Tanpa penonton
Aku tadi duduk di ruangan yang dingin, dengan kursi yang terlalu empuk untuk sebuah percakapan yang cukup jujur. Bukan pertama kali, tapi entah kenapa hari ini rasanya lebih kena.
Kami ngobrol panjang, ngalor ngidul seperti biasa. Sampai di satu titik, dia bilang sesuatu yang simpel, tapi nempel langsung:
â..... kebahagiaan kamu masih sedikit bergantung pada orang lain.â
Aku sempat diem. Nggak kaget, cuma lebih ke⌠ya, kayak ada bagian dari diri sendiriku yang akhirnya diucapin sama orang lain.
Aku pikir selama ini aku baik-baik aja. Aku jalan, aku kerja, aku ketawa, aku share hal-hal yang menurutku menyenangkan.
Bukan yang ekstrem, bukan juga yang sampai bikin aku kehilangan arah, tapi cukup buat bikin perasaan jadi naik turun tanpa aku sadari.
Terus dia lanjut bilang, kalau aku perlu belajar gimana tetap jadi diri sendiri, tanpa terlalu bergantung sama respon orang.
Aku nggak langsung ngerti caranya.
Katanya, aku harus pelan-pelan belajar. Kalau yang aku rasakan tetap valid, bahkan ketika nggak ada yang lihat. Kalau momen yang aku nikmati tetap utuh, walaupun cuma aku yang tahu.
Hari ini, aku pulang dengan kepala agak penuh, tapi anehnya nggak sesesak biasanya.












