Menyanyikan Puisi Di Depan Istana
OLEH: HAFNI KUSUMAWARDHANI
âTak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga ituâ
Suara sopran yang begitu merdu khas milik Reda Gaudiamo dan petikan gitar yang indah dari Ari Malibu, memeluk malam dengan erat. Bernyanyi di bawah remang cahaya lampion-lampion, keduanya berhasil meredam riuh rendah kendaraan yang melintas di Jalan Merdeka Barat. Sederhana nan memukau. Seluruh pengunjung hanyut dalam genangan bait-bait puisi yang mereka nyanyikan pada Sabtu malam lalu.
Hujan Di Bulan Juni merupakan puisi pertama yang mereka nyanyikan dalam penampilan kali itu. Kemudian dilanjukan dengan puisi Gadis Peminta-minta yang juga amat tabik dibawakan. Berbalut busana berwarna hitam, Reda terlihat anggun dan benar-benar menyihir seluruh audience. Ari dan Reda mampu mengantar sebuah nyawa yang utuh pada tiap puisi yang mereka nyanyikan.
âSelanjutnya, ini adalah lagu favorit saya. Saya sering hampir menangis ketika menyanyikan lagu ini. Saya membayangkan suatu saat saya akan tiada dan meninggalkan anak-anak saya,â papar Reda bercerita.
Pada puisi Suatu Hari Nanti, denyut pertunjukan menjadi sedikit naik. Bila pada puisi-puisi sebelumnya musik didominasi oleh petikan-petikan gitar yang lembut, namun pada puisi ini Ari menggenjreng gitarnya sehingga lagu terasa sangat hidup dan sarat makna. Pada kesempatan itu, keduanya juga mendedikasikan lagu tersebut untuk sang pencipta puisi, Sapardi Djoko Damono yang tengah terbaring sakit. Menyanyikan tujuh buah puisi, mereka menutup rangkaian acara JakARTspirasi dengan sempurna.
Duo AriReda merupakan salah satu seniman yang turut memeriahkan acara peresmian Taman Pandang Istana atau dikenal juga sebagai Taman Aspirasi yang berlokasi di sebelah barat laut kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Acara bertajuk âJakARTspirasiâ merupakan sebuah acara kolaborasi seni hasil kerjasama antara Suar Art Space, Caras, Holcim Indonesia dan PemProv DKI Jakarta. Menuju pemilhan kepala daerah, PemProv DKI Jakarta telah membangun sebuah taman dengan sentuhan seni yang nantinya dapat digunakan para pengunjuk rasa untuk menyampaikan aspirasinya di depan Istana Negara.
Dalam acara tersebut, ada banyak seniman yang ikut andil di dalamnya, seperti Indonesian Dance Festival yang menampilkan Animal Pop Dance, Kaligrafina yang menampilkan karya-karya tipografi mereka di atas kayu, Lampion Aspirasi karya anak-anak, Rajut Kejut yang memajang hasil sulaman penuh warna, Ruru Radio yang turut memandu jalannya acara, Sketch Walker dan TUTUGRAFF x Sorak Suar. Yang menjadi tidak kalah penting, adalah kehadiran Basuki Tjahaja Purnama yang meresmikan langsung tempat tersebut. Sebuah pemandangan yang jarang ditemukan mendapati acara seni digelar di area ring I Istana Negara.
Sejak acara dimulai pada pukul 15.00, antusiasme pengunjung sudah terlihat. Pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat, hadir dan terbawa oleh euforia acara. Meski di sekitar taman berjejal petugas-petugas berseragam yang mengamankan, namun pengunjung tetap menikmati segala yang disuguhkan. Semakin malam, pengunjung nampak semakin padat memenuhi tempat acara. Seluruh seniman yang terlibat, sukses meramu sebuah acara apik  bagi di akhir pekan bagi para pengunjung, yang seolah mampu meluruhkan segala penat yang lekat.
Duo Ari Malibu dan Reda Gaudiamo sebenarnya telah ada sejak 1982. Sebuah waktu yang sangat panjang untuk perjalanan bermusik. Beberapa panggung dilewati dengan membawakan lagu-lagu asing. Melalui inisiatif Fuad Hassan dan Sapardi Djoko Damono pada tahun 1987, barulah mereka memfokuskan untuk melakukan musikalisasi puisi. Tujuan awal dari proyek musikalisasi puisi tersebut adalah agar siapa saja dapat menikmati puisi lewat lagu. Dan sejak saat itu, AriReda terus menyanyikan sajak-sajak penyair Indonesia. Pada saat itu, mereka terlibat dalam proyek musikalisasi puisi bersama beberapa teman lainnya.
âKami sudah lebih dari 30 tahun menyanyikan puisi. Kami sudah melakukan hal ini sejak kami kuliah. Kami banyak menyanyikan puisi-puisi dari dosen kami, Pak Sapardi,â ungkap reda.
Album pertama mereka bertajuk âBecoming Dewâ diluncurkan pada tahun 2007, yang berisi 10 lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono. Pada tanggal 10 Oktober 2015, mereka resmi meluncurkan album kedua mereka yang bertajuk âSelf titled AriReda Menyanyikan Puisiâ. Pada album kedua ini, materi di dalamnya merupakan 9 puisi dari karya penyair ternama tanah air seperti Abdul Hadi WM, Goenawan Mohammad, Mozasa, Sapardi Djoko Damono dan Toto Sudarto Bachtiar. Adapun beberapa lagu puisi yang menjadi andalan di album tersebut yakni Di Restoran, Aku Ingin, Hujan Di Bulan Juni dan Pada Suatu Hari Nanti.
AriReda merupakan salah satu duo yang turut menyebarluaskan sastra indonesia dengan cara yang menghibur. Lewat nada, puisi-puisi dari para penyair terkanal di Indonesia menjadi ramah untuk dikenal di kalangan anak muda. Stigma tentang sastra yang  seakan begitu berat, perlahan dipatahkan oleh keduanya. Meski baru beberapa tahun belakangan karya mereka dikenal oleh pecinta musik, namun nyatanya mereka adalah stimulus bagi band-band folk besar seperti Payung Teduh. Tak dapat dipungkiri, Ari dan Reda ialah segelintir orang yang setia bergelut dengan dunia sastra.