- suatu sore, di langit belakang rumah -
Seandainya kita bisa melihat kemana arah takdir dari masa depan akan menuju dan bergerak, mungkin gemuruh ketakutan di dalam hati bisa sedikit lebih meredam. Sebab, setidaknya kita bisa mempersiapkan diri sebelum menghadapinya.
Namun kenyataannya, kita tidak tahu apa-apa. Kita memang di anugerahkan sepasang mata yang bisa melihat dunia, tetapi terbatas hanya untuk melihat masa kini ketika kelopaknya terbuka dan melihat potongan kenangan dari masa lalu ketika kelopaknya tertutup.
Sedangkan perihal masa depan kita semuanya begitu gaib, satu-satunya yang terasa nyata untuk di jalani adalah detik ini, saat ini.
Diantara banyak nya hamparan pilihan hidup, kita pun tidak tahu mana yang terbaik untuk dijalani, tanpa petunjuk dan pertolongan dari Allah.
Dan tiadalah tercecap suatu kemudahan dari sebuah urusan, melainkan Allah yang menjadikannya mudah.
Dan tiadalah hati terasa ringan menjalani apa yang Allah takdirkan, melainkan Allah yang menyelipkan rasa lapang itu.
Dan tiadalah diri merasa ridha atas segala bentuk takdir Allah, melainkan Allah yang menjadikan hati untuk mampu memetik hikmah dan keberkahannya, sehingga keikhlasan pun meresap di relung sanubari.
Ya Rabb, ada begitu banyak sekali ketakutan yang merambat di hati, memberatkan langkah dan membisikkan banyak keraguan akan takdir-Mu.
Lindungi dan selamatkanlah kami dari prasangka buruk dan semoga Engkau selalu menuntun kami menuju jalan yang Engkau ridhai, jalan yang penuh keberkahan saat kami menitinya nanti. Aamiin ya Rabb
Senja yang teduh, 3 Maret 2024 17.29 wita