Menurut saya, tidak ada beda antara sebutan/panggilan ‘cewek’ dan ‘akhwat’.
Selama ini orang-orang mendeskripsikan ‘akhwat’ sebagai muslimah yang berkhimar lebar, ‘wow’ luar-dalam, dan sudah ngaji di sana-sini.
Padahal bisa jadi banyak sekali perempuan yang tidak berkhimar lebar, namun amalan-amalan mereka sangat mempesona dan kedalaman ilmu syari'at mereka membuat kita iri.
Saya rasa, setiap perempuan yang beragama Islam berhak dipanggil akhwat.
Jika orang-orang memanggil atau menyebut saya sebagai ‘akhwat’ hanya karena khimar saya yang lebar, maaf. Maaf, saya hanya perempuan biasa, yang tidak ingin dibebani oleh ekspektasi.
Nah. Ini mau Nai tulis tapi ga sempet-sempet. Mewakili~
menurut saya, pemilihan antara kata cewek dan akhwat sama saja dengan pemilihan antara kata perempuan dan girl.
lha, yang beda ini asal bahasanya thok, lhooooo ._.
. Heran e. *geleng-geleng elegan*
Ini cuma beda bahasanya doang kan~
Ya sama juga dengan sebutan ‘ukhti’ atau ‘mbak’.
Yang berkhimar panjang & lebar dipanggil ‘ukhti’, yang berkhimar pendek atau gak berkhimar dipanggil 'mbak’.
*geleng-geleng elegan*
Saya juga, tidak ada beda antara panggilan 'ikhwan’ dan 'cowok’. Ga suka kalau ada yang membeda-bedakan, dia ikhwan, dia bukan ikhwan, dia akhwat, dia bukan akhwat. Lha terus apa? Masa banci 😬
Namun, lebih baik kita dudukkan pada tempatnya masing-masing. Cowok-cewek adalah tentang jenis kelamin. Sedangkan ikhwan-akhwat menegaskan hubungan, sebagai saudara. Saudara laki-laki, saudara perempuan. Kalau dalam konteks yang sering dipakai di kalangan anak-anak aktivis dakwah, istilah ikhwan-akhwat menegaskan hubungan atas dasar iman.
Yang perlu dicatat, ikhwan-akhwat sama sekali bukan tentang derajat keshalihan. Untuk dianggap/dipanggil ikhwan, seseorang gak perlu jadi aktivis dakwah atau berpenampilan super syar'i. Dia cukup beriman dan loyal kepada keimanannya. Yang celana cingkrang dan yang ga cingkrang sama-sama ikhwan selagi menjaga shalatnya.