Dunia bisa menusukku dari segala sisi, dari seluruh penjuru mata angin, bahkan mungkin bumi yang kupijak bisa runtuh sewaktu-waktu. Diantara banyaknya hal buruk yang mungkin akan terjadi padaku, setidaknya ada satu hal yang selamanya bisa aku yakini.
Aku selalu memiliki tempat pulang.
Bahkan ketika aku menangis dan merasa berada diposisi paling rapuh, dia menatapku dengan tatapan teduh, tersenyum dan berkata "tidak apa-apa". Bahkan tatapan matanya seolah memeluk jiwaku. Ketika aku sudah tertidur, sedangkan ia sedang sulit terlelap, ia selalu memelukku, menyisipkan rambutku ke telinga, memelukku perlahan dan berkata "i love you". Terkadang aku mendengarnya sayup-sayup, seolah ia ingin berkata pada alam bawah sadarku, kalau ia mencintaiku dengan hangat.
Ia selalu berkata bahwa batu bisa terkikis ketika ditetesi air secara perlahan, aku menyangkal. Bahkan ombak pun tidak sanggup meretakkan batu karang, sepanjang apa waktu yang dibutuhkan untuk menetesi batu sekuat karang? Ya, aku manusia skeptis. Aku tidak terbiasa berharap tinggi karena bagiku semakin tinggi kita melompat, akan semakin sakit rasa jatuhnya. Bisa dibilang, bahkan sebelum melompat pun aku selalu takut terjatuh. Dulu pun untuk melompat keatas perahu yang dengan tegar ia siapkan pun aku tak punya nyali. Aku selalu berlindung dibalik kata 'realistis'.
Sekarang, batu itu mulai terkikis dan memberiku ruang. Pelan, tapi mengalir.
Ia adalah laki-laki yang terbiasa bermimpi tinggi, terkesan mustahil. Aku mendengarkan, diam-diam mengamini. Tapi ia bukan sekedar laki-laki pemimpi, ia berusaha sekuat tenaga mewujudkannya satu-persatu.
Sering ia bilang tidak ingin membuatku terpikir hal buruk yang mungkin menimpanya. Bisa jadi karena ia tahu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan disaat seperti itu ia masih menjagaku.
Mungkin aku tidak terlalu baik, namun bisa dibilang aku sangat beruntung. Diantara seluruh manusia yang ada di Bumi aku dipertemukan dengan dirinya. Setiap malam tertidur dihangatnya lengannya, aku yang setiap hari dan setiap waktu meminta peluknya. Ia benar, ketika diawal pertemuan ia berkata bahwa dirinyalah kriteriaku.
Diantara semua hal buruk yang pernah terjadi padaku, semesta mengijinkanku untuk bertemu dengannya. Membuatku merasa 'nyatanya ada cinta yang sehangat ini'.