Still can't believe that this little munchkin were inside my womb for 37 weeks long, grew and developed second by second, got her little kick during midnight and some more. Till the day she had to be delivered since my water reduced its volume with unknown cause , she did still give her kick as much as she could. No one expect that she will be delivered that way. She was born earlier and did fight harder than others, yes she did.
Banyak yang memberi selamat kepadaku atas kelahiran putri cantik beberapa waktu yang lalu. Jazaakunalloohu khoiron katsiron yaa atas do'a - do'a nya. Namun, ndak jarang pula di antara sekian banyak itu yang menanyakan perihal proses melahirkanku. Terkadang bikin ini hati seperti disenggol kanan senggol kiri, ya begitulah manusia, ndak selamanya bisa seperti apa yang kita mau.
Nama putriku Sahlaa, artinya kemudahan. Kalau teman-teman pernah membaca do'a memohon kemudahan, aku dan Suamiku menyadur nama tersebut dari do'a itu. Selama hamil aku memang berdoa , 'Ya Rabb, mudahkanlah aku dan anakku selama proses persalinan, tenangkanlah aku'.
Memang benar, Sahlaa lahir dengan proses SC dan ia lahir di tanggal yang cukup apik 12-11-2020. Lagi-lagi ada yang bertanya, memang diprogram ya untuk melahirkan tanggal itu? Hihi, jika boleh kugigit si penanya, marilah kucoba. Tapi kan aku masih berakal sehat, sabar adalah jawaban pada situasi seperti itu.
Akupun faham, melahirkan dengan normal atau istilah dewasa kini 'per-vaginal' adalah dambaan banyak perempuan, iya bukan? Apabila ditanya kau ingin melahirkan dengan cara apa? Tentu aku pun akan menjawab 'Normal'. Betapa tidak, aku pun kalau ditanya ya ingin merasakan yang namanya kontraksi, merasakan yang namanya pembukaan demi pembukaan, sampai anakku bisa kutangkap sesaat setelah dia menangis.
Tapi yang namanya manusia, sekuat apapun ia berikhtiar ada Rabb Yang Maha Menentukan Segalanya, bukan? Di minggu ke 36, air ketubanku ternyata sangat sedikit, padahal dicek juga tidak ada rembes atau apapun. Intake cairanku pun sudah bisa dikata lebih, hampir 4L/ hari. Kenapa ya? Wallaahu a'lam.
Obsgynku meminta untuk kontrol 1 minggu lagi untuk melihat indeks ketubanku dan pertumbuhan janin. Jika memang tidak bertambah ya mau tidak mau harus diterminasi.
1 minggu pun berlalu, usia kehamilanku memasuki minggu ke 37. Harap-harap cemas setiap kali kontrol ke obsgyn, hanya berdo'a mohon diberikan yang terbaik. Saat di USG tampaknya yang namanya amnion ini agaknya memang stuck pada volume segini. Jika rentang angka normal Amnion Fluid Index (AFI) adalah 5-20, angka AFI-ku hari itu hanya mencapai 4.93, nyaris yaa.
Singkat cerita, kami pun memutuskan untuk terminasi dengan SC. Ada memang kemungkinan untuk melahirkan normal, namun harus induksi. Mempertimbangkan baik dan buruknya risiko yang terjadi, akhirnya kami sepakat SC adalah jalan yang kami pilih.
Kalau ditanya bagaimana perasaannya? Ya sedih, betapa tidak bukan? SC dijadwalkan esok pagi menunggu kepulangan suamiku. Malamnya akupun masuk rawat inap, dini hari mulai puasa, pagi sekitar pukul 7.30 aku masuk ruang OK.
Banyak dari kawan-kawanku, saudaraku yang bertanya bagaimana rasanya SC? SC tidak semenyeramkan yang dibayangkan kok. Anastesinya regional (injeksi spinal), jadi hanya dari perut ke kaki yang dianastesi. Saat bius rasanya seperti ketempelan koyo cabe, hangat semi panas begitu. Cara evaluasi sudah jalan atau belum kalau kaki tidak bisa diangkat berarti sudah jalan.
Begitu bius jalan, Obsgynku langsung izin mulai. Ndak terasa sama sekali, cuman terasa perut seperti digoyang. Tidak sampai 5 menit Sahlaa pun keluar, dan langsung menangis. Alhamdulillaah. Mungil memang, hanya 2200 gram. Iya, Sahlaa BBLR.
Sahlaa pun langsung ditempel di badanku untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Lucunya, mungil tapi sudah bisa menghisap dan mencari sumber makanannya sendiri. Setelah selesai jahit, ohya jahitannya juga tipe yang absorbable jadi menyerap ke daging (tidak perlu buka jahitan), aku pun dibawa ke recovery room. Di sana sudah ada Suamiku dan Ibuku. Segera Sahlaa ditahnik oleh Ayahku, kata Suamiku menghisapkan kencang lhoo.
Ada yang bertanya, hanya 2.2 kg tidak masuk inkubator ya? Hihi, Allah mentakdirkan Sahlaa untuk langsung menangis, tidak ada asfiksi sehingga ia bisa rawat gabung bersamaku.
Bagaimana perihal ASI? Apakah melahirkan dengan SC akan berpengaruh terhadap ASI? Alhamdulillaah, beberapa jam kemudian ASI ku sudah keluar, iya benar kolostrum namanya. Sahlaa pun belajar mengenali bau Ibunya, indah sekali yaa bisa menyusui.
Sakit pasca SC memang ada, tapi itu wajar, namanya juga proses. Hari ini Sahlaa sudah berusia 2 bulan 7 hari, beratnya sudah kepala 5, hihi. Setiap manusia memang punya arena juangnya masing-masing ya. Seperti Sahlaa, ia juga berjuang di arena juangnya, menemani Umminya sekolah sedari di dalam perut, berjuang untuk tetap hidup meski arena geraknya sudah sangat sedikit, berjuang lebih dahulu 'sebelum' waktunya, pun sampai sekarang setelah lahir masih juga menemani Umminya sekolah, haha. Kita berjuang bersama ya Nak, insyaaAllah akan sampai pada waktunya kita 'Lulus' bersama. Aaammiin
Purbalingga, Januari ke 19, 2021
Post ujian OSCE Gingivektomi