sudah bahagia bersama pilihannyaβ sehidup sesurga, in sya Allah. Aku pikir aku baik-baik saja, tapi ternyata, tidak juga. Ada hati dan kepala yang sedikit berargumentasi atas pendapatnya masing-masing.
Belum lagi kemarin-kemarinnya lagi, juga kabar dari sahabat yang sejak awal hubungannya dengan Γ³rang dekatnyaβ aku selalu diberi kabar kemajuan. Tapi, takdir mungkin berkata lain; kandas. Dan menyisakan trauma baru untuknya saat luka lamanya pun belum sembuh.
Belum lagi balada emosi yang masih rajin kucatat dalam gawai, sebagai PR untuk laporan bulan depan, yang aku juga punya ketakutan tersendiri untuk hasilnya, tapi juga sudah pasrah untuk apapun nanti yang akan aku dengar. Karena lebih baik aku tahu, dan tidak apa-apa menjalani kehidupan seperti itu, daripada tidak tahu sama sekali.
Dan kemudian, kesimpulan yang membawa kita pada akhir, ββbanyak hal yang datang tanpa permisi; terlebih saat sakitββ.
Mungkin juga kita menunggu bahagia, tapi kadang lupa, bahagia itu juga bisa dari ΓΊpayaβ. Kita yang berupaya. Bahagia yang kita cari itu minta diupayakan. Tidak semua orang bernasib βbahagiaβ sejak hadirnya di dunia. Tapi kebanyakan dari mereka akan mengupayakannya. Sekuat yang dimampu.
Jika rasa bahagia saja minta diupayakan agar terasa hadir dan nyata, mungkin rasa sakit juga begitu. Ia ingin diupayakan untuk dirasakan dan diterima dengan sehat, diupayakan untuk βdilepas dengan sehatβ, disadari bahwa hidup kita berdampingan dengan mereka-mereka itu; beririsan. Dan itu tidak apa-apa.
Kita hanya perlu belajar hidup seapadanya, menerima sekuatnya, dan menyembuhkannya semampu yang kita bisa.