Ya Allah mudahkanlah hamba dalam memahami ilmu
RMH

@theartofmadeline
will byers stan first human second

shark vs the universe


Not today Justin

tannertan36


JBB: An Artblog!

Discoholic 🪩
ojovivo
almost home
hello vonnie

PR's Tumblrdome

⁂
dirt enthusiast
noise dept.
Game of Thrones Daily

#extradirty

seen from Canada

seen from United States
seen from Italy
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Belgium

seen from United States
seen from Poland

seen from United States

seen from Italy
seen from France

seen from Russia
seen from Malaysia
seen from Italy

seen from Brazil

seen from Israel
seen from Belgium

seen from Brazil
@desitw
Ya Allah mudahkanlah hamba dalam memahami ilmu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Kita pasti punya alasan tersendiri, ketika menjadikan seseorang sabagai sahabat dekat. Mereka yang kita cari disaat kita butuh, butuh teman cerita, butuh pundak untuk bersandar, butuh tangan untuk mengusap air mata, butuh pinjaman uang, butuh anterin ke suatu tempat dan sebagainya. Mereka yang tanpa kita cari, akan selalu hadir. Ketika yang lain meninggalkan. Mereka tetap tinggal. Mereka adalah sekian ratus teman yang terseleksi menjadi teman baik kita. Tinggal kita yang merawat dan menjaganya. Banyak cara Tuhan mempertemukan, mulai dari teman kecil, teman sekolah, teman kampus dan organisasi, teman komunitas sampai dari teman sosial media. Beberapa orang menganggap jika sosial media itu maya, teman di sosmed beda dengan teman di dunia maya. Bagiku tidak, aku sudah menemukan beberapa sahabat dekatku yang berawal kenalan dari sosial media, kami bertemu, dan menjalin hubungn persahabatan. Hingga sampai detik ini”
— Desi T. Wulandari
Kali ini, pertemanan itu semakin menyempit namun mendalam.
Talk to my self :
" It's okay being alone. Kamu gak stres di tahun 2020 udah hebat banget. Yuk lanjut jalan lagi"
Mengajarkan Ibadah yang Menyenangkan pada Anak
Sebuah Catatan Seminar bersama Bunda Elly Risman, Psikolog
Oleh: Yulinda Ashari Bidang Pemuda ASA Indonesia Divisi Riset dan Kajian
Sebagai orang tua Muslim, kita seharusnya sudah memahami bahwa tugas utama kita dalam pengasuhan anak adalah bagaimana menjadikan anak sebaik-baik hamba yang taat beribadah kepada Allah swt. Konsep ibadah dan keimanan ini harus diajarkan sejak anak masih dini, agar kelak ketika beranjak dewasa mereka sudah terbiasa untuk beribadah tanpa harus disuruh lagi. Metode pengajaran beribadah kepada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ibadah bagi anak-anak harus dibuat menyenangkan. Mengapa ibadah bagi anak harus menyenangkan? Karena targetnya anak-anak, maka metode harus disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Bagian sinaps pada otak anak belum menyatu dengan sempurna sehingga ibadah harus dikemas secara menyenangkan. Orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan dengan mengabaikan perkembangan otak anak.
Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, orang tua harus mengingat kembali bahwa hal ini merupakan perintah Allah yang harus diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh, karena sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengagungkan keesaan Allah swt. Mari kita buka kembali QS. Ad-Dzariyat ayat 56-58, yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Salah satu tanggung jawab orang tua dalam hal beribadah ini adalah bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik serta meninggalkan kenangan yang baik pada anak. Ingatkah dahulu kala mungkin ada yang mendapat “ancaman” jika tidak salat? Barangkali hal itu dapat membentuk kebiasaan yang baik, namun kenangan yang tertinggal di ingatan adalah kenangan yang tidak baik, bukan? Kebiasaan baik dan kenangan yang baik. Ibadah harus dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani, tidak menolak, dan tentu saja agar mereka merasa senang dan bahagia ketika beribadah. Jangan pernah tinggalkan kenangan buruk untuk anak ya Ayah Bunda!
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah berbicara dengan tutur kata yang benar.“ (QS. An-Nisa ayat 9)
Tugas pengasuhan anak apalagi terkait ibadah ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun ingatlah bahwa karakter anak apapun yang Allah anugerahkan kepada Ayah Bunda, tidak akan melampaui batas kesanggupan masing-masing orang tua. Selalu ingatlah bahwa anak kita sejatinya bukanlah milik kita. Anak hanyalah titipan Allah yang dapat diambil kapan saja. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik-Nya. Mereka adalah kenikmatan, tantangan, sekaligus ujian, yang kemudian proses pengasuhannya membutuhkan perjuangan berupa pikiran, perasaan, jiwa, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan jika kita dititipi anak presiden, mungkinkah kita berani memukul, mencubit, atau berkata kasar padanya? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika kita dititipi anak langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan? Masih beranikah kita mendidik anak tanpa ilmu dan bersikap sewenang-wenang pada mereka? Kira-kira sudah berapa banyak kita melanggar perintah Allah terkait pengasuhan anak ini?
Didiklah anak karena Allah. Jangan pernah mengharapkan kebaikan dari anak jika orang tua tidak mendidiknya dengan baik. Anak-anak kita bukanlah pilihan kita, mereka adalah takdir pilihan Allah untuk kita. Boleh memasukan anak ke sekolah-sekolah agama, namun bukan berarti kewajiban orang tua dalam mengajarkan agama menjadi gugur begitu saja. Tugas orang tua untuk mengajarkan agama harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum memasukan anak ke pesantren. Di akhirat kelak, bukan guru-guru pesantren yang akan ditanya, tapi para orang tua masing-masing. Ayah dan Bunda, sudah siapkah mempertanggungjawabkan tugas pengasuhan ini?
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para orang tua dalam mengajarkan anak beribadah yang menyenangkan, antara lain: 1. Tantangan dari dalam diri sendiri dan pasangan Tantangan utama dalam hal ini adalah terkait bagaimana masalah agama ini ditanamkan pada diri Ayah dan Bunda sendiri. Selalu lihatlah ke dalam diri sendiri sebelum menyalahkan lingkungan. Seberapa pentingkah agama dalam hati dan kehidupan kita? Mungkinkah berharap anak yang salih saat kitapun tidak berusaha menjadi orang tua yang salih? Mungkinkah menginginkan anak yang rajin salat sedangkan Ayah dan Bunda tidak salat? Jadilah teladan yang terbaik bagi anak-anak kita terkait ibadah ini. Pelajarilah ilmu agama lebih banyak. Tumbuhkan kesadaran bahwa tujuan utama mendidik anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah. Bagi yang sedang dalam proses pencarian pasangan, sepakatilah di awal pernikahan dengan pasangan untuk bersama-sama mendidik anak menjadi hamba Allah jika telah terlahir ke dunia kelak.
Tahukah Ayah dan Bunda, dalam proses pengasuhan ini, penanggung jawab utamanya ternyata adalah Ayah! Keterlibatan ayah untuk membentuk kebiasaan beribadah anak SANGAT PENTING! Anak yang mendapat keterlibatan pengasuhan ayahnya yang baik akan tumbuh memiliki harga diri yang tinggi, prestasi akademik di atas rata-rata, lebih pandai bergaul, dan saat dewasa akan menjadi pribadi yang senang menghibur orang lain. Maka wahai para ayah, kembalilah! Tugas ayah bukanlah sekadar mencari nafkah, namun juga sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Jika ayah terlalu sibuk bekerja—dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak—maka tanyakanlah kembali pada diri: apa yang sebenarnya sedang ayah kejar? Apa yang ayah sebut dengan kebahagiaan anak dan istri tersebut? Tidak takutkah kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah mengenai hal ini?
2. Mengasuh generasi Alfa • Gen Y lahir pada rentang tahun 1980 – 1994. • Gen Z lahir pada rentang tahun 1994 – 2009. • Gen Alfa lahir pada rentang tahun 2010 – 2025. - Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan olahraga, tidur). - Semua serba cepat, instan, menantang dan menyenangkan. - Mereka terbiasa multiswitching (melalui gadget). - Mereka memiliki tata nilai yang berbeda. Generasi yang akan kita didik saat ini adalah para Alfa. Jika generasi Alfa ini tidak dididik dengan metode yang tepat sesuai zamannya, maka akan sulit memasuki dunia mereka, bukan? Karenanya, Ayah dan Bunda tidak boleh abai dengan tantangan dan perkembangan zaman ya!
