Integrity
Dalam sebuah wawancara, seorang bertanya kepada Saya, "Menurut Anda, bagaimana cara efektif sebuah unit kerja dapat menerapkan integrity?"
Saya bilang, "Saya jawab berdasarkan pengalaman Saya ya Pak. Peran atasan sangat besar dalam menjaga integritas sebuah unit. Jika atasan berkata tidak untuk fraud, kecurangan, dan lainnya, jauh lebih mudah untuk Saya dan tim untuk tidak melakukan fraud."
Saya sadari hal itu sekali.. Power yang dimiliki atasan itu berpengaruh besar ke perilaku sebuah tim karena pada hakikatnya atasan memang secara umum memberikan arahan kepada tim untuk dituruti.
Lalu bagaimana jika atasan kita tidak berintegritas?
Belajar dari kisah Yusuf AS, ayatnya seperti ini:
Perhatikan bagaimana Al Quran tidak luput menyebutkan bahwa perempuan yang menggoda Yusuf AS adalah perempuan pemilik rumah yang artinya mengindikasikan sebagai atasan dari Yusuf AS. Sementara Yusuf ketika itu merupakan budak. Sebuah power imbalance dimana atasan ingin berbuat sebuah dosa, tapi tidak bisa melakukannya sendiri.
Kisah ini, bisa kita expand tidak terbatas pada ajakan syahwat biologis, tapi juga kegiatan Faahsya (kekejian) lainnya. Fahsya adalah sebutan dalam Islam/Al-Quran untuk dosa besar yang berdampak luas atau merusak tatanan sosial, tidak hanya perzinahan, tapi juga korupsi, tuduhan/fitnah palsu, opresi, dan lainnya.
Dalam konteks pekerjaan, bisa saja seorang atasan tergiur dengan peluang untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar. Tapi dia tahu, dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia harus ajak bawahannya untuk ikut andil mengatur segala sesuatu agar korupsi itu bisa terjadi.
Atasan tersebut pun ajak berdiskusi bawahannya disebuah tempat yang tertutup, di ruangannya, kemudian tutup pintunya. Berbisik-bisik, seolah-olah Allah tidak mendengar apa yang dibicarakan pada pembicaraan itu.
Terbesit dalam pikiran bawahannya, "Ini uang yang besar. Aku bisa gunakan untuk ini dan itu. Tidak akan ada yang tahu. Aku aman, atasanku bersamaku akan melindungiku"
Jika hal tersebut terjadi, apa yang harus kita lakukan?
lakukan seperti apa yang Yusuf lakukan: Katakan Ma'adza Allah. Aku berlindung kepada Allah. Aku tidak mungkin berkhianat kepada Atasanku.
Atasanku disini berlaku 2 hal. Atasan tertinggi adalah Allah, juga atasanku juga adalah perusahaan atau rakyat dimana aku bekerja dan digaji.
Setelah itu, perhatikan bagaimana Allah mengatakan "Kami memalingkan, darinya, keburukan dan kekejian" atau dengan struktur bahasa Indonesia "Kami memalingkan keburukan dan kekejian darinya."
Bukan Yusuf yang dipalingkan, tapi keburukan dan kekejian yang dipalingkan!
Artinya, ketika kita ingat dan melibatkan Allah SWT, maka Allah SWT yang membantu dan bergerak untuk memalingkan keburukan dan kekejian itu jauh dari kita, bukan sebaliknya. Seringkali kita takut dan ragu. Allah bilang, "Tenang.. Aku yang palingkan mereka darimu.."
Baru kemudian setelah itu adalah berusaha dan bertawakal: lari dari sana! Pergi! Tinggalkan tempat itu! Tinggalkan diskusi itu!
Sebagaimana Yusuf berlari walaupun tahu bahwa semua pintu sudah terkunci.. Allah yang akan siapkan buktinya bahwa kita tidak bersalah..
Relate?
Pengalaman Saya sendiri dulu sebagai Account Manager yang dipaksa untuk mengikuti hal-hal seperti ini.. rasanya sangat berat.. dan gak tau harus ngapain karena gak tau ilmunya..
Kisah seorang Nabi akan selalu lebih berat dari manusia biasa. Kita gak akan diuji sebagaimana seorang Nabi diuji. Terlalu berat, gakan kuat. Tapi bagaimana pertolongan Allah adalah nyata dan tidak terbatas pada Nabi. Yakin jika Allah dapat menolong seorang budak yang dipaksa majikan melakukan kekejian ditempat yang dikunci rapat, pastinya mudah bagi Allah untuk menolong kita dari "sekedar" atasan yang tidak berintegritas.














