Di Balik Gaduh yang Salah Alamat
Kukira, riuh ini adalah namamu
yang berulang kali mengetuk pintu ingatan,
seperti rintik hujan yang memaksa masuk
lewat celah jendela yang sengaja tak kukunci.
Kukira, sesak ini adalah sisa-sisa wangi parfummu
yang tertinggal di bantal, memicu rindu yang tak habis-habisnya
menuntut ruang untuk bicara.
Namun, saat aku menyelam lebih dalam ke palung sunyi,
suara itu tak lagi terdengar seperti suaramu.
Iramanya bukan lagi tentang detak jantung yang patah,
atau janji-janji yang menguap menjadi debu di ujung lidah.
Ternyata, ada yang lebih besar dari sekadar kehilanganmu.
Ada dunia yang sedang luluh lantak di dalam kepalaku.
Gaduh ini adalah deru mesin yang tak pernah tidur,
jerit mereka yang mencari keadilan di bawah bayang gedung tinggi,
dan retakan tanah yang kehausan akan makna.
Ia adalah hiruk-pikuk eksistensi yang menuntut jawaban:
Ke mana kita pergi setelah semua ini berakhir?
selama ini aku menggunakan bayangmu sebagai perisai,
agar aku tak perlu melihat betapa mengerikannya luka semesta.
Kukira aku sedang berduka karena cinta yang gagal,
ternyata aku sedang menggigil karena dunia yang kian tanggal.
Kini kepalaku bukan lagi sebuah kamar untuk satu orang.
Ia adalah alun-alun kota, medan laga, sekaligus samudera luas
di mana namamu hanyalah satu biduk kecil yang karam
di tengah badai kenyataan yang jauh lebih kelam.