Membangun Habit yang Baik setelah Akad
Sebelum memulai materi, ka lola kembali mengingatkan bahwa ketika kita mendatangi kajian, majelis ilmu, perkumpulan manusia yang sedang membahas kebaikan, itu bukanlah tanpa alasan, pasti ada sesuatu yg ingin Allah sampaikan.
Maka, betapa kita harus bersyukur akan hal itu. Dari sekian banyaknya dosa dan maksiat yang kita lakukan, Allah masih memilih kita untuk menjadi hamba yang lebih baik, semoga Allah selalu menjaga niat niat baik kita, mudahan Allah perkenankan.
Membangun Habit Baik setelah Akad adalah salah satu tema yg cukup jarang orang membahasnya secara mendalam.
Ketika kita menikah kita dapetin hal hal yg gasuka dari pasangan itu adlh hal yg lumrah, disinilah pentingnya kesabaran dan saling ridho. Selama bukan hal yg principle, berlapanglah.
Pasti ada ga sukanya, ada ga sreg nya. Kalau suami ada keburukan satu hal, pasti ada banyak hal lain yang menjadi kebaikan.
Semisal ada satu kebiasaan yang kita ngga suka dari suami, kita harus paham mungkin suami tidak dibesarkan di keluarga yang satu kebiasaan tersebut menjadi fokus dalam kehidupan keluarganya..
Karena itulah untuk supaya ada rasa nyaman, sakinah, ketenangan, kita harus ikhtiar dan tawakal.
Salah satu nya dengan membangun habit yg ngga bisa terjadi kalau ngga dibiasakan. Kalau ga dibiasakan, bbrapa tahun berikutnya akan jadi canggung.
Pernikahan di tahun tahun awal, mungkin yang terpenting adalah cinta. Tapi di tahun 5 sampai berikutnya bukan lagi cinta tapi kesetiaan dan tanggung jawab. Ngga butuh deg degan lagi.
Habit ini harus berdua dengan pasangan, istiqomahkan, dan wariskan. Habit akan membentuk budaya baik dalam keluarga. Kata buku begini, ibu begini, tapi praktiknya enggak. Suri tauladan adalah ilmu parenting paling utama. Anak merekam apa yang mereka lihat.
1. Membiasakan mengucap kalimat thayibah
Jazaakallahu khayraa, barakallahu fiik, fii amanillah..
Keliatannya sepele, tapi dalam catatan langit jauh lebih bermakna, jauh mendatangkan manfaatnya dibanding dengan ucapan makasih, hati hati yaa..
Karena kalimat tersebut mengandung doa dan harapan dari seorang istri untuk suami nya, dan sebaliknya. Kita mungkin sering mengucapkan kalimat itu untuk teman teman kita, padahal suami adalah paling berhak.
Diantara semua manusia yang paling berhak mendapat kalimat thayibah adalah suami.
Kita tidak tau kalimat yg mana, doa yg mana, yg insyaaAllah akan menjadikan suami lebih cinta.
2. Biasakan komunikasi yang aktif
Dari hati ke hati, dari mata ke mata. Saling menatap saat lawan bicara. Tunjukan bahwa saling menyayangi, mencintai dia karena Allah, merespon dengan baik apa yg beliau minta. Mencoba merawat apa yg menjadi kelemahan suami dan kita. Semisal suami bau badan, bantu fasilitasi untuk mengurangi hal tersebut. Ada teknik yg kita ngga harus bohong dan ngga harus blak blakan. Ketika baru menikah, inilah kesempatannya karena sama sama asing, disaat itulah harus komunikatif.
Kalau butuh disayang maka sampaikanlah. Jangan malu untuk bilang ingin disayang, ingin di bilang cantik. Laki laki itu makhluk yg ngga begitu peka. Jangan sampai kita merasa berusaha tapi ngga dihargai. Maka sampaikan dengan cara baik. Allah jadikan fitrah perempuan untuk di rumah, Allah jadikan perempuan lebih lemah lembut, hangat, itu untuk menyambut suaminya di rumah.
