DUNIA UNTUK KITA, BUKAN KAMU BUKAN AKU
Pagi ini awalnya aku berniat bangun siang dan menikmati hari liburku, tapi apa daya mules yang dari semalem belum kelar-kelar sehingga aku harus bolak balik kamar mandi.
Sampai dimana aku main social median dan menemukan sebuah video yang membuatku menangis di pagi hari, dan tersentil akan omongan seseorang di masa lalu.
Video ini menggambarkan bagaimana sosok ayah yang akan selalu (tetap selamanya) menjadi cinta pertama bagi seorang putrinya, namanya cinta, tetep ada alasan untuk menjadi patah yang sepatah-patahnya ketika tidak saling menerima.
Tapi dalam video ini, yang tergambarkan adalah bagaimana sosok ayah, yang melepaskan putrinya untuk menikah dengan laki-laki pilihan putrinya, sambil menangis beliau berkata “ Hindari kamu mengatakan cerai dalam kalian berumah tangga, bila mana kalian tidak saling cinta, katakan pada papah, apa yang akan menyatukan kalian kembali, papah janji itu” pesan seoarang ayah kepada anak putrinya dan suami dari anaknya, di momen pernikahan mreka. Iya denger ini selalu buat ku menangis, sangat.
Begitu paham, bagaimana sebuah pernikahan itu benar-benar harus di jaga, entah bagaimana masalah dan rintangannya, itu sebuah komitmen diri kita kepada Yang Kuasa, yang membuatku tau, ini bukan sekedar main-main, dan perlu di persiapkan.
Aku tambah sedih ketika teringat, ada seseorang di masa laluku, yang pada akhirnya dia memilih pergi karena “aku buruk dengan sifat yang ada di diriku” dia pernah bilang “ walo kamu bilang kalo udah nikah dan sebelum nikah bakal beda prinsipmu, tapi kan ga semudah itu manusia bisa berubah” ( di sini dia merasa ragu). Anehnya dari segala obrolan itu, aku hanya menanggapi dengan senyum ( bisa bisanya aku sekuat itu, saat itu, ketika dia ngomong langsung di depanku, dengan prolog menjelaskan semua hal yg membuatnya ragu, yah semua hal sifat ga baik ku(yang sudah aku akuin, yang dimana aku selalu berusaha mengontrol ini) yang membuatnya ingin “cukup”. iya tetap cukup dan sudah.
Entah bagaimana rasanya, aku ingin tetep menjelaskan bahwa konsepku menikah memang tak sama dengan sebelum menikah, dan betapa aku strugglenya untuk memperbaiki diriku dari hal ini, yang mungkin dia ga tau alasanku seperti ini. alasan di mana, dari kecil, aku selalu peka terhadap perceraian, terhadap pertengkaran, terhadap pengkhianatan, terhadap broken home. Andai saja aku bisa melampiaskan semuanya itu, mungkin aku akan menjadi Gita yang nakal, yang bisa bandel banget waktu sekolah, bisa kuliah “sakarepe dewe”, bisa mungkin main sex, alkohol, dll, naudzubillah. semua itu bisa saja kulampiaskan, namun Allah bener-bener masih menjagaku, hingga saat ini, aku takut denganNya, walau terkadang aku ingin menuntut hak yg membuatku kecewa dalam hidup. Masih berusaha jadi lebih baik, mohon doakan🙃
Sampai dimana aku sadar, dunia gak berputar untuk diriku saja, tapi berputar untuk kebaikan kita semua.
Walau sempat ku bertanya kepada dia, gimana cara ku memperbaiki agar bisa “tetap menjaga” dan dia cuma bilang, “kamu perbaiki dulu, kita sama2 intropeksi diri, kamu dengan sifatmu, aku dengan sabarku”
“Sampai kamu gak gitu lagi”
dari situ aku menyimpulkan dia tidak ingin lagi berjuang bersama, dan ku hanya akan bilang, one day, goal yang kamu maksudmu itu, akan ku buktikan, aku janji, bukan untukmu, tapi untuk hidupku, untuk pernikahanku. Sesuatu yang tidak kamu percayai konsep menikahku kelak, kamu akan melihat, betapa aku benar-benar sudah mengkonsepnya.
Doaku pada orang yang membuatku tumbuh lagi (belum yang mau membersamai tumbuh), yang tetap bertahan ketika tau kurangnya fisikku, dan pergi ketika sifatku yang belum baik untuknya, semoga kamu bahagia, dan menemukan rumah yang “pas” yang mau kamu bersamai selamanya. Till Jannah. Begitu pula aku.
Trimakasih bagaimana treat yang diberi membuatku tumbuh sendiri lagi dan berkembang🙃
Tulisan ini ditulis setelah menikmati seduan wedang wungu, anget-anget, yang dimana sisa wedang yang doi kasih ke aku.