Hal yang membutuhkan perjuangan seumur hidup, sebagaimana disebutkan oleh Ulama, dan sebagian Ulama pun menuturkan tidak ada orang yang benar-benar bersih dari virus ini; yang membedakan hanya bagaimana menyikapinya.
"Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" QS. Al- Kahf: 68
Di detik di mana virus itu mulai aktif, perasaan yang muncul adalah ketidaknyamanan. Oleh karena itu dikatakan Mu'awiyah radhiyallahu ‘anhu, tidak ada satu pun sifat buruk yang lebih adil dari hasad (iri hati, dengki) di mana ia membunuh sebelum dampaknya sampai ke korban dan hidupnya berantakan lebih dulu.
Hasad ini menutupi hati sehingga tidak bisa berpikir jernih dan bisa kehilangan kendali. Inilah jebakan, tidak bersikap dengan iman dan akal sehat. Memiliki ilmu sebanyak apa pun kemudian terkena hasad maka seperti tidak memiliki ilmu sama sekali.
Apa penyebab yang bisa mengaktifkan virus ini?
Permusuhan dan kebencian. Jika ingin bersih dari penyakit ini maka sayangi sesamamu.
Sifat tidak suka jika ada orang lain lebih baik darinya.
Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Ujub yaitu terpukau dengan dirinya sendiri, berpikir bahwa dirinya berjasa, berpikir bahwa dirinya berhasil karena usahanya bukan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan dirinya Allah Subhanahu Wata’ala bahwa Allah Subhanahu Wata’ala yang memberikan semua yang dirinya dapatkan. Ketika dirinya melupakan Allah Subhanahu Wata’ala otomatis ketika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan maka dirinya akan lupa bahwa yang memberikan adalah Allah Subhanahu Wata’ala, contohnya Qarun.
Khawatir dan takut kehilangan sesuatu yang dirinya inginkan, incar atau sudah dimiliki sebab mungkin ada kompetitor atau pihak lain yang hadir maka timbullah hasad, sebab dirinya pikir bahwa keinginan atau cita-citanya bisa gagal disebabkan kehadiran orang lain.
Salah satu kunci dalam beriman kepada takdir, adalah konsep sebagaimana hadis Ubay bin Ka'ab radhiyallahu ‘anhu, apabila engkau berinfak dengan emas sebanyak pegunungan Uhud, Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan menerima infakmu sampai engkau beriman dengan takdir dan sampai engkau mengetahui dan yakin apa yang Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan diberikan kepada engkau tidak akan meleset dan apa yang tidak Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan tidak akan engkau dapatkan. Dan apabila engkau wafat dengan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan ini maka engkau termasuk ahli neraka.
Ini adalah jawaban sehingga mau ibadah sehebat apa pun tidak akan Allah Subhanahu Wata’ala terima sampai kamu beriman dengan takdir. Salah satu perincian beriman kepada takdir adalah kamu yakin dengan apa yang Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan diberikan kepadamu tidak akan meleset dan apa yang tidak Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan tidak akan diberikan kepadamu baik nikmat atau musibah. Dan apabila kamu wafat dengan akidah yang berbeda seperti yang sudah disebutkan maka kamu termasuk ahli neraka. Ini adalah prinsip atau kaidah yang otomatis memutus jalan menuju hasad. Khususnya, penyebabnya adalah kita takut kehilangan sesuatu karena hadirnya orang lain. Selama kita ikhlas beriman, beramal saleh, fokus pada diri, kewajiban maka aman, tidak ada yang perlu ditakutkan.
Dan apabila kita tidak mendapatkan hal yang diinginkan itu pun bukan salah pihak lain, karena kehadiran orang lain melainkan sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan tidak akan merugikan kita apabila kita beriman dan beramal saleh sebagaimana dalam QS. Ali 'Imran: 139, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." Ayat ini turun ketika perang Uhud dan terjadi kekalahan. Jika Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan pasti dapat, jika tidak itulah yang terbaik menurut Allah Subhanahu Wata’ala.
Cinta kekuasaan dan ambisi mendapatkan kekuasaan tersebut. Kekuasaan adalah amanat dan bisa jadi Allah Subhanahu Wata’ala selamatkan kita dengan cara kita gagal menjadi pemimpin di sebuah lingkungan atau bidang karena tanggung jawabnya sangat besar.
Jiwa yang buruk dan pelitnya jiwa untuk berbagi kebaikan bahkan melihat kebaikan yang dirasakan oleh hamba-hamba-Nya. Dan inilah penyebab yang paling parah.
Kebahagiaan kita bukan terletak pada pencapaian orang lain yang lebih tinggi dari kita dan sakit hati atau sengsaranya kita tidak ada kaitannya dengan pencapaian orang lain yang lebih tinggi dari kita. Sakit hatinya kita itu tersebab masalah iman dan tauhid.
Lalu, apa yang bisa diupayakan untuk mengobatinya?
Memutuskan pandangan kepada manusia dan hendaknya hati kita ditautkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan meminta karunia dari-Nya. Hati jangan ditautkan kepada manusia melainkan fokus kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Inilah penyebabnya karena hati kita fokus pada pencapaian manusia; pada si A, si B, si C. Ini yang jadi masalah. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu 'Aun rahimahullah mengingat manusia adalah penyakit dan obatnya adalah mengingat Allah Subhanahu Wata’ala. Hati kita tidak boleh tertuju bahwa teman kita berhasil melakukan A, B, C, dsb bahkan kita seharusnya senang.
