Meski terlahir dari keluarga sederhana, aku selalu punya ribuan alasan untuk bangga pada ayah dan ibu. Mereka hanyalah karyawan biasa—tanpa jabatan tinggi, tanpa gaji besar. Namun, dari titik keringat merekalah kehidupan kami berempat terus berjalan. Aku dan adikku bisa bersekolah dengan layak, mengenakan seragam baru setiap kenaikan kelas, serta memiliki perlengkapan sekolah yang cukup.
Uang sakuku dulu memang hanya tiga ribu rupiah—jumlah yang sering kali terasa kurang untuk seharian. Namun, melihat betapa lelahnya orang tuaku bekerja, rasa syukur itu selalu hadir menepisnya. Kami belajar bahwa hidup tak harus serbamewah. Sarapan kami sering kali hanya sebungkus nasi uduk atau masakan ibu yang sederhana, namun tiada tanding nikmatnya. Ketika hari gajian tiba, Ayah akan pulang membawa nasi goreng langganan, bakso, atau mie ayam. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar jajanan harian, tetapi bagi kami, itu adalah hadiah bulanan yang sangat dinanti.
Ayah dan ibu bukanlah insinyur, pejabat, atau sosok dengan profesi mentereng. Mereka adalah manusia biasa yang berjuang dengan pekerjaan seadanya. Namun, usaha mereka sungguh nyata demi memastikan dapur tetap menyala dan kami hidup bahagia. Hidup kami memang jauh dari bergelimang harta, tetapi selalu cukup hingga kami tak pernah perlu meminta-minta.
Pendidikan orang tuaku mungkin terhalang biaya di masa lalu, tetapi tanggung jawab mereka untuk menghidupi keluarga tak pernah surut sedikit pun. Di balik derasnya keringat mereka, ada aku yang berhasil mengenyam pendidikan hingga meraih gelar sarjana—menjadi anggota keluarga dengan pendidikan tertinggi.
Namun, hingga detik ini, rasanya aku belum bisa membalas jasa-jasa mereka. Rasa utang budi itu kerap membayangi, terutama saat aku merasa belum bisa menjadi sosok yang sepenuhnya mereka banggakan. Dulu, mereka begitu bahagia tiap kali aku berprestasi. Namun, terbesit pula rasa penyesalan mendalam ketika mengingat aku pernah merasa malu mengakui orang tuaku yang hanya seorang buruh. Sungguh sebuah ironi.
Kini aku sadar, gelar sarjana yang kupunya tak ada artinya dibanding ketulusan dan pengorbanan mereka. Merekalah pahlawan sejati dalam hidupku.











