Berbeda
Beberapa orang mungkin ditakdirkan bertemu hanya untuk membesarkan jiwa, sisanya memang digariskan untuk bersama.
Dan sepertinya relasi kita mencerminkan yang pertama.
Masih jelas teringat di dalam memoriku; kita bertemu dalam keadaan sama-sama terluka. Waktu itu kamu mengaku tersakiti karena orang ketiga, sedang aku lagi sesak-sesaknya sebab cintaku ditolak.
Aku, kamu, bertemu, dan memutuskan jadi satu.
Kisah kita nyaris sempurna. Kamu yang selalu sabar terhadap hardikanku. Aku yang selalu menjadi tempat ceritamu di ujung hari.
Sampai sampai, semua orang ingin menjadi kita.
Tanpa mereka melihat, aku yang mengingatkanmu untuk shalat dan kamu yang menahan diri untuk tidak mengucapkan selamat hari natal padaku.
Sadar pada akhirnya kita tak bisa melakukan apa apa. Tak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti, karena perbedaan yang kita punya.
Aku bingung,
Aku, kamu, takdir atau perbedaan kita yang patut disalahkan?
——nanoxnana