3. Beban pelajaran yang berat • 70% anak masuk SD sebelum usia 7 tahun. • 46% anak di sekolah 6 – 7 jam sehari. • 25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang. • 52% guru di sekolah masih memberikan 1 – 2 PR. • 18% anak mengikuti les mata pelajaran setelah pulang sekolah. • 25% anak mengikuti les 2 -3 hari dalam seminggu. • Standar kelulusan Indonesia tertinggi di dunia. Dengan beban pelajaran yang berat bagi anak, kegiatan beribadah seringkali menjadi tidak diutamakan. Para orang tua mendidik anak mereka menjadi orang yang pintar secara akademik, namun hampa secara keimanan. Tanamkanlah tekad dalam diri, “Anakku harus salih dulu, baru pintar”. Jangan salahkan pula jika kemudian anak menjadi mudah emosi karena terlalu lelah di sekolah. Jangan pernah abaikan perasaan mereka. Hindari menasihati mereka saat emosinya sedang tidak baik. Orang tua juga perlu menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri, jangan sampai emosi kita kemudian berimbas kepada anak dan pasangan. 4. Peer Pressure 5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain 6. Perubahan nilai dari masyarakat kita
Mulai dari mana?
Selesaikanlan urusan dengan diri sendiri dan pasangan terkait urusan ibadah ini. Semua kebiasaan beribadah ini bermula dari Ayah dan Bundanya, jadilah role model yang baik dan idola bagi anak kita sendiri. Orang tua juga perlu mengenali keunikan serta tahapan perkembangan otak anak, sehingga metode yang disampaikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Kenalkan ibadah pada anak dengan cara yang menyenangkan. Biarlah jika pada awalnya mereka suka sekali bermain air saat berwudhu hingga bajunya basah dan haruss diganti berkali-kali. Biarlah jika gerakan salatnya masih semaunya, suka menarik-narik sajadah, atau menganggu ayah bundanya saat sedang salat. Jangan dimarahi. Biarkan anak senang dan bahagia terlebih dahulu dengan praktik ibadah ini. Masukan target “bahagia” dalam proses pengasuhan anak. Mendidik anak memang harus disertai kesabaran yang tanpa batas. Tidak apa-apa, didiklah anak dengan cinta karena Allah semata. Jika anak senang beribadah, ia akan mau beribadah, kemudian menjadi bisa beribadah, dan terakhir menjadi terbiasa beribadah tanpa harus disuruh dan merasa dipaksa.
Untuk mengajari anak ibadah yang menyenangkan diperlukan niat baik, kejujuran, keterbukaan, serta kerjasama yang baik dari kedua orang tuanya, tidak bisa hanya salah satunya saja. Setelahnya, kombinasikan semua tekad itu dengan mengenali kepribadian anak, sesuaikan dengan cara kerja otak, bakat, serta seluruh kemampuan anak. Setiap anak kita adalah unik, otak anak baru berhubungan sempurna ketika berusia 7 tahun, sedangkan hubungan anatara sistem limbik dan corteks cerebri di otak baru sempurna pada usia 19-21 tahun. Butuh sekitar 20 tahun bagi orang tua untuk mendidik anak dengan baik, maka bersabar dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Jangan menuntut anak untuk dewasa sebelum waktunya. Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa, hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak-kanakan. Bantulah anak-anak kita untuki mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya. Ayah dan Bunda harus membuat kesepakatan dan kerjasama di awal, siapa pengambil keputusan dalam hal A dan B, buat perencanaan-pelaksanaan-evaluasi, buat target per anak, pembagian kerjasama, kontrol, dan selalu bermusyawarah dalam setiap keputusan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ubah paradigma dan cara pandang kita, bahwa anak bukan saja harus bisa beribadah, namun juga suka beribadah.
Landasan Psikologis Anak
Anak Usia 5 – 8 tahun Ibadah untuk anak usia ini bukanlah suatu kewajiban, tapi perkenalan, latihan, dan pembiasaan. Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak untuk beribadah, namun ada kewajiban syar’i bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan anak dengan cara yang menyenangkan. Didiklah anak dengan modal, misalnya belikan mukena yang disukai anak, membelikan baju koko baru agar anak rajin ke masjid, dan lain sebagainya. Jangan ragu mengeluarkan modal untuk keperluan beribadah kepada Allah swt. Jangan juga hilang kegembiraan anak usia 5 -8 tahun, masuki dunia anak dengan metode 3B: Bercerita/Berkisah, Bermain, dan Bernyanyi. Landasan Psikologis Anak Usia 5 – 8 tahun: • Mudah dibentuk. • Daya ingat yang kuat. • “Dunianya” terbatas. • Meniru: orang tua/ situasi. • Rasa persaudaraan sedunia.
Landasan Psikologis Anak Usia 9 – 14 tahun: • Otak sudah sempurna berhubungan. • Umumnya: Mukallaf. • Emosi sering kacau. • Tugas sekolah semakin berat (ditambah les). • Banyak aktivitas, termasuk bermain internet dan games. • Peer Pressure yang sangat kuat. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: tanggung jawab seorang yang sudah baligh. - Perlakuan dan komunikasi sebagai teman. - Bisa menjadi pendamping/ pembimbing adik-adiknya. - Diberi tanggung jawab sosial: mengantar makanan untuk berbuka puasa, membayar zakat, dan kerja sosial yang mudah sesuai usia. - Ajari anak untuk berwirausaha/ berdagang.
Landasan Psikologis Anak Usia 15 – 20 tahun: • Prefontal Corteks hampir sempurna berhubungan. • Dewasa muda. • Semakin banyak aktivitas, games dan internet. • Mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. • Orientasi semakin di luar rumah. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: dewasa muda, ajarkan fiqih pernikahan. - Perlakuan dan komunikasi sebagai sesama orang dewasa. - Bisa menjadi motivator dan pembimbing adik-adiknya. - Jadikan ia penggerak/ koordinator kegiatan anak dan remaja masjid/mushala.
Setelah mengetahui landasan psikologis pada rentang umur anak, maka metode pembiasaan beribadah pada anak dapat disesuaikan dengan perkembangan dan cara kerja otaknya. Ayah dan Bunda harus terus belajar untuk bisa menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dari anak, jelaskan apa yang saja yang menjadi perintah dan larangan Allah swt., serta manfaat dan ganjaran dari beribadah. Gunakan pendekatan kognitif secara ringkas serta contoh yang kongkrit pada anak, serta selalu gunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama,. Teruslah bersabar dalam mendidik anak karena waktu persiapan setiap anak tidaklah sama, proses pengasuhan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan karakter anak.
Persiapkanlah diri Ayah dan Bunda untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Gunakanlah kata-kata yang memahami perasaan anak, lebih banyak mendengar aktif, hindari kata-kata yang menghambat komunikasi dengan anak, serta biasakanlah memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jika saat ini anak kita dimanjakan oleh fasilitas: kamar pribadi, rumah yang luas, gadget, serta wifi dan akses internet yang tidak terbatas, jangan lupa ingatkan anak untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, ingatkan bahwa meski Ayah dan Bunda tidak berada di rumah atau di sekolah, ada Allah yang tetap mengawasi dimanapun mereka berada. Sampaikan tips sukses pada anak yang tidak hanya berupa kemampuan akademik, namun juga berupa salat tepat waktu, sayang pada ibu, puasa Senin dan Kamis, serta mengaji setiap pagi dan sore.
Akhirnya, selamat berjuang! Miliki kekuatan kehendak, bayangkan, dan doakan anak-anak menjadi penyembah Allah yang taat. Semoga Allah karuniakan kita anak-anak yang salih dan salihah.
Kemarin temanku mengirimkan sebuah pesan. Begini, "Tidak ada yang lebih ditakuti oleh orang yang jatuh cinta, selain kehilangan harapan" Dia bertanya, kamu percaya gak sama quotes itu? Bagaimana aku bisa percaya , selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang sampai kehilangan harapan. Bagaimana bisa ketika kita mencintai Allah, Yang Maha Pemilikn Cinta

