Movie Reviews
Falling in Love like in Movies
This movie is too much related and realistic.
Dalam film bertemakan romantis tentu terbesit di dalam ekspektasi penonton bahwa film tersebut harus happy ending, harus menggebu-gebu, harus segalanya penuh dengan rasa cinta. Tapi apa itu cinta? Film yang disutradai oleh Yandy Laurens ini mampu menunjukkan bahwa cinta itu berbeda-beda bagi setiap manusia. Proses jatuh cinta antara Bagus (Ringgo Agus) dan Hana (Nirina Zubir) di umur 30-an akhir tentu jauh lebih rumit setelah melewati berbagai pengalaman hidup. Bagaimana Bagus berusaha mengerti cinta tidak hanyalah sekedar mengejar pujaan hatinya dan Hana yang masih mencintai mendiang suaminya namun berusaha untuk berdamai pada rasa duka dijelaskan dalam 8 babak di film ini. Ada satu adegan yang menarik banget dimana Chelin (Sheila Dara) sebagai editor film memberikan cinematic experience kepada audience dengan menunjukkan berbagai sudut pandang ketika Bagus 'mengejar' cintanya. He (re: Yandy) knows what audience wants. Film ini kelihatannya sederhana namun banyak lapisan yang membuat penonton sadar bahwa film romansa tidak hanya sekedar bertemu, konflik, berdamai, dan happy ending. Tapi dialog yang dibangun antara kedua tokoh utama, kerumitan dalam komunikasi dan saling mencoba mengerti membuat diriku (terutama) menyadari kalau "gapapa lho hubungan itu ga mudah untuk dijalani", "gapapa kok hubungan ga seindah kayak di film-film", "setiap hubungan punya ceritanya masing-masing". Film ini memanusiakan manusia. Film dari Yandy Laurens ini pantas untuk mendapatkan rating 9/10 untuk segala aspek. Cocok sekali film ini untuk para hopeless romantic yang masih memiliki setitik harapan pada kisah romansa di realita. Film ini dapat diakses di Netflix, happy monday and happy watching peeps!













