Fiihi Khair, In Sya Allah
Dalam kesempatan reuni angkatan ‘92, kemari, salah seorang dari kami diminta untuk menyampaikan tausiah singkat. Kali ini, yang ditunjuk Kyai Jarot. Beliau, sesuai pesan, menyampaikan tausiah singkat berjudul, “Fiihi khair, insya Allah.”
Sepertinya, kisah yang mirip seperti itu pernah saya dengar. Mungkin, sebagian teman juga pernah mendengar. Tapi, tausiah Kyai Jarot kali ini membuat banyak teman-tema mantuk-mantuk. Termasuk saya. Seperti ada hal baru yang menyentak kesadaran.
Singkat cerita, ada kisah di kalangan salaf. Ada seorang raja tampan yang memiliki seorang menteri yg tampan dan alim.. Menteri yang alim itu ketika ditanya tentang sesuatu, ia sering menjawab, “Fiihi khair insya Allah.” Artinya kira-kira, “Di dalamnya ada kebaikan, insya Allah.”
Suatu ketika, Raja mengalami sebuah insiden. Ujung jarinya terpotong pisau. Seperti biasa, menteri yang alim tersebut berkata, “Di dalamnya ada kebaikan, insya Allah.”
Mendengar komentarnya, Sang Raja marah. Ia memerintahkan agar sang menteri dijebloskan ke penjara. Mendapat perlakuan seperti itu, ia kembali berkomentar, “Di dalamnya ada kebaikan, Insya Allah.”
Selang beberapa waktu, Sang Raja, pergi berburu. Kali ini, Sang Raja terpisah dari rombongan dan tersesat. Ia ditangkap oleh suku terasing dan akan dijadikan tumbal dalam sebuah upacara adat. Saat eksekusi akan dilaksanakan, senjata untuk memenggal kepala sudah disiapkan, tiba-tiba kepala suku mengisyaratkan agar eksekusi dibatalkan. Karena syarat orang yang dijadikan tumbal, selain tampan, harus berfisik sempurna. Rupanya kepala suku melihat cacat di ujung jari tumbalnya.Sang Raja pun dilepaskan. Selamatlah ia dari pembunuhan.
Sang Raja menyadari bahwa perkataan, “Fiihi khair insya Allah” itu ternyata benar. Ia memang kehilangan ujung jarinya, tetapi itulah sebabnya ia tidak jadi kehilangan kepalanya.
Kemudian Sang Raja memerintahkan agar sang menteri yang dipenjarakannya itu dilepaskan. Raja berkata kepadanya, “Saya sudah memahami ucapanmu terkait musibah yang menimpaku. Tapi, kebaikan apa yang kauperoleh dengan dipenjarakannya dirimu?” Menteri tersebut menjawab, “Wahai Raja, jika engkau tidak memenjarakanku, engkau pasti mengajakku berburu. Dan ketika mereka tidak menjadikanmu tumbal, tentulah mereka akan mencari tumbal lainnya. Dan pastilah itu aku karena di kerajaan ini tidak ada orangg yang lebih tampan setelah engkau selain diriku.”
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut, ketika kita mendapatkn musibah atau sesuatu yang tidak mengenakkan janganlah kita buru-buru marah dan su'udzhan kepada Allah. Karena Allah Swt. yang lebih mengetahui hikmah yg terjadi di balik peristiwa tersebut.
Resume materi oleh: Hawin Murtadlo
—-
Lagi-lagi saya copas dari lapak line ski fk uns. Beliau yg membagi postingan adalah seorang hafidz, yg saya merasa beruntung pernah berada satu bidang dengan beliau. Banyak pelajaran yg bisa diambil.
“Berkawan dg seorang tukang besi, kenalah kalian dg percik api. Berkawan dg seorang penjual minyak wangi, harum kalian terkena aromanya”