Surat dari jauh
Banyak orang bertanya, apa yang membuat saya sampai ke Finlandia? Banyak hal, dan cerita berikut bisa jadi salah satunya.
Beberapa tahun lalu saat masih SMP, ibu saya berkunjung ke Tangerang untuk bertemu saya – karena kami tinggal terpisah (sejak lulus SD, saya pindah dan tinggal bersama om dan tante di Tangerang). Karena saat itu bertepatan dengan pembagian raport, jadilah beliau mengunjungi sekolah untuk menerima raport saya. Tidak ada yang menarik - termasuk nilai yang tertera pada raport saya :p, namun cerita berlanjut ketika ibu pulang ke Kupang dan bercerita pada orang-orang di kampung bahwa saya belajar disekolah yang sangat bagus dan bersaing dengan ‘bule’. Walau penggunaan ponsel saat itu belum sepesat saat ini, berita ini pun akhirnya sampai di telinga saya – lengkap dengan nama orang-orang yang nyatanya tertawa dan mencibir dibelakang ibu saya. Jahat memang kedengarannya – tapi saya mengerti betul mengapa hal ini bisa terjadi. Bagi ibu saya, teman-teman yang berkulit putih dan bermata sipit adalah ‘bule’, sementara bagi orang-orang tersebut, tentu saja teman-teman saya bukanlah ‘bule’. Tidak jadi masalah, tapi peristiwa inilah yang kemudian membuat saya mulai bermimpi.
Katakanlah saya remaja yang punya khayalan tingkat tinggi. Beberapa hari setelah kejadian itu, saya mulai sibuk sendiri memikirkan bagaimana rasanya belajar dikelas berbahasa Inggris dan bekerjasama dengan ‘bule’ sungguhan? Saya ingin berjalan diantara gedung-gedung bertembok bata merah, dengan sepatu boots dan jacket bulu warna biru tua, lengkap dengan topi, syal dan tentu saja sarung tangan - di Eropa sana pasti dingin sekali. Jangankan laptop, saat itu telepon gengam-pun saya tak pernah saya sentuh. Tapi suatu sore nanti – karena saya benci bangun pagi :p, saya ingin duduk diatas meja (ya, diatas meja), mengerjakan sesuatu dengan laptop saya sendiri saat salju diluar sana turun dengan derasnya. Kelak jika mimpi-mimpi konyol ini sungguh terjadi, orang-orang yang mencibir tadi mungkin sudah melupakan bahan tertawaan mereka. Tidak jadi masalah, yang penting orang tua saya bahagia.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya...
Hidup tidak semudah yang diharapkan...
Namun pagi ini saya terbangun dengan ingatan pada kejadian masa itu.
Ini adalah pagi ke-70 saya di Eropa. Memang bukan di Manchester, bukan juga di Innsbruck, tapi saya ada di Lappeenranta, kota kecil yang terletak kurang lebih 230 KM dari Helsinki – Finlandia, ini juga Eropa. Salju sudah turun sejak seminggu lalu, udara hampir selalu dibawah 0 derajat - kadang malah sampai -7 derajat padahal ini masih musim gugur, dan saya harus tetap pergi kekampus. Sepatu boots, topi, syal dan sarung tangan sudah dipakai sejak dua minggu lalu. Sayang, jaket saya berwarna hijau tua – karena yang warna biru mahal sekali harganya :( Tapi tak apa, karena gedung kampus saya bertembok bata berwarna merah, dan didalamnya, saya biasa mengikuti kelas internasional berpengantar bahasa Inggris, bersama kawan-kawan ‘bule’ yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Sore nanti – setelah kelas selesai, saya mau pergi kehutan dan melihat sungai yang sudah membeku. Menurut perkiraan cuaca, salju tidak akan turun sore ini – tidak juga besok dan beberapa hari kedepan meski suhu akan tetap dibawah 0 derajat. Tapi sungguh tak apa. Minggu lalu, saat autumn break – salju turun hampir setiap hari. Saya sudah merasakan bagaimana syahdunya duduk diatas meja, bersandar pada jendela, memutar instrumen saxophone, dan mulai menyusun proposal research dengan laptop warna silver saya, sambil sesekali memperhatikan salju yang turun dengan derasnya lalu mendarat pelan diatas daun pohon cemara yang tumbuh persis didepan jendela kamar saya. Sungguh, indah sekali rasanya jatuh sejatuh-jatuhnya – pada pelukan Tuhan tentunya.
Well, hidup memang tidak selalu mempertemukan saya pada hal yang menyenangkan, tapi begitulah cara Tuhan menempa hati saya. Jalan hidup setiap orang memang berbeda, tapi cara menikmatinya sudah pasti sama. Salam hormat untuk ibu yang sudah menjadi pembuka jalan untuk mimpi liar saya and last but not least, terima kasih untuk semua yang sudah membaca tulisan ini. Semoga bisa memberikan energi yang positif.
















