Eulogi Untuk Sebuah Perpisahan
Ada banyak hal yang terjadi sejak 20 Agustus 2017. Hari dimana dunia rasanya mau runtuh. Saya baru tahu rasanya bisa sebegitu sakitnya. Dipaksa pergi, berhenti mencintai, atau bahasa milenialnya, diputusin. Laki-laki yang sering saya ceritakan di sini, 40 hari lalu dengan jujur mengatakan, sudah tidak bisa bersama lagi. Seseorang dari masa lalunya datang kembali dan dia baru menyadari bahwa cintanya belum hilang.
Reaksi pertama, klise sih. Menangis tentu saja. Hubungan kami bisa dikatakan baik-baik saja, atau begitu yang saya pikir. Walaupun kami memendam masalah besar yang siap jadi bom waktu, yaitu agama. Ya, kami berdua beda agama. Dari awal, masalah ini bukan tidak menjadi beban, hanya saja kami mencoba melihat bagaiman waktu berjalan.
Lelaki ini. Dia orang yang sangat tenang, tidak pernah marah. Selama setahun kami bersama, hanya sekali dia marah. Selebihnya, saya yang lebih sering emosi. Hal paling saya kagumi mungkin ketenangannya dalam menghadapi segala situasi. Saya akui, saya tipe orang yang meledak-ledak dulu baru berpikir. Dari sifatnya yang tenang itulah, saya menemukan kenyamanan. Dia mampu mengimbangi saya yang emosional. Dia selalu bisa diajak berdialog, saya yang punya banyak kekhawatiran, pertanyaan-pertanyaan, ketidakmengertian akan banyak hal di dunia ini, merasa mendapatkan teman berdialog yang bisa diajak bicara tentang apa saja. Saya merasa nyaman, karena bisa mengajukan pertanyaan tentang apapun. Dia tak selalu punya jawaban yang saya harapkan, tapi dialog membuat beban di kepala mengalir keluar dan saya selalu merasa jauh lebih baik setelahnya. Dan selalu, ini tentang saya. Jauh di balik itu semua, ternyata dia lelah juga.
Kami baik-baik saja, secara pribadi. Kalaupun kami berpisah, skenario yang ada di kepala saya, tentu saja karena masalah agama. Alasan dia pergi karena orang lain, pernah beberapa kali terpikir. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Lelaki ini memiliki ketenangan, kedewasaan berpikir ditambah karakter wajahnya yang maskulin dengan kumis tipis dan garis rahang yang tegas. Daya tarik terbesarnya berasal dari kemampuannya untuk mendengarkan, membangun dialog dan kenyamanan dengan siapun ia bicara. Hal itu seringkali membuat saya insecure. Dan terjadilah apa yang ditakutkan. Dia pergi.
Setelah anak pertamanya lahir, Angga, sahabat dekat saya, pernah mengatakan bahwa kita tidak pernah bisa melakukan persiapan atas apa yang akan terjadi dalam hidup. Hal itu tiba-tiba datang dan ya kamu dipaksa untuk menghadapinya. Perpisahan selalu ada di kepala saya selama ini, tapi ketika hal itu benar-benar datang. Ternyata saya tidak benar-benar tahu bagaimana cara menghadapinya. Bagaimana mengeluarkan hal-hal menyesakkan yang menghimpit di dada? Bagaimana berhenti menangis dan merasa sedih setiap bangun tidur dan sore menjelang? Bagaimana cara melupakan? Bagaimana cara ikhlas melepaskan? Tidak secuil pun saya tahu apa jawabannya. Banyak pikiran buruk yang mampir, memberikan ide-ide gila yang samar mengatasnamakan kelegaan. Tapi toh, masalah juga tidak selesai, dia juga tidak akan kembali.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar mencari sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi muncul di kepala. Keputusan untuk mencari jawabannya, bukan lagi berdasarkan impulsivitas yang selama ini sering saya lakukan. Satu alasan, ya karena saya ingin lega.
Banyak orang yang bilang, “Ya udah sih, lupain aja.” Atau , “Mending kamu pergi aja dari Jogja, siapa tau kalau keluar dari sini, kamu bisa lupain dia.”
Ide yang cukup lumrah dilontarkan ketika seseorang putus. Tapi, bukankah lupa bisa ingat lagi, yang pergi bisa kembali. Terlebih, Jogja sudah jadi kota yang penting bagi saya. Sudah 9 tahun saya tinggal di sini, kota ini sudah jadi rumah bagi saya. Lalu kenapa saya yang harus pergi? Ada ketidakrelaan kota ini pun harus direnggut pergi dari saya.
