Anak Kecil, Bunga, dan Kupu-kupu
Suatu sore di sebuah taman, anak kecil duduk seorang diri. Sinar matahari jingga ditambah angin yang berhembus seadanya membuat ia terbawa suasana. Terbang seekor kupu-kupu dihadapan si anak kecil, lalu singgah sejenak di pangkuannya. Kepakan sayap kupu-kupu yang tadinya kencang, semenjak di pangkuan menjadi pelan. Anak kecil merendahkan tengkuk lehernya berusaha mendekatkan wajahnya pada si kupu-kupu. Kupu-kupu dan anak kecil sekelibat saling menatap.
Tak sempat anak kecil berucap, kupu-kupu sudah terbang lagi. Kembali mengepakkan sayap dengan cepat. Mata anak kecil mengikuti alunan jejak terbang si kupu-kupu. Kepalanya berayun ke kanan dan ke kiri, lalu diam di satu posisi. Kupu-kupu hinggap pada sebuah bunga. Anak kecil mendekat. Ia penasaran. Ia ingin tahu. Dengan langkah yang hati-hati ia mendekat. Semakin dekat anak kecil semakin membungkuk, berusaha menyamakan ketinggiannya dengan letak bunga.
Jarak dua langkah dari bunga dan kupu-kupu, anak kecil menghentikan langkahnya. Anak kecil setengah berlutut. Menatap. Ia memerhatikan keduanya yang tampak sangat akrab.
“Halo…”, kata anak kecil setengah berbisik.
Ia menengadahkan telinganya pada mereka, berharap ada balasan kata.
“Hallloo…”, ulang anak kecil.
Anak kecil mendekatkan diri. Ia melangkah dua kali. Kini si bunga dan kupu-kupu tepat berada di hadapannya.
“Kalian sedang apa?” , tanya anak kecil.
Kupu-kupu dan bunga sejenak menatap sesama, seolah sedang menyamakan pikiran untuk menjawab pertanyaan anak kecil.
“Mau tahu saja, hihihi…” kata kupu-kupu.
“Kalian akrab sekali, sama seperti aku dan ibu” kata anak kecil.
“hihihi…..”, kupu-kupu dan bunga sama-sama tertawa kecil.
Kupu-kupu wajahnya sedikit memerah. Mereka kembali saling menatap.
“Kami ini saling cinta” kata bunga pada anak kecil.
Kupu-kupu mengangguk yakin sembari merangkulkan salah satu tangannya pada bunga.
“oh cinta. Memang kalian sudah mau tidur?” tanya anak kecil.
“Tidur??”, bunga balik bertanya dengan nada bingung.
“Ini belum waktunya tidur”
“tapi katanya kalian saling mencinta?” tanya anak kecil lagi.
Kupu-kupu dan bunga saling menatap lagi, tapi kali ini dengan wajah yang setengah bingung setengah tertawa sipu.
“Iya, ibuku suka bilang begitu kalau aku sudah mau tidur. Ibu bilang, cinta kamu. Berarti itu waktunya aku tidur. Karena kalau ibu sudah bilang begitu, tapi aku tidak tidur, dia pasti akan masuk ke kamar lalu menyuruhku untuk tidur”, kata anak kecil.
“Hahahahahahahah……” tawa kupu-kupu dan bunga terbelalak.
“Cinta itu bukan tidur, anak kecil”
“Loh, memang cinta itu apa?” tanyanya balik.
Kupu-kupu dan bunga kembali saling menatap, tapi kali ini mereka seperti tak dapat menyamakan pikiran. Tak terpikir oleh mereka kata-kata apa yang akan benar-benar menjawab pertanyaan anak kecil.
“Aku tak tahu, anak kecil” kata bunga.
“Aku juga tak tahu” tambah kupu-kupu
“Yang kami tahu, kami saling mencinta, sudah, sampai situ saja”, kata kupu-kupu.
Mereka sejenak terdiam, berpikir, kira-kira apa jawaban yang tepat.
“Yang aku tahu, aku tak merasa ada tanpa kupu-kupu”, kata bunga.
“Lihat bunga-bunga yang ada di sebelah sana. Aku bisa melihat mereka, tapi mereka belum tentu dapat melihat aku, mereka selalu menghadap ke depan, tak pernah ke belakang, ke arah ku. Sekalipun mereka dapat melihatku, belum tentu mereka dapat menyentuh aku. Begitu juga aku, aku tak dapat menyentuh mereka. Mungkin, aku tak ada artinya buat mereka. Akupun tak memberi arti bagi bunga lainnya, karena aku terbatas, aku diam, aku berakar, tak bergerak…”
Kupu-kupu mengeratkan rangkulannya dan mendekapkan wajahnya pada si bunga.
“…Tapi kupu-kupu datang kepadaku. Hampir setiap hari. Ia mengambil sariku. Dari aku, ia beroleh hidup. Aku merasa berarti, aku merasa ada, karena adanya dia.”
“Aku tak mengerti. Itu cinta?” anak kecil kembali bertanya.
“Aku ini binatang siang” kata kupu-kupu
“Malam-malam aku harus beristirahat, di pohon, di dalam hutan, jauh disana. Tiap hari aku kesini untuk bertemu dengan bungaku”, kata kupu-kupu.
“Kupu-kupu juga memberi aku kehidupan, anak kecil. Dia datang padaku di saat aku kembang. Aku bunga, dan waktuku tak banyak, sebentar lagi juga meranggas. Tapi kupu-kupu datang dari jauh, bertemu denganku, tak berapa lama kuncup di sebelahku ini menjadi bunga. Ia membuat hidup menjadi suatu hal yang niscaya”, kata bunga
“Lalu, itu cinta? Tanya anak kecil, penasaran tak kunjung mendapat jawaban.
“Itu bukan cinta, anak kecil.”
“Tapi setidaknya itu beberapa bagian dari luapannya” kata kupu-kupu
“Terus, apa dong?”, gerutu anak kecil.
“untuk aku, luapan cinta yang paling tinggi adalah ketika kamu terus memberi, tanpa berharap untuk menerima apapun darinya”, kata kupu-kupu.
“ooo…..”, balas anak kecil sambil mengerenyitkan dahi.
Anak kecil sejenak memalingkan muka, melayangkan pandangan pada pintu rumahnya yang terlihat kecil di ujung sana.
“Jadi, ibu ku terus memberi, tanpa berharap menerima apapun dariku?”, tanya anak kecil pada dirinya sendiri, sekaligus bermaksud mendapat peyakinan dari kupu-kupu dan bunga.
“Tapi aku juga mau memberi kepada dia. Aku juga kok, cinta dia”
Sejenak angin berhembus kencang, dan semua terdiam.
“anak mama…ayo pulang…!!” teriak ibu anak kecil dari kejauhan
Anak kecil berdiri, menengadah ke belakang, ibunya memang ada di kejauhan sana. Anak kecil menunduk sekali lagi, berpamitan pada kupu-kupu dan bunga, berharap, besok mereka bertemu lagi.
“Aku pulang dulu yah”, katanya..
“Ayoo, bentar lagi papa pulaaang…” kata ibunya masih dari kejauhan.
Anak kecil segera memutar badan dan berlari pulang.