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Awal bulan, bentar lagi story full dengan
"bismillah semoga lebih baik dari bulan kemarin"
"Ahh, udah september aja. Gak kerasa ya, cepet banget."
Dan Ba.. Bi.. Bu... Lainya.
Adalah aku salah satunya. Tidak memungkiri memang. Rasanya baru kemarin bikin list target pencapaian. Semisal, meningkatkan kemampuan bahasa, dengan menghafalkan vocabulary yang di tempel di dinding. Review buku dengan project #onemonthonebook. Project #sedekahjumat. Belum lagi mulai menerapkan hidup minimalis. Nulis journal
Setelah di evaluasi, belum semuanya bisa terpenuhi. Terdistrak, sering tidak konsisten, dan menunda.
Yuk semangat lagi yuk. Konsisten lagi. Minta Allah, supaya dibantu dan dipermudah.
@desitw 1 September 2020
Lucu banget :"(((
Hi tumblr, I am back.
Some useful Duas 🎁
Menemukan ini dari postingan teman, rangkuman salah satu kajian ustadz Adi Hidayat. Entah siapa yang buat ini, tapi MasyaAllah bermanfaat, semoga menjadi catatan amal kebaikan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebelum Genap.
“Ujung dari langkah yang kita buat untuk mencari adalah penerimaan.” - Iidmhd
… karena akan selalu ada yang lebih baik tetapi yang menerima apa adanya kamu; tidak selalu ada.
Menilik postingan instastory Masgun kemarin seputar “Apa sih yang kamu ingin tanyakan kepada calon pada saat proses pranikah yang mungkin sungkan ditanyakan tetapi penting?“ dan seperti biasa respon dari ask me tersebut memberikan banyak sekali pencerahan.
Berikut beberapa hal-hal yang perlu ditanyakan menurut followers Masgun beserta tanggapannya:
Visi hidup dan rencana setelah menikah? (Make sure. Jangan sampai tidak ditanyakan)
Apa yang dilakukan jikalau marah? Pernah sampai mengekspresikan dengan kekerasan fisik? (Sifat temperamental, mudah marah, dsb perlu divalidasi di lingkungan dan pertemanan dia selama ini. Bagaimana dia jika ada masalah, dsb. Teman-teman terdekat di lingkarannya yang paling melihatnya. Potensi KDRT-nya besar jika kamu tidak bisa mengenali dan mencari data valid soal ini)
Bersediakah setelah menikah tinggal dekat dan atau bersama orang tua saya? (Ini cukup sensitif, tidak mudah bagi seorang menantu untuk beradaptasi tinggal serumah dengan mertua. Jika calonmu mengatakan bersedia, menjadi wajib bagimu untuk membantu dan membuatnya nyaman di rumah orang tuamu. Jika tidak bersedia, tidak perlu memaksa. Cari yang lain)
Orang tua berbeda ormas, bagaimana? (Termasuk berbeda soal lainnya, contoh: beda organisasi keislaman, beda budaya, beda cara pandang soal sesuatu. Ada keluarga-keluarga yang menganggap hal-hal seperti itu sebagai syarat mutlak. Ada juga keluarga yang terbuka terhadap perbedaan seperti itu. Jika tidak bisa diterima oleh keluargamu. Tidak perlu memaksakan. Menikah urusannya panjang, kalian tidak hanya hidup berdua)
Sex life. Banyak sekali kasus tiba-tiba suami didiagnosis HIV positif kemudian yang terkena imbas adalah keluarga. (Ini bisa jadi pertanyaan tabu tetapi penting. Ada yang menjadikannya hal penting, contoh: keperawanan atau keperjakaan, ada juga yang tidak. Jadi, jika sex life ini penting bagimu. Tanyakan. Lebih berat menanggung risikonya daripada beratnya bertanya)
Saya ingin bekerja walaupun sudah menikah. Bagaimana? Boleh? (Ini menjadi case di kalangan perempuan, ingin bekerja setelah menikah. Jika itu penting bagimu, tanyakan. Tidak sevisi. Cukup sampai di sini. Cari yang lain. Karena itu juga akan melihat soal mindset. Perkara nanti kamu ketika menikah akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga, itu juga keputusan sadarmu. Bukan karena disuruh dan terpaksa)
Uang yang kamu dapatkan dari mana saja? Uangnya mengalir ke mana saja? (Ini penting sekali, serupiah pun jangan sampai lolos. Karena ini untuk menjaga harta yang ada dalam keluarga itu benar-benar halal dan berkah. Sekaligus untuk menghitung zakatnya. Jika sudah sampai haul/nisabnya)
Jika saya ternyata tidak kunjung memberikan keturunan, apakah akan menikah lagi atau akan bersabar? (Ini juga pertanyaan sejenis, contoh: laki-laki atau perempuan tidak subur karena kondisi atau sakit tertentu sehingga tidak memungkinkan memiliki anak dalam pernikahan. Hal seperti ini, harusnya tidak hanya ditanyakan kepada pasangan tetapi bagaimana pendapat kedua orang tuanya. Karena bisa jadi ybs tidak mempermasalahkan tetapi tidak dengan orang tuanya)
Pernah HS (having sex) atau tidak? (Hal-hal seperti ini, mungkin ada yang terbuka dan ada yang tidak. Karena bisa jadi jika batal proses pra pernikahannya, kamu jadi tahu rahasianya. Jadi, sepakati sejak awal bahwa di proses pranikah akan terbuka. Karena bagimu ini penting, jika dia tidak bersedia. Ya sudah lebih baik berhenti sebelum lebih jauh sampai kamu mengetahui rahasianya, kecuali dia memang bersedia secara pribadi ingin mengatakannya di awal bahkan sebelum proses lebih dalam. Karena dia memiliki pandangan bahwa itu adalah pintu masuknya. Kita belajar bahwa aib yang Allah tutupi jangan sampai dibuka kembali jika ybs sudah bertobat. Jika kamu merasa perkara HS ini penting, make sure bahwa dia memiliki pandangan yang sama bahwa hal tersebut penting untuk diketahui sebelum menikah. Nanti berlanjut ke persoalan kesehatan reproduksi)
Gaji Pasangan. Ingin sekali menanyakan tetapi bingung memulainya. (Tinggal tanya, gajimu berapa dan bagaimana mengalokasikannya selama ini? Lalu rencana ke depan dengan pendapatan tersebut setelah berumah tangga. Jangan pertaruhkan hal-hal yang besar untuk perkara-perkara ketakutan-ketakutan yang kecil. Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri)