Saya tidak ingin lupa dan saya tidak ingin pergi. Seluruh ingatan tentang kami berdua adalah bagian dari diri saya yang tidak bisa dibuang begitu saja. Toh, dalam film Eternal Sunshine of The Spotless Mind, ketika si tokoh utama menghapus ingatannya, nyatanya dia kembali jatuh cinta pada orang yang sama. Kepalamu mungkin bisa lupa, tapi hatimu tidak. Seandainya saya pergi dari kota ini, lalu kembali beberapa waktu kemudian, apakah ada jaminan tidak akan ada perasaan-perasaan nostalgia ketika pergi ke tempat yang pernah saya kunjunngi bersamanya. Yang saya butuhkan bukan lupa ataupun pergi. Saya butuh selesai.
Satu hal yang membuat saya memutuskan bahwa perasaan ini harus selesai, karena lelaki ini pergi disebabkan oleh perasaan-perasaan yang belum selesai. Bagaimana jika dia datang lagi 5 tahun kemudian dan perasaan yang dulu saya lupakan ternyata muncul kembali? Bukan tidak mungkin saya melakukan hal yang sama yang sudah dia lakukan, tentu saja mungkin saya akan menyakiti orang yang sudah menemani saya selama bertahun-tahun. Itulah kenapa saya memutuskan untuk menyelesaikan perasaan ini.
Saya tidak pernah tahu definisi selesai itu seperti apa. Bentuk perasaan yang selesai itu seperti apa. Bagaimana cara mencapai perasaan yang selesai. Saya berjalan mencari penyelesaian tanpa tahu bentuk yang saya cari. Yang menjadi panduan saya untuk melangkah hanyalah, bahwa saya harus menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Demi mendapatkan jawaban dan gambaran utuh atas orang-orang yang membuat saya berada di titik ini, atas peristiwa yang terjadi, banyak hal yang akhirnya saya lalui. Banyak orang yang saya temui. Banyak cerita yang saya dengar. Dan banyak waktu yang saya gunakan untuk melihat kembali ke belakang.
Oke, semua orang mengatakan, semua hal yang terjadi memang sudah takdir Tuhan. Akan selalu ada pengganti yang lebih baik yang disiapkan di depan. Ya, saya mengamini hal ini dan mempercayainya. Semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Sujiwo Tedjo pernah menulis:
Tuhan itu Maha Asik, terkadang demi menyelamatkanmu dari orang yang salah ia mematahkan hatimu
Pertanyaannya adalah, apakah setiap orang yang pergi selalu merupakan pihak yang salah? Kenapa pihak yang ditinggalkan selalu terlihat bebas dari kesalahan? Atau sebenarnya siapa yang salah?
Apakah kembali kepada kekasihmu sebelumnya adalah kesalahan? ketika kamu menyadari bahwa orang itu yang kamu sayang ? Saya tidak bisa menyalahkan cinta. Kita tidak pernah bisa menyalahkan cinta. Yang salah adalah pilihan-pilihan yang diambil. Perasaan lelaki ini atas cinta masa lalunya tidak pernah salah, yang salah adalah komitmennya. Jika dia memiliki cukup komitmen, siapapun yang datang tidak akan pernah membuat dia pergi.
Lalu, apakah keenganannya untuk berkomitmen hanya kesalahan sepihak?
Apakah dalam posisi ini kesalahan hanya ada padanya? Tidak juga. Saya menyadari, saya pun memiliki andil atas kepergiannya. Selama satu tahun belakangan, bahkan jauh sebelumnya, saya limbung. Terlalu banyak kekhawatiran, terlalu banyak ketidaktahuan, atau secara sederhana saya tidak tahu ingin melakukan apa dan harus pergi kemana. Hal ini sudah terjadi sejak tahun 2013. Kelimbungan ini juga yang saya pikir menjadi boomerang dalam hubungan kami. Saya tidak pernah benar-benar tertawa lepas atau berusaha untuk membuat dia tertawa. Saya tidak benar-benar melihat jauh ke dalam dirinya, apa yang dia butuhkan. Saya tidak benar-benar berusaha melihat, apa kekhawatirannya. Kami, yang sama-sama limbung. Sama-sama khawatir, tidak mampu menjadi sandaran satu sama lain. Saya pun maklum ketika mendengarnya mengatakan gambaran tentang saya dikepalanya,
” Aku tuh gak ngerti sama April. Aku gak bisa ngerti sama pikiran-pikirannya”
Yah wajar The, saat itu pun aku juga gak ngerti sama diriku sendiri. Jadi, aku bisa memahami kenapa akhirnya kamu memilih untuk pergi.
Jadi, kalau hanya menjadikan masalah Agama sebagai pembenaran untuk kita berdua selesai, bukan itu masalah sebenarnya. Kalau hanya menyalahkan keputusanmu untuk pergi karena orang lain, bukan itu juga alasan utamanya. Masalahnya ada pada kita berdua. Kamu dan Aku. Itu saja.