Sejujurnya sudah sejak 2016 w menganggap lebaran itu bukan hal yang istimewa (lagi). Berbekal hal itulah, sejak tahu bakalan tidak lebaran di rumah untuk pertama kalinya sejak lahir, w sudah men-sugesti diri bahwa, "ini akan menjadi hal yang biasa saja, hari biasa seperti hari-hari sebelumnya, gak usah sedih berlebihan, lebaranku baru nanti pas pulang, bla bla bla" Karena ternyata setelah menganggap lebaran itu hanya rutinitas belaka dalam 4 tahun terakhir, w merindukan dan menantikan rutinitas tersebut. ke makam Bapak abis ashar, rusuh pagi-pagi karena tunjuk-tunjukan sama @italianaaida sapa yang mandi duluan, kumpul di tempat budhe abis sholat ied, ikutan antri thr sama ponakan-ponakan, makan ketupat separo (entah) kali berapa dalam sehari, ngunjungin tetangga yang (mungkin) hanya 1 tahun sekali, tidur siang abis keliling2 itu entah kenapa nikmat bgt sumpah. Tentu saja menitikan airmata, w masih anak mama yang cengeng kalo jauh dari rumah. but hey, Selalu ada hal baru untuk dicoba bukan? dan (hampir) semua orang juga mengalaminya. it's ok. it's ok. gwaenchanha, gwaenchanha. this too shall pass. Terima kasih buat masjid dekat kosan yang takbiran secukupnya, •jadi w bisa anggep ini kaya iduladha• Terima kasih buat yang sudah perhatian dan menanyakan kabar, Terima kasih buat yang tidak mengasihani berlebihan, •sungguh ini sangat berarti• Terima kasih teknologi, karena w gak bisa bayangin apa jadinya diriku jika pandemi terjadi saat belum ada internet. dan yak, Terima kasih Fadila. kamu bertahan, kamu bisa berdamai dengan situasi ini. Happy Eid Mubarak to everyone, dan buat kamu yang tahun ini merayakan tanpa keluarga, sendirian di tanah perantauan, kalian pemenang 😘 https://www.instagram.com/p/CAkurjspEfa/?igshid=rgueiywnpxd9












