Tepat di hari jumat yang lalu, ayah menelponku. Napasku masih tersengal-sengal setelah bergelut dengan alat-alat gym yang hampir beberapa bulan terakhir, aku selalu menjumpainya. Alunan musik berdentum hebat diiringi peluh yang juga jatuh.
"Assalamualaikum," sapanya singkat setelah ponselku bergetar disela kesibukan yang kunikmati seorang diri.
"Wa'alaikumussalam, Yah," jawabku terburu.
Kami bertukar kata, juga kabar. Cukup ringan namun begitu hangat sebelum akhirnya panggilan itu terputus. Dan tentu, menerima panggilan telepon saat sedang berada di pusat kebugaran adalah sebuah kondisi yang tidak tepat. Setidaknya begitu menurutku.
"Tapi tunggu, tumben sekali ayah menelponku." Pertanyaan itu singgah sebentar di kepala.
Tadi katanya karena rindu. Dua kata yang berhasil membuatku tersenyum. Tapi tetap saja, dunia yang berisik ini mampu mengalihkan ingatanku pada dering telepon ayah yang hadir tiba-tiba. Barangkali itu juga merupakan cara sunyi dari seorang ayah untuk menyapa anak perempuannya.
Seminggu berlalu. Rutinitas yang kulalui begitu saja, terlalu biasa hingga sebuah tanggal menyentakkan dadaku. Tiba-tiba saja, perasaan sesak menguasai jiwaku. Menyisahkan rasa bersalah tersebab aku lupa jika tepat di hari ayah menelpon kala itu adalah merupakan hari ulang tahunnya.
Maaf, Yah. Maafkan anak perempuanmu ini.
Aku tahu kecewa itu tak kasat mata. Ia tersimpan rapi di sudut hatimu, sebuah tempat yang tentu tidak akan pernah kau izinkan aku untuk mengunjunginya.
Aku pun tahu, kau tidak sedang menagih sebuah ucapan selamat ulang tahun. Tapi ingatanku benar-benar kalah, aku terlupa.
Tahun ini tak ada kata selamat, tak ada doa yang kuucapkan dengan suara, tak ada perayaan kecil yang mampu kuberikan untukmu. Dan aku terlambat menyadari bahwa rindumu menjelma panggilan singkat yang kupadamkan.
Namun percayalah. Doaku tak pernah berhenti. Ia hadir pada tiap sujud, pada lirih doa-doa yang kubisikkan diam-diam. Namamu kusebut, bersanding dengan harapan tulus; semoga sehatmu dipanjangkan, semoga langkahmu diringankan, semoga Tuhan memberimu waktu lebih lama untuk membersamaiku meski hanya lewat sapaan singkat dari balik gagang telepon.
Sehatlah terus, Ayah. Hiduplah lebih lama. Temani aku tumbuh meski tingkahku masih saja seperti anak kecil. Aku menyayangimu selalu. Bahkan ketika ingatan tak lagi mampu menjabarkan betapa besar rasa sayang itu untukmu.
-
Kamis, 29 Januari 2026