Apakah keluargamu memiliki utang? Apa saja janji-janjimu terhadap orang tuamu? (Insightfull, apa saja janji-janjimu kepada orang tua? Jawabannya akan sangat penting buat jadi pertanyaan ke diri sendiri, apakah saya bersedia membantu mewujudkan janji-janji tersebut atau tidak?)
Jika saya memiliki prinsip menghindari utang riba tetapi kamu justru kerja di bagian pencari nasabah, lalu bagaimana? (Ini prinsip-prinsip bermuamalah. Ini juga bisa direfleksikan ke hal-hal serupa yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dalam menjalankan agama. Jika bagimu penting dan tidak ada toleransi. Seharusnya tidak ada ruang untuknya. Jika masih ada ruang, berarti itu dorongan hawa nafsu)
Kesehatan. Minta tes kesehatan sebelum nikah terutama tes HIV. (Medcheck. Jika kamu meminta dia medcheck, kamu juga harus. Jika ini penting bagimu, lakukanlah. Hal ini lebih banyak manfaatnya untuk kehidupan pernikahan ke depan. Jika kemudian hasilnya diketahui ada penyakit bawaan di diri calon. Kamu harus siap untuk mengambil keputusan. Jangan menikah karena kasihan, sungkan dan takut omongan orang)
Utang atau tanggungan keluarga saya masih ada. Kamu siap menerima atau tidak? (Saya menekankan kepada teman-teman jika tahu kondisi keluarga soal utang, dsb lebih baik dikomunikasikan. Sebab, utang itu diwariskan. Ekstremnya, jika orang tua tiba-tiba meninggal dan masih ada utang maka anak-anaknya lah yang harus melunasi utangnya. Apalagi jika kondisimu saat ini masih bekerja dan berjuang melunasi utang orang tua)
Pola asuh anak. Apakah nanti akan terlibat dalam pengasuhan atau fokus bekerja? Seperti apa pola asuhnya? (Pandangan soal pola pengasuhan ini juga penting. Jangan sampai ‘kecele’. Cek tidak hanya ke dia tetapi juga keluarganya. Jangan sampai kamu pro-vaks dan baru tahu setelah menikah jika pasanganmu itu anti-vaks. Bisa perang dingin di dalam keluarga. Dan pola-pola pengasuhan lainnya)
Nanti kerjanya bagaimana? Apa masih berbeda kota juga? Karena saya juga berat melepas karir saya sekarang. (Jika pada masa perkenalan sudah tahu career path-nya berbeda dan teguh terhadap keinginan masing-masing. Memang lebih baik tidak usah dilanjutkan. Karena itu adalah misi, caramu menjalankan visi besar yang mungkin kamu sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apalagi jika pekerjaan tersebut memiliki urgensi besar untuk tetap kamu miliki seperti karena kamu harus membantu keluarga, dsb)
Siap dengan Mama saya yang selalu mengukur segalanya dari uang? (Kita mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak bisa menerima orang tuanya atau juga sebaliknya. Dia bisa menerima kita dan orang tua kita tetapi kita sendiri tidak yakin apakah nanti hubungan antar keluarga (orang tua x orang tua) bisa baik. Jika ini penting untuk ditanyakan, tanyakan. Jika ini penting untuk dikatakan, katakan. Karena bisa jadi rumah tangga itu oleng bukan karena kitanya tidak siap menikah dsb tetapi karena intervensi orang-orang terdekat kita sendiri)
Izin poligami karena kerja di luar kota. Saya jawab silakan tetapi bukan dengan saya. (Saya tidak kontra dengan poligami, karena itu ada dalam agama yang saya imani. Yang jelas S&K-nya berlaku. Jika kamu merasa tidak bisa memenuhi S&K-nya tersebut, tidak usah diambil)
Kenapa kamu mudah sekali berutang (uang) demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? (Watak atau kebiasaan bisa ditanyakan. Apalagi jika hal tersebut adalah sesuatu yang tidak se-value dengan diri sendiri. Jika masih tetap tidak menemukan jalan tengah, berbeda pandangan yang artinya sama juga dengan berbeda value. Pernikahanmu jauh lebih berharga daripada orang tersebut)
Jika saya ada masalah dengan Ibunya bagaimana cara dia mendamaikan kami? (Insightfull, bagaimana cara calon mengatasi masalah-masalah yang akan timbul antara kita dengan orang tuanya?)
“Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri.”
… karena lebih baik gagal dalam proses ketimbang gagal setelah menjalani pernikahan.
“Membangun visi dan misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.” - Istri Masgun
Lebih utama jadilah sebaik-baiknya dirimu; sebelum mencari atau ditemukan.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Libatkan Allah Subhanahu Wata’ala selalu di dalam prosesnya. Lalu niatkan menikah karena ibadah.
“Jika dulu niatnya menikah karena terlanjur suka, suruhan orang tua, faktor umur, ekonomi, keadaan dan situasi, semua ini harus diubah niatnya. Diubah niatnya memang karena ibadah. Ingin mengerjakan karena perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Dan betul-betul jika diniatkan ibadah, semua kejenuhan, perasaan-perasaan yang terbebani karena adanya karakter pasangan, beban-beban kewajiban seperti nafkah bagi laki-laki, melayani ekstra dari perempuan ke suaminya, ini akan jadi ringan.” - Ust. Khalid Basalamah.
Sehingga pernikahanmu senantiasa dilimpahkan keberkahan dan menjadi keluarga sehidup sesurga. Aamiin.
Sebab, pernikahan bukan lembaga rehabilitasi.
Berbenahlah sebelum menikah. Berbenahlah bukan agar diterima atau sebab ingin menikah tetapi berbenahlah karena kesadaranmu sendiri dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan berharap orang lain akan berubah setelah menikah; hal tersebut tergantung kemauan yang ada dalam dirinya. Keputusan yang secara sadar dibuat oleh dirinya sendiri.
Jika kamu pun menyadari bahwa mengubah dirimu sendiri harus melewati proses yang tidak mudah dan sebentar maka menjadi mustahil memastikan kamu bisa mengubah orang lain.
Telaah karakter, cara berpikir, dsb karena di situlah ‘rumah’mu seumur hidup; nantinya. Bukan hanya ‘rumah’mu namun juga ‘rumah’ bagi anak-anakmu; kelak.
“Jangan sampai kamu menikah dengan orang yang kamu tidak ingin hidup dengan sudut pandang dan cara berpikir yang kamu tidak mau.” - Masgun