3. Membiasakan saling jujur
Sampaikan makanan yang disuka dan ngga suka, karena disana ada ridho suami yang harus kita kejar. Sampaikan kalau ada yg kurang sreg diantara berdua, jgn sampai saling ngebatinn, karena hal tsb lama lama akan jadi bom atom.
4. Membiasakan financial yg jelas, sebutkan anggaran2nyaa
Dalam agama, kita tidak ada kewajiban untuk mengetahui gaji suami, tapi kalau kita mengetahui hal itu akan lebih menghadirkan ketenangan, maka komunikasikan dengan suami.
Semisal ada kasus suami nya terlalu mudah memberi untuk keluarga, sedangkan istri kurang. Istri berapapun dikasi suami, tugas pertama istri adalah qanaah. Ngga meminta lebih. Qanaah, mendoakan, semoga dengan doa itu akan menambah rezeki.
5. Membiasakan saling belajar, berbagi, menuntut ilmu
Setiap pagi melihat kajian, dibiasakan. Menjelang berbuka kita kultum, baca buku, dll Kalau ngga dibiasakan, nanti akan susah. Canggung, dan akan membiasakan dengan sendiri2. Bangun jam 3-6, isinya ilmu, ibadah, setelah sholat subuh, membagikan faedah, dllmKalau ada kajian kita ajak, kalau ternyata suami ngga bisa, nggapapa, Allah sudah catat sebahai pahala.
6. Membiasakan saling sentuh, biasakan saling peluk,
Perempuan kalau lagi marah, pasti bete, uring2an, suami selalu disalahkan, jangan yaa, mudahan Allah menjauhi kita dari sifat itu.
Kalau kita ngeliat suami bete, kita langsung peluk ajaa
Ada suami istri bingung mau ngapain, padahal dalam hati mereka butuh untuk disayang, akhirnya uring2an dll. Suami itu layaknya kita, juga pasti senang kalau dipanggil sayang, di peluk, diusap kepalanya, dihargai, dipuji, dll Ngga ada batasan privasi suami istri. Ada bbrp hal yg perlu kita jaga cara menyampaikannya. Ada bbrp hal yg ga di suka dari pasangan, tapi Ada bbrp hal yg harus pake teknik dalam menyampaikan. Hal hal yg ngga disuka tadi , mungkin karena adanya perbedaan kebiasaan, maka hal ini ngga perlu kita sampaikan. Kebiasaan dikampung duduk gimana dan lain lain. Pass HP ga perlu kita tau, tapi kalau kita tau akan menghadirkan ketenangan, diskusikan.
Kalau ada apa apa, tenangin duluu, jangan dekati, ketika suami memikirkan beban bebannya, bukan lah hal yg mudah. Jangan paksa dia cerita. Beri gesture kapanpun dia butuh, kita ada. Abang mau teh? Abang mau dikamar? . Bunda Khadijah tidak bertanya apapun, yg ddilakukan adalah menyelimut. Pasangan kita paling suka di tenangin dengan apa kita perlu tau.
Pernikahan itu adalah tentang bagaimana kita mengedapankan udzur, bukan prasangka.
Pernikahan itu bukanlah sekedar kamu dan dia menjadi pasangan halal, bukan sekedar yang tadinya haram menjadi halal, atau berisikan rutinitas kehidupan rumah tangga saja.
Jauh dari itu, hendaknya seorang istri akan menset goals bagaimana nanti nya agar saya mampu menjadi istri suami saya di surga dan mampu menyambut dia di surga.
Sehingga, dengan goals tadi kita akan lebih mudah untuk tidak tertarik dengan hal hal yang tidak mengantarkan ke surga dan akan dengan mudahnya tertarik dengan hal hal yang mengantar kita ke surga.