(Adopted from my little story 3 month ago)
Siang itu, aku baru saja selesai dengan kelas MPKTB (kalau di UI, mata kuliah ini mengajarkan tentang bagaimana kita presentasi secara profesional, berpendapat dengan baik, mengolaborasikan ilmu pengetahuan, dan bagaimana berbahasa dengan baik dan benar sesuai kaidah KBBI) dan akan melanjutkan destinasi-ku ke mushola di karenakan sudah memasuki waktu ashar kala itu. Aku berjalan bersama seorang teman-ku yang lain, beriringan.
βZah, mau tau sesuatu ga?β ujar temanku, dengan nada ala-ala yang membuat penasaran.
βApa?β ujarku dengan sedikit malas. Karena sudah sering kali di berikan semacam ini dan jawabannya akan zonk menyebalkan bin ga penting biasanya.
Dia terdiam, kemudian memberhentikan langkahnya sambil melihat ke langit.
Aku mau-tak-mau ikut berhenti juga, bingung. Dan, dengan polosnya, akupun ikut memperhatikan ke arah yang ia lihat juga, mencari apa yang ia lihat. Tapi tak menemukan apa-apa.
βApaansih? Kamu mau ngasih tau aku apa? dan kenapa liatnya ke arah atas?β
Ia menghela napasnya sebentar. Lalu tersenyum. βAllah tuh ya zah, Meuni Romantis pisan.β
βHah?β Aku tetiba langsung menengok ke arahnya, spontan. Jujur, kaget. Bukan karena apa yang barusan ia lontarkan, tetapi karena ia yang mengucapkan.Kesambet apaan ini anak tiba-tiba ngomongnya jadi bener begini. Karena dia ini biasanya demennya bercanda dan ga di sangka akan ngomong kayak gitu.
βIya zah, Allah teh Romantis bangetβ ujarnya lagi, sambil memamerkan senyumnya yang semakin mengembang.
Penasaran, kenapa anak ini sampe sebegitu bahagianya, sampe bisa melontarkan kata-kata yang membuatku tertegun sebegitunya.
βKenapa? Kenapa menurut kamu Allah sebegitu romantisnya sampe kamu ga berenti senyum dari tadi?β
βAku merasa zah, Allah teh bener-bener berada di samping aku, ngebimbing aku, udah gitu setiap apa yang aku harapin Dia pasti punya aja caranya untuk ngabulinnya. Padahal mah akunya masih sering banget maksiat, masing sering ngelakuin dosa. Ajaib banget zah. Bahkan ketika aku ga minta pun, ada aja surprise yang di kasih sama Allah buat aku, setiap hari. Pokoknya Allah teh bener-bener romantis deh! Lebih romantis daripada doi!β Ujarnya senang. Sedangkan aku menimpalinya dengan tertawa.
Ya, memang begitulah Allah. Ia memiliki caranya sendiri dalam membersamai setiap hambanya, dengan cara-cara yang romantis dan menakjubkan. Setiap menit, setiap detik, setiap saat. Kalau kita sebegitu senangnya ketika seseorang yang kita sukai berperilaku romantis kepada kita, maka bagaimana jika itu Allah?
Tugas kita sebagai hamba, tinggal meyakini-Nya. Meyakini bahwa Allah punya segala rencana di atas rencana, punya segala cara diatas cara, punya kuasa diatas kuasa yangΒ tidak bisa di tafsirkan oleh kita yang notabenenya hanyalah seorang hamba yang hanya bisa mengeluh dan meminta, yang hanya bisa menuntut dan terkadang menyalahkan, yang memang sebenarnya tidak pantas untuk menafsirkan segala sesuatu yang telah Allah perbuat kepada kita, yang telah Allah berikan kepada kita.
Maka, sejauh mana kita sudah yakin bahwa Allah memang Maha Romantis kepada setiap hamba-Nya?
Sudah sepenuhnya kah kita percaya? Atau masih separuh? Atau mungkin masih baru memberikan sedikit space untuk percaya?