Tidak ada yang sempurna memang, tetapi putuskan dengan penuh kesadaran dan sekiranya kamu rida menjalaninya.
Jadi, pastikan semuanya sudah ‘clear’ sejak awal; sebelum genap :)
WAH, MANTAB, Terima kasih udah bikin resume dari IGS saya :)
Anjay, mau nikah ribet gila..
Aink dulu mau nikah emang nanya nanya dulu sih,. Tapi ga sebelibet itu, ga ampe sedetail itu
For what? Toh ga bisa divalidasi. Kalo pas tanya tanya, si calon kita bohong dan baru ketauan pasca nikah emang mau apa? Cerai?
Kalo checklist nya mesti sepanjang itu, nyarinya kemana? Mending kan kalo ada yang clear semua trus dianya mau sama kita.
Eh aink bukan nyuruh nurunin standar yah
Cuman ya realistis aja.
Dari pernikahan aink yang masuk tahun ketiga, aink belajar banyak hal, salah satunya adalah
“People change”
Orang yang kita tanya tanya sebelum nikah biar tau karakternya ga akan kayak gitu selamanya. Ga ngejamin.
Tapi kan ini ikhtiar kang? Ya silahkan, tapi jangan ngambil kesimpulan final dari hasil tanya tanya sebelum nikah. Yang jawab jujur aja belum tentu bisa konsisten seminggu setelah menikah. Gimana yang ngibul?
Tau sendiri lah orang kalo ada maunya kek gimana.
Aink bukan maksud, mengkritik metode orang lain dalam mencari pasangan. Apa pun metodenya ya silahkan, mau bikin checklist buat survei kek, minta comblangin kek, pake aplikasi kek, silahkan.
Whatever,..
But, be flexible.. you are marrying human.
Ada kalanya kata kata ga sesuai kelakuan, visi misi terhalang kebutuhan hidup,. Gaji dan utang yang jungkir balik.
Yes, baiknya terbuka soal utang, gaji, dan gaya hidup. Tapi menurut aink jangan saklek. Jangan mempersulit jodoh sendiri.
Trus aink tergelitik dengan statement “Pernikahan bukan lembaga rehabilitasi”
You know what? It is,..
Pasangan kita tuh kayak cermin.
Bukan, jangan mikir kalo kita boros bakal dapet yang boros lagi. Ga gitu. Tapi pasangan kita tuh jadi cermin buat perkembangan kepribadian kita.
Dalam pernikahan, pasangan adalah orang yang paling tepat untuk membantu kita bebenah diri.
Setelah menikah, ada banyak hal buruk dari aink yang baru keliatan setelah berinteraksi sama istri.
Oh ternyata aink gini, oh ternyata aink kayak gitu. Baru lah bisa dibenahi. Interaksi yang intens antara suami istri akan saling membuka hal hal yang sebelumnya ga disadari oleh masing masing pihak.
Setelah sadar, perbaikan kualitas hidup alias rehab dimulai..
Eits, jangan salah kaprah. Bukan suami ngerehab istri ato sebaliknya, tapi masing masing saling memperbaiki diri. Pasangan cuma cermin yang bantu ngasih informasi, mana aja yang masih kurang pantas.
Kita butuh cermin untuk memperbaiki dan kontrol diri kan?
Aink selalu ga sreg dengan istilah “berbenah diri” atau “memantaskan” ketika menanti jodoh atau apapun lah itu namanya.
Jadi kalo ditanya kenapa belum nikah juga alesannya “lagi proses memantaskan diri”. Wekawekaweka. Mau kepribadiannya uda sesuper Mario teguh pun kalo kata Allah belum waktunya ya jodoh ga akan dateng, Bambang.
Trus orang orang yang nikah muda dengan berbagai alesan tanpa sempet berbenah diri whatsoever apakah pernikahannya ga valid?
Aink pengen berargumen soal ini tapi bakal panjang hahaha. Next time lah
Intinya, jangan ribet dan banyak tapi. Kuncinya satu,
Kamu ridha ga sama calonnya? Calonmu?
ketika menikah pastikan kamu ridha sama orangnya sama keluarganya. Jangan serakah dengan banyak checklist yang harus dipenuhi calon pasangan kamu, toh belum tentu yang daftar ratusan ribu.
Eh kalo kamu baru bisa ridha setelah puluhan clear di chacklist ya silahkan aja sih. Toh situ yang nikah kan.
Kalo aink sih, mending ambil satu atau dua kebaikan dari calon yang bisa kalian verifikasi kebenarannya sebagai modal. Cukup pegang erat itu saja.
Jadi ketika badai pernikahan datang, kalian punya pegangan
“Dulu saya menikahi orang ini karena X dan Y dan itu cukup membuat saya ridha”.
“Find a strong why, and you will never stop at anything. Including loving your spouse”
Sekian, aink jadi ga bisa tidur setelah dua bocil baru tidur tadi setengah sebelas. Istri udah pulas, moga nyenyak tidurnya
Gatel banget pengen nyautin. Bentar doang, abistu apus ah.
I mean,
I STAN KANG RUBAH!!!!!!!
Cuy, sebelum lo tanya itu checklist pertanyaan ke calon pasangan, coba tanya ke diri sendiri dulu, siap-siap dulu kalo ternyata lo yang ngga se-visi misi sama pasangan lo. Jangan egois berasa maunya lo doang yang penting.
Mumpung gue gabut karena lagi ngga enak badan, gue mau bahas satu-satu pertanyaannya ah.
-
1. Visi hidup dan rencana setelah menikah
Ini harusnya sifatnya diskusi, bukan tanya jawab satu arah. Kan ntar hidupnya berdua, bukan masing-masing. Above all, misi lebih penting. Visi bisa teoretis doang elah nyadur dari google juga bisa. Visi juga bisa dinamis. Berubah tergantung kondisi hidup.
First of all, mending tanya; mz tau bedanya visi sama misi?
2. Apa yang dilakukan jikalau marah? Pernah sampai mengekspresikan dengan kekerasan fisik?
Eh, markonah, ada gitu yang mau ngaku langsung terang-terangan kalo marah bakal mukul?
Bukan sekali dua kali gue dapet pasien KDRT yang ketika ditelusur, pasangannya dulu sebelum menikah ngga gitu, atau awal-awal nikah ga gitu, tapi setelah penyebab-penyebab multifaktorial yang muncul, karakter abusive-nya muncul.
Lagian, bener kata kang rubah, namanya ada maunya, ya pasti jual janji manis lah. Kan lagi iklan diri sendiri, judulnya.
Nih kalo mau lebih valid mending tanya keluarganya, temen-temen deketnya, mantan-mantannya, tetangga-tetangganya. Lu nanya sama orangnya langsung mah bisa aja dijawab;
“jika aku marah dalam keadaan berdiri, aku akan duduk. Jika sudah duduk masih marah, aku akan berbaring. Jika sudah berbaring masih marah, aku akan berwudu……. ”
