Duka
Tak pernah menyangka aku harus menghadapi kenyataan yang sama untuk kedua kalinya.
Keluarga adalah ruang terindah bagi seorang anak, seharusnya.
Namun mengapa bagiku rasanya seperti bangunan yang tak kokoh, mudah runtuh dan hanya untuk singgah.
Perasaan terluka di dalamnya terlalu banyak sehingga hal yang aku lakukan setiap harinya adalah hidup bersama luka-luka itu dibersamai dengan senyuman.
Usiaku sudah dua puluh lima tahun ini, rasanya lebih berat dibandingkan kejadian saat usiaku empat belas.
Aku hanya mampu memendam itu sendirian. Walaupun membagikan cerita ini belum tentu orang mau peduli dan punya ruang untuk menerima ceritaku.
Hanya mampu bertaruh pada dunia bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk bahagia.
Aku masih memiliki mimpi-mimpi yang ingin kuwujudkan.
Aku masih memiliki banyak hal untuk dirayakan.
Dari diriku, oleh diriku dan untuk diriku sendiri.
