Dan hati ini berusaha kita program hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kita tautkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan yang hatinya terfokus pada Allah Subhanahu Wata’ala, dirinya akan melihat kenikmatan yang didapat orang lain adalah pemberian dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Untuk itu, para Ulama mengatakan kepada orang yang hasad, apakah kamu sadar sikap burukmu itu kamu tujukan kepada siapa? Adab burukmu diarahkan kepada siapa? Sadarlah bahwa engkau bersikap buruk kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan engkau tidak rida apa yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada diriku.
Orang yang fokus kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan sadar tentang kemahakuasaan Allah Subhanahu Wata’ala, hak prerogatif Allah Subhanahu Wata’ala yang diberikan-Nya kepada hamba yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki. Intinya adalah mengingat Allah Subhanahu Wata’ala (inti dari obat penyakit hasad), tauhid kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ahli tauhid tidak mempertanyakan, kenapa dia? Kenapa bukan saya? Sebagaimana dalam QS. At-Tin: 8, "Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?"
Berkompetisi dalam beramal saleh, bukan sebatas amalan atau urusan dunia. Apabila casing-nya amalan dunia itu hanya jembatan menuju amal saleh. Salah satu yang membuat hasad adalah fokus pada urusan dunia.
Pendidikan sejak dini, pendidikan dalam hal ingin kebaikan untuk orang lain, lagi-lagi pondasinya adalah iman dan tauhid. Tauhid yang benar melahirkan spirit menginginkan kebaikan untuk orang lain, tentu saja semampu kita.
Dan idealnya harus dibangun sejak kecil. Tanamkan pada anak-anak, semua sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Dan ketika Allah Subhanahu Wata’ala tidak memberikannya kepadamu tetapi kepada temanmu, inilah opsi terbaik walaupun kita tidak mengerti pada saat itu dan kita harus senang ketika teman, saudara, sahabat mendapat kebaikan dan kita mendapat pahala, dan hal ini akan meninggikan derajatmu di dunia maupun di akhirat. Semakin kamu mencintai kebaikan untuk orang lain maka derajatmu semakin tinggi di dunia maupun di akhirat.
Doakan orang yang kita hasadi, ini berat namun apabila kita punya penyakit hasad yang harus kita lakukan adalah doakan. Kita lawan setan, lawan hawa nafsu kita. Caranya, doakan, "Sepertinya aku hasad sama dia deh?" Doakan dia semoga mendapat kebaikan.
Rida terhadap keputusan dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala serta menerima, sebaliknya orang yang hasad memprotes takdir Allah Subhanahu Wata’ala, bukan memprotes orang yang dihasadi, sebagaimana dalam QS. Az-Zukhruf: 32, "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."
Pemberian sesuai kemahabijakan Allah Subhanahu Wata’ala.
Merenungi dampak dari hasad, bahwa orang yang hasad berantakan hidupnya; dunia dan akhiratnya.
Memakan kebaikan-kebaikan kita.
Hasad itu tidak terima terhadap takdir Allah Subhanahu Wata’ala dan hal ini menyebabkan tidak akan bahagia. Imam Abu Hatim rahimahullah menyampaikan bahwa wajib bagi orang yang berakal sehat untuk menghindari hasad dari seluruh keadaan dan variannya sebab sisi yang paling rendah atau ringan dari hasad adalah tidak rida dengan ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala dan keinginan yang bertolak belakang dengan ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap hamba-hamba-Nya.
Mungkin kita pernah mengalami, memiliki semuanya yang kita butuhkan lalu begitu kita hasad kepada seseorang lalu kita mendengar dia mendapatkan kenikmatan walaupun sedikit dan jika dihitung kita lebih tinggi atau lebih tinggi sedikit dan tidak membuat kita berantakan sebenarnya, begitu kita hasad, apa yang kita dapatkan tidak ada rasanya, sebagaimana dalam QS. An-Nisa': 32, "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Jadi daripada hasad/iri, mintalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui segala sesuatu dan bisa jadi apa yang kita minta, Allah Subhanahu Wata’ala tahu buruk untuk kita. Untuk itu, Allah Subhanahu Wata’ala tidak berikan.
Sering kita lupa, kita berpikir apabila kita tidak suka dengan si A berarti urusannya kita dengan si A, bukan, melainkan urusan kita dengan yang memberi itu ke si A yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.
Menurunkan produktivitas dan akhirnya lalai mengerjakan hal yang bermanfaat. Dikatakan oleh para Ulama, sebab semakin parah sifat hasad maka semakin sering memikirkan orang yang dihasadi, kemudian tanpa sadar waktunya habis memikirkan orang tersebut, lalu menjadi sedih, bete, kesal dan hal tersebut tidak menghasilkan apa pun.
Membuang-buang waktu, tenaga, energi, merusak iman, amal saleh dan tanpa hasil. Mengapa demikian? Sebab hamba tidak bisa mengubah ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala. Apabila Allah Subhanahu Wata’ala sudah berkehendak memberikan nikmat kepada hamba-Nya maka tidak ada yang bisa mencegah-Nya, sebagaimana dalam QS. At-Takwir: 29, "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam."
Merusak fisik, menjadi stres, darah tinggi, dsb.
Membuat perpecahan di tengah-tengah.
Jauh dari rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Muslim no. 2318). Hasad bisa dikatakan tidak menyayangi saudaranya sehingga solusinya adalah singkirkan hal-hal tersebut dan tidak ada gunanya bagaimana jika hidup tidak disayang oleh Allah Subhanahu Wata’ala? Apa enaknya hidup dengan kondisi tersebut?
Rekapitulasi pembahasan hasad oleh Ust. Muhammad Nuzul Dzikriحَفِظَهُ اللهُ.
Semoga bisa disikapi dengan ilmu, dariku yang juga senantiasa berupaya melatih diri melihat orang lain senang dan melihat diri ini juga menyenangkan dengan segala pemberian-Nya.