Terus giliran lagi macet ditikung motor ngebut, teriak
WOY BISA NYETIR NGGA SIH ASU
😒
3. Bersediakah setelah menikah tinggal dekat dan atau bersama orang tua saya?
Kalo pertanyaan ini dijawab “nggak”, lo mau apa, hayo? Langsung gajadi nikah? Cari yang lain? Kalo nanti pencarian ke-sekian ratus tetep ngga ada yang mau, gimana, hayo? Atau kalo misalnya dia jawab bersedia, tapi pas udah nikah misuh-misuh mulu dan akhirnya minta tinggal berjauhan, gimana, hayo? Atau kalo dia juga mau tinggal dekat sama orang tuanya gimana? Coba pikirin ini aja dulu.
Apalagi kalo orangtua lo karakternya emang nyebelin, suka ikut campur, rese, banyak mau, sewenang-wenang, yang bahkan lo aja geregetan mulu tiap ngadepin mereka. Pasangan lo mau lo suruh ngadepin juga?
Kompromi tuh bisa, lho. Jangan sampe jadi egois dan maksain kehendak.
4. Orang tua berbeda ormas, bagaimana?
Ini mah tanyain ke orang tua masing-masing lah. Kenapa jadi nanyain ke pasangan.
Gue punya kenalan yang menikah beda ras dan budaya aja bodo amat tuh, karena orang tuanya bodo amat. Jadi kalo tujuan pertanyaannya ke arah restu, ya yang ditanya orang tuanya.
5. Sex life. Banyak sekali kasus tiba-tiba suami didiagnosis HIV positif kemudian yang terkena imbas adalah keluarga.
Kalo kaitannya ke diagnosis, YA PERIKSA, JAENAB. Mana bisa ditanya.
Bisa aja dia sendiri gatau dia menderita sakit apa.
Yang lebih penting diobrolin kalo soal kehidupan seksual ya mendingan preferensi seksual, orientasi seksual (lho siapa tau ternyata pasangan lo homoseks tapi takut mau ngaku biar diterima khalayak), yah kalo udah ada prior experience bisa diobrolin posisi favorit juga kan. Lebih penting ini.
Oh atau kalo mau nanya (terutama kalo lo cewek), mending tanya,
Menurut kamu, perkosaan bisa terjadi dalam pernikahan ngga, mz?
Kalo dia keukeuh jawab ngga, kewajiban istri adalah melayani!!! Nah bayangin deh lo kira-kira nanti pas udah nikah, lagi nifas abis jait sepuluh jahitan di vagina terus laki lo ngajak eue dan lo nggaboleh nolak.
Mau?
6. Saya ingin bekerja walaupun sudah menikah. Bagaimana? Boleh?
Gue agak ngga setuju dengan penambahan kata “boleh” dalam pertanyaan ini. Kenapa jadi harus minta persetujuan? Tapi yaudah, gue paham ini sistem dan budaya aja.
Kompromi. Lagi-lagi, kompromi. Bukan perkara boleh gaboleh. Ini harusnya jadi diskusi biar nemu solusi. Bukan tanya jawab tettutup dengan yes/no answers.
7. Uang yang kamu dapatkan dari mana saja? Uangnya mengalir ke mana saja?
……
Gue nggasuka banget pertanyaan ini. Okelah kalo intinya nanyain sumber penghasilan dalam hal pekerjaan. Tapi mengalir kemana saja? LAH SUKA-SUKA GUE DONG???
Diskusinya bukannya mendingan gimana kalian akan mengelola keuangan setelah berumah tangga? Bukan sebelumnya? Kalo sebelumnya gue pake bayar nonton DWP terus lo mau apa, hm? Lah duit-duit gue, suka-suka gue lah.
Kalo urusannya biar halal dan berkah, sekalian aja tuh tanyain bos lu, duit buat ngegaji lo asalnya darimana, mengalirnya darimana. Jangan nanggung-nanggung kalo mau preventif.
Udahlah, jangan ribet-ribet mikirin hal-hal trivial begitu. Mending diskusi baik-baik soal strategi kalian nanti mengatur keuangan rumah tangga gimana. Kira-kira mau mengalokasikan dana buat A buat B buat C mau gimana nih? Berapa persen dari gaji lo, dari gaji gue, dari usaha bersama? Gitu-gitulah intinya.
Jangan sampe ntar udah nikah, perkara beli printilan game android aja pasangan lo harus ngumpet-ngumpet karena takut lo tanyain mulu.
8. Jika saya ternyata tidak kunjung memberikan keturunan, apakah akan menikah lagi atau akan bersabar?
‘oh tidak, sayang, tentu saja aku akan selalu setia padamu ~~’
Percaya lo sama bacot begituan? Hadeeeh. Ini mana bisa ditanyain, malih. Kecuali lo pake surat perjanjian tertulis berkekuatan hukum disaksikan notaris, dengan poin “JIKA TIDAK KUNJUNG PUNYA KETURUNAN, MAKA KAMI AKAN…”
Kalo kaga, ya ngga ada jaminannya dia akan sabar atau ngga. Orang baru tau dia sabar apa kaga ya setelah mengalami. Kecuali lo nikah sama janda atau duda yang udah punya prior experience sebelumnya
Beb, ada yang namanya pre marital check up. Mahal, memang, tapi semua bisa dicek mulai dari riwayat penyakit sampe ke kondisi ovum dan sel sperma kalian. Jadi nggausah tipu-tipu bacot lagi. Biarkan data yang bicara.
Kalo abis itu salah satu diantara kalian ada yang hasilnya ngga bagus, nah, ngobrol dah tuh, mau ngapain kira-kira, jadi nikah kaga nih.
9. Pernah HS (having sex) atau tidak?
Ini juga mudah banget boongnya, ampun dah. Ngapain sih nanya-nanya hal-hal yang rentan banget dimanipulasi jawabannya. Percaya banget semua manusia itu bisa jujur? Jangan naif-naif amat lah.
Lebih penting lo cek ke dokter untuk riwayat kesehatan reproduksi aja, udah.
Eh tapi boleh sih kalo lo cewek terus lo pengen nanya ke pasangan lo;
“menurut kamu, keperawanan itu apa?”
Kalo dia cuma bahas soal selaput dara, kasih tau aja ada orang lahir tanpa selaput dara.
Udah ah, mengenai ini gue gamau elaborasi lebih lanjut karena pasti akan terjadi perbedaan standar 👌 and that’s okay sih, silakan aja.
10. Gaji Pasangan. Ingin sekali menanyakan tetapi bingung memulainya.
Sama kayak poin bahas keuangan tadi. Bukan masalah nominal gajinya, tapi gimana rencana ngaturnya.
11. Apakah keluargamu memiliki utang? Apa saja janji-janjimu terhadap orang tuamu?
I dont know, tapi menurut gue ini nggaperlu. Janji dia sama orangtuanya ya urusan dia. Sebagai pasangannya kan lo kan ngga ikut-ikutan janji. Yang penting tadi itu, strategi manajemen keuangan keluarga sendiri aja. Kalo dia emang punya tanggungan yang lain, silakan sisihkan. Itu urusan dia. Kecuali dia minta bantuin lo buat mikirin, ya lo sumbang pikiran dan dukungan moral lah.
