Kekerasan (Fisik) di Sekolah
Beberapa hari ini, semua media sosial begitu ramai dengan pemberitaan tentang beberapa guru yang dilaporkan pihak orang tua karena terbukti telah melakukan tindak kekerasan fisik terhadap anaknya. Perihal alasan dibalik itu, sepertinya para orang tua menjadi buta dan mungkin sengaja tidak mau tahu. Entah karena ego atau rasa sayang yang terlalu pada anak-anaknya.
Ya, tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi ataupun ikut repot dengan masalah itu. Saya hanya tergelitik untuk sedikit menuliskan opini dan berbagi cerita. Sebagai tiga peran : Murid, orang tua, dan masyarakat awam.
Sebelum masuk ke komentar pribadi saya perihal itu, mari saya ceritakan sedikit kisah saya sewaktu duduk di bangku kelas 2 SMP. Tahun berapa? Itu hal yang tidak perlu kalian tahu, huehehe.
Saya besar sebagai siswi yang selalu menjadi peringkat pertama di kelas, sejak TK. Dan kebetulan, teman-teman dan guru juga mempercayai saya sebagai seorang ketua kelas, most of the time. Dan⌠hal yang mengganggu ketenangan dan kedamaian hati saya ketika itu (tentu yang berhubungan dengan sekolah), saya tidak ragu untuk mencari solusinya. Terkadang bahkan sendirian saja.
Suatu ketika, ada seorang guru bahasa indonesia (next, lets call her Ibu L) yang nampaknya memiliki kepribadian baik-baik saja, namun sebenarnya tidak. I am afraid, she is into something, at that moment.
Setiap kali pelajaran bahasa indonesia dimulai, Ibu L selalu memiliki cara untuk membuat jantung saya dan teman-teman sekelas loncat tidak keruan. Suatu hari ia memergoki seorang teman saya tidak membawa buku tulisnya, lalu ia mencubitnya sampai teman saya itu kesakitan luar biasa. Bila saja pria yang menangis di usia kami saat itu tidak memalukan, mungkin teman saya itu akan menangis. Saya yakin. Suatu kali lain, Ibu L ini juga menemukan seorang teman yang tidak mengerjakan prnya. Lalu ia memukul teman saya tersebut tepat di bagian belakang tubuhnya. Pukulan itu begitu keras, sampai-sampai saya dan yang lain rasanya ingin langsung memeluk teman kami dan menenangkan sakitnya.
Awalnya, dua kejadian itu hanya nampak menyakitkan di hati saya saja, meski bukan saya yang jadi korbannya. Namun melihat itu di depan mata, rasanya cukup perih.Â
Keesokan harinya, dua teman saya ini tidak masuk sekolah. Keduanya beralasan sama. badannya memar-memar biru karena kekerasan fisik yang dilakukan Ibu L. Yang satu biru di dua tempat, perut dan lengan, karena cubitan. Yang satu lagi, biru sebesar ukuran telapak tangan ibu L, tepat di bagian belakang tubuhnya.
Melihat ini, saya seperti tidak terima dan ingin memberontak. Menurut saya, cara ini tidak benar dan tentu tidak bisa dibenarkan. Sejak dulu saya berpikiran, selalu ada cara lain menghukum seorang siswa ketika ia salah. Dan itu tentu bukan bentuk kekerasan fisik.
So, I met the headmaster and told him everything.Â
Bukan, bukan ingin menjadi pahlawan. terlalu dini rasanya berpikiran demikian di usia saya saat itu. Saya cuma ingin kami semua belajar dengan tenang, tanpa rasa takut berlebihan terhadap seseorang yang seharusnya mampu menjadi pengajar, bukan penghajar.
And yes, after that, everything went back to normal.Â
Jadi, setelah pernah melihat di depan mata sendiri, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal ini :
1. Percayakah kita bahwa bentuk hukuman kekerasan fisik adalah cara terbaik dan tidak ada cara lain selain itu, untuk mendidik anak? Apakah saat ini, banyak pendidik yang mulai kehilangan cara edukatif untuk menghukum anak didiknya?
2. Tidak perlu berandai-andai menjadi orang tua untuk melihat kasus ini lebih dalam. Karena kita semua tentu pernah menjadi seorang anak. Dan jujurlah, apa itu cara terbaik yang seorang anak harapkan dari gurunya?
3. Yakinkah kita bila kekerasan fisik tidak meninggalkan bekas sangat buruk di hidup anak? Selain luka fisik, apa kita yakin ia tidak akan memiliki luka di hati? Dan yakinkah itu akan sembuh dan ia terima dengan baik? Sebaiknya kita banyak berkaca dari pendidikan di luar yang berhasil, tanpa perlu ada bentuk kekerasan fisik pada cara mendidiknya.
4. Bila bentuk kekerasan fisik yang dianggap kecil dapat ditolerir, mau seperti apa dunia pendidikan kita nantinya, ke depannya? Dengan alasan âzaman gue dulu enggak cemen, manja, cengeng begini deh? Dude, pernah dengar pepatah bahwa mendidik anak harus disesuaikan dengan zaman anak itu sendiri, dan bukan zaman kita?
5. Saya percaya, guru bisa lebih cerdas dan kreatif. Masa iya, di kepala para guru cuma terpikir untuk menghukum dengan cara kekerasan fisik? Pasti ada cara lain. Dan semua orang harus percaya ini.
6. Lima opini saya di atas, tentu tidak melegalkan keputusan orang tua untuk begitu saja melaporkan kasus serupa pada kepolisian. Membawa hal yang bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan ke ranah hukum, tentu tidak bijaksana. Bahkan dapat mempermalukan diri sendiri dan keluarga.
7. Terakhir, dengan memandang bahwa saya bukan seorang guru di sekolah formal lalu kalian berkomentar âkamu tahu apa sih, kan bukan guru?â, well, I knew more than you think. My mom is a teacher. Dan sudah puluhan tahun ia berjuang menghadapi kebengalan anak didiknya, tanpa sekalipun merasa harus memberikan hukuman fisik.
Last, guru adalah pengajar, bukan penghajar.
Salam damai, dari calon orang tua di sekolah formal, beberapa tahun lagi dari sekarang.