Iye gue tau pernikahan itu bukan cuma lo dan pasangan lo. Tapi lo dan pasangan lo bisa menentukan kan, sampe batas mana keluarga inti masing-masing kalian perbolehkan untuk intervensi kehidupan kalian. Jangan keblinger.
12. Jika saya memiliki prinsip menghindari utang riba tetapi kamu justru kerja di bagian pencari nasabah, lalu bagaimana?
Ini gue bingung sih. Kan yang punya prinsip elu. YA TANYA KE DIRI SENDIRI DONG, TUAN PUTERI.
13. Kesehatan. Minta tes kesehatan sebelum nikah terutama tes HIV.
Iya, lo juga tes ya. Semuanya. Nama paketnya pre marital check up. Inget. Ngga murah lho ini, jutaan.
Kalo lagi pandemi begini, sekalian lah sekeluarga di rapid test atau swab. Bantuin pemerintah mendata. Eak.
14. Utang atau tanggungan keluarga saya masih ada. Kamu siap menerima atau tidak?
Sama aja kayak poin utang-utangan tadi. Lo kalo punya tanggungan, ya urusan lo lah. Kenapa jadi ngebebanin orang baru dalam hidup lo yang gatau apa-apa. Mikir sana swdemikian rupa gimana caranya keuangan keluarga lo ngga keganggu sembari lo menyelesaikan urusan lo dengan penghasilan lo yang sekarang. Sewa financial planner kalo perlu Kenapa sih bisa ada ide bahwa pasangan tuh harus ikut menanggung -____-
15. Pola asuh anak. Apakah nanti akan terlibat dalam pengasuhan atau fokus bekerja? Seperti apa pola asuhnya?
Ini dinamis, kak. Akan berubah tergantung banyak faktor, termasuk karakter anak. Dan ngga semua orang udah mikirin ini dari sebelum nikah. Kalo tetep nanyain ini, yang ada pasangan lo yang clueless akan google senemunya aja. Pasangan lo bukan cenayang.
Contoh kasus, ada pasien yang pas anak pertama sayang banget apa-apa diturutin, pulang kerja cepet karna mau bantuin istri. Pas lahir anak kedua, mengalami kelainan genetik dan bekebutuhan khusus. Suaminya? Pergi pagi, pulang malem, marah-marah mulu.
16. Nanti kerjanya bagaimana? Apa masih berbeda kota juga? Karena saya juga berat melepas karir saya sekarang
Ya gausah dilepas kalo berat. Masa mentang-mentang lo berat ngelepas, terus pasangan lo jadi harus ngalah buat lo. Yeeeeu.
Lo kira ngurus pindah kerja gampang? Lo kira nyari kerjaan baru gampang?
Lo tanya diri lo sendiri, siap ngga kalo LDR? Siap ngga kalo lo yang disuruh pindah ke kota tempat dia bekerja? Siap ngga ngurus pindah-pindah atau nyari kerjaan baru? Siap ngga, kalo misal dia yang pindah ke kota yang sama dengan lo, tapi dia nganggur?
Coba, bedain mana hal-hal yang bisa lo ubah dan mana yang gabisa.
17. Siap dengan Mama saya yang selalu mengukur segalanya dari uang?
Gue tanya balik deh, emang ada yang siap?
18. Izin poligami karena kerja di luar kota. Saya jawab silakan tetapi bukan dengan saya.
Ini pernyataan, bukan pertanyaan. Skip.
19. Kenapa kamu mudah sekali berutang (uang) demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan?
Sekalian aja, mb, tanya; kenapa kamu mudah sekali menangis? Kenapa kamu mudah sekali buka lemari terus ngga ditutup lagi? Kenapa kamu mudah sekali kentut sembarangan? Dan hal-hal terkait watak serta kebiasaan lainnya.
Lo berharap dapat jawaban apa dari pertanyaan ini hm? Analisis psikologi perilaku?
Kalo dia mudah berutang tapi bisa bayar sendiri, for svck sake, let them be.
20. Jika saya ada masalah dengan Ibunya bagaimana cara dia mendamaikan kami?
Nih gue kasih tips:
Coba berantem dulu beneran (atau akting pura-pura juga boleh serah lo) sama ibunya. Liat apa yang dia lakukan.
–
Anjay. Tabah juga gue ya ngeladenin satu-satu begini. Heu.
Tapi yaudah, gue mah apa, nikah juga belum, pengen juga kaga sejauh ini, jadi gausah dengerin gue gapapa. Dengerin Kang Rubah aja.
Bye.
Wadaaw. Dari kemarin aku juga gatel pengen komentar, tapi males; malesan aku tuh.
Dan setelah membaca argumen Kang Rubah dan dr.Ami mari tepuk tangan👏 semua yang ada dalam isi kepalaku kali pertama membaca postingan ini terwakilkan dengan sempurna wkwkwkwk. Terima kasih banyak💯
10 Malam Terakhir Ramadhan
Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
. فان كان الشهر تسعا وعشرين فأول العشر الاواخر بلا شك ليلة عشرين منه، فهى إما ليلة عشرين، وإما ليلة اثنين وعشرين، وإما ليلة أربع وعشرين، واما ليلة ست وعشرين، واما ليلة ثمان وعشرين، لان هذه هي الاوتار من العشر الاواخر، وان كان الشهر ثلاثين فأول الشعر الاواخر بلا شك ليلة احدى وعشرين، فهى إما ليلة احدى وعشرين، واما ليلة ثلاث وعشرين، واما ليلة خمس وعشرين، واما ليلة سبع وعشرين، واما ليلة تسع وعشرين، لان هذه هي أوتار العشر بلاشك
"Apabila Bulan Ramadhan itu ada 29 hari, maka tidak diragukan lagi bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Apabila bulan Ramadhan itu 30 hari, maka tidak diragukan lagi bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.” (Al Muhalla 4/457, Darul Fikr, Beirut, syamilah).
Dan kita jangan sampai berkecil hati karena tidak bisa melaksanakan I'tikaf di masjid. Karena mendapatkan Lailatul Qadar tidak harus melakukan i'tikaf di masjid.
Bahkan sampai musafir dan wanita haid pun bisa mendapatkan malam lailatul qadar.
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 341)
Ibnu Rajab rahimahullah menasehatkan, “Wahai saudaraku, yang terpenting bagaimana membuat amalan itu diterima, bukan kita bergantung pada kerja keras kita. Yang jadi patokan adalah pada baiknya hati (lurusnya niat), bukan usaha keras badan. Betapa banyak orang yang begadang untuk shalat malam, namun tak mendapatkan rahmat. Bahkan mungkin orang yang tidur yang mendapatkan rahmat tersebut. Orang yang tertidur hatinya dalam keadaan hidup karena berdzikir pada Allah. Sedangkan orang yang begadang shalat malam, hatinya yang malah dalam keadaan fajir (berbuat maksiat pada Allah).”
Anugerah Allah itu begitu besar. Mari memperbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan, semoga kita mendapatkan anugerah malam Lailatul Qadar. Semoga kita semua mendapatkan kemuliaan di malam lailatul qadar tersebut. Aamiin Ya Rabb.
Referensi: Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy.
Sumber: http://islamqa.info/ar/93998 dan Rumaysho.com
Wallahu Waliyyut Taufiq.
How to own a good sleep?
Seek Your Inner Peace ICNBUYS Zen Garden
100 Perilaku Utama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam
Imam Shadiq berkata: “Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah”
1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.
2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.
4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya, tidak ada seorangpun yg mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.
8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.
11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.
12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.
15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yg tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.
20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.
21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.
23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
24. Senantiasa mengulang-ulang jawabannya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
25. Bila mendengar ucapan yg tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian.
26. Banyak bergaul dengan fakir miskin & makan bersama mereka.
27. Menerima undangan para abdi dan budak.
28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
29. Melakukan silaturrahmi lebih dari yang lain.
30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yg menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, “Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.”
33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.
34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.
36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.
37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.
38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
41. Selalu menjenguk orang yg sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yg sangat jauh.
42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yg manakah Rasulullah.
46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah. Beliau selalu mengatakan, “Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!”
53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada Rasulullah pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yg baik.
54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
56. Rasulullah sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
59. Saat gembira, Rasulullah memejamkan kedua matanya & tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
62. Rasulullah mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
65. Saat marah karena Allah, tidak seorangpun yg akan mengenalnya.
66. Rasulullah tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
67. Tidak ada sifat yg paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.
70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
71. Duduk & makan di atas tanah.
72. Tidur di atas tanah.
73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.
75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.
77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumnya pasti diberikan kepada fakir miskin.
79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Juma’t.
80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.
83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudhlu dan setiap mengambil wudhlu pasti menyikat giginya.
84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
93. Tidak pernah makan dua model makanan.
94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.
Semoga kita bisa meniru perilaku beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam.
Source: fanpage Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)
Kalender 2020 (Gratis)
Assalamu’alaykum. Khusus untuk kawan-kawan tumblr, akan kami bagikan gratis kalender 2020 dalam bentuk softcopy.
Link unduh, klik di sini. Dalam link tersebut terdapat softcopy kalender dalam berbagai versi, yaitu:
Versi Poster ( Bisa A3 / A4)
Versi cetak ukuran A4, untuk dibuat menjadi kalender duduk. Teman-teman bisa mencetak sendiri-sendiri. Kertas rekomendasi dari kami adalah Art Paper, Blush White, Ivory.
Bebas untuk diunduh dan dibagikan ke siapa saja asalkan tidak menghapus credit. DILARANG untuk diperjualbelikan.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Gathering Nasional Inspirator Indonesia. Gak kerasa sudah 2 tahun, kenal dan berkolaborasi dengan anak - anak muda hebat nun visioner ini. 2 tahun yang lalu membangun relasi, sekarang dan dimasa depan nanti kami akan memetiknya. Semarang, 3 Desember 2017
Memaknai Perjalanan
Terkadang kita lupa bagaimana perihnya perjuangan dan pengorbanan dalam mencapai sebuah titik, sampai kita dihadapkan lagi pada titik permasalahan lainnya.
Dari sini kita belajar, bahwa dalam setiap fase, kita takkan lepas dari berbagai persoalan; bagaimana menghadapi keadaan; bagaimana kita melanjutkan langkah; berani mengambil keputusan dan komitmen atas jalan yang kita pilih.
Kita tahu, bahwa jalan yang kita lalui nanti tidak selamanya mulus tanpa hambatan. Beberapa dari kita mungkin akan kaget, sebab ada banyak masalah baru yang tak terduga sebelumnya.
Namun, ada beberapa hal penting yang senantiasa kita pegang, yakni bagaimana kita tetap positif dalam menghadapi lika-liku kehidupan, menjadikan semangat juang kita tak pudar karena hantaman, menyemai keikhlasan dan syukur kita terhadap apa-apa yang digariskan oleh Tuhan.
Sidooarjo, 28 November 2019 | Pena